SHALAT DAN KEHIDUPAN

 

 

 

  1. PELAJARAN PENTING DARI SHALAT BERJAMAAH

 

 

Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, dengan selisih dua puluh tujuh derajat. Kalimat ini kerap kita dengar. Diulang-ulang dari mimbar ke mimbar oleh para dai atau mubalig. Saking seringnya, kadang anjuran untuk shalat berjamaah seperti angin lalu saja. Tak memiliki nilai yang istimewa.

Padahal, shalat berjamaah lebih dari sekadar urusan mana yang lebih besar pahalanya: shalat sendirian atau bersama-sama. Ia memuat hikmah dan pelajaran yang penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Perbandingan satu dan dua puluh tujuh yang diketengahkan oleh hadits justru memperkuat bahwa shalat berjamaah memuat “rahasia” yang spesial sehingga Allah begitu menganjurkannya.

Shalat berjamaah merupakan cerminan dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia harus berhubungan dan berintegrasi dengan manusia lainnya. Ia tak bisa hidup sendirian betapapun cakap, pintar dan kayanya orang itu. Kehidupan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Nah, shalat berjamaah bisa dikatakan sebuah miniatur hidup bermasyarakat. Di sana ada kumpulan orang (minimal dua orang), ada aturan yang harus ditaati, serta pesan-pesan yang dapat kita hayati bersama.

Setidaknya ada tiga pelajaran utama dari shalat berjamaah terkait kehidupan kita bermasyarakat. Pertama, kebersamaan, solidaritas, dan kesetaraan. Shalat berjamaah mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga persatuan, mencari titik temu, dan tidak mudah dipecah belah. Dalam tiap shalat berjamaah, sering kita dengar sang imam menyerukan tentang perlunya merapatkan dan meluruskan barisan sebelum shalat dimulai. Seruan ini merupakan bentuk pemantapan agar kita berdiri kokoh dan terfokus pada satu arah. Jika dalam shalat, arah itu adalah kiblat, maka dalam bermasyarakat arah itu adalah cita-cita yang menjadi kesepakatan bersama.

Islam sangat menekankan hubungan sosial, disamping hubungan kita kepada Allah subhanahu wata‘ala. Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata “Lâ islâma illâ bi jamâ’atin” (tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah). Dalam shalat jamaah, kita melihat dua kategori hubungan itu menyatu. Para jamaah secara langsung menghadap Allah, di saat yang bersamaan kegiatan tersebut dilakukan secara serentak, tidak sendirian.

Para jamaah juga berhubungan secara setara. Tak membeda-bedakan mana yang kaya atau miskin, dari suku A atau suku B, dari pejabat maupun rakyat jelata, dan lain sebagainya. Yang datang terlambat harus berada di shaf belakang, meskipun ia adalah petinggi negara, misalnya. Mereka pun melakukan gerakan, bacaan, dan niat yang sama. Begitu takbiratul ihram “Allahu akbar” dikumadangkan maka sejatinya itu adalah pengakuan bahwa yang paling agung dan besar hanya Allah. Semua selain Allah adalah kecil.

Yang perlu dicatat juga, shalat berjamaah bukanlah shalat dengan kerumunan orang-orang. Benar bahwa orang-orang berkumpul dalam satu waktu atau tempat tertentu, namun mereka diikat oleh aturan. Dalam bahasa fiqih, aturan itu disebut syarat wajib, syarat sah, dan rukun. Sehingga gerak, bacaan, dan niat pun dilakukan secara sistematis dan dalam satu komando imam. Kondisi inilah yang membedakan antara orang-orang yang shalat berjamaah dan orang-orang yang berkerumun di pasar.

Dengan demikian, kita sampai pada pelajaran penting yang kedua dari shalat berjamaah, yakni kepemimpinan. Ada imam tentu harus ada makmum. Dan kewajiban seorang makmum adalah mengikuti komando imam. Imam menjadi sentral dalam segenap proses dan gerak-gerik pelaksanaan sembahyang. Hal ini selaras dengan pernyataan Sayyidina Umar yang dibacakan tadi namun dengan redaksi yang lebih lengkap:

“Tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”

Karena imam harus diikuti, maka memilihnya pun tak boleh sembarangan. Dalam shalat berjamaah, Islam mendorong orang yang menjadi imam adalah mereka memiliki ilmu yang luas. Apabila tidak, sekurang-kurangnya mengerti aturan shalat berjamaah dan memiliki bacaan yang fasih. Imam juga harus mengerti kondisi jamaahnya. Tak boleh seenaknya. Rasulullah pernah melarang imam shalat membaca surat-surat terlalu panjang yang dapat mengganggu para jamaahnya.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Pemimpin yang dipilih haruslah mereka yang memiliki kompetensi yang memadai, punya kesetiaan terhadap konstitusi, mengayomi, dan pantas jadi panutan. Hidup bermasyarakat berbeda dari hidup sendiri-sendiri. Karena itu, dampak buruk maupun positif dari sebuah kepemimpinan pun akan dirasakan bersama-sama.

Meski kedudukan imam cukup sentral, namun dia bukanlah tujuan. Tujuan utama shalat berjamaah adalah Allah subhanahu wata‘ala. Sementara imam hanyalah wasilah (perantara) yang “menjadi sopir” bagi “perjalanan” shalat para makmumnya menuju Allah. Imam bisa saja lupa atau keliru, baik dalam gerakan maupun bacaan shalat, karena ia memang manusia biasa. Dan kewajiban makmum adalah mengingatkannya.

Dalam kepemimpinan pun kita kerap menjumpai pemimpin yang salah atau lalai dalam melihat dan cara mengatasi sebuah persoalan. Tugas dari rakyat adalah menegurnya. Dalam shalat jamaah, cara mengingatkan imam adalah dengan membaca tasbih “subhanallah” bagi makmum laki-laki atau menepuk tangan secara lembut bagi makmum perempuan. Mengucapkan “subhanallah” (maha suci Allah) adalah cara mengingatkan yang indah. Sang makmum seolah hendak mengatakan bahwa yang maha suci dan sempurna hanyalah Allah, sementara sang imam tidak. Inilah adalah bentuk kerendahatian. Mengingatkan dengan tanpa merasa paling suci dan benar sendiri. Demikian pula ketika kita menegur pemimpin, hendaknya dengan cara-cara yang elegan. Kritik itu penting, tapi tidak caci-maki. Koreksi sangat dibutuhkan, tapi hujatan dan kekerasan tidak. Segala bentuk pengingat pemimpin harus diiringi dengan sikap tawaduk, lembut, dan tidak menimbulkan kegaduhan yang tak perlu.

Pelajaran yang ketiga adalah kedamaian. Dari awal hingga akhir shalat mengharuskan adanya suasana yang tenang, khusyuk. Dalam shalat kita mengenal istilah tuma’ninah atau berhenti sejenak alias tenang, tak terburu-buru. Seluruh makmum, juga imam, menjaga betul, suasana damai ini mulai dari awal hingga akhir shalat. Yang menarik adalah shalat ditutup dengan salam yang berarti kedamaian.

Gerakan menengok ke kanan lalu ke kiri saat salam penutupan shalat menunjukkan bahwa manusia harus menebar kedamaian (salam) bagi sekitarnya. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah  berarti semoga kedamaian/keselamatan dan rahmat tercurah kepada kalian. Artinya, Islam mengajarkan tentang perlunya seorang Muslim menjamin orang-orang di sekelilingnya bisa hidup damai dan penuh kasih sayang (rahmat). Sekali lagi shalat lebih dari semata berhubungan secara vertikal, tapi juga berdampak positif secara horizontal: relasi hubungan sesama manusia, bahkan alam semesta. Sehingga benarlah kata Al-Qur’an:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al ‘Ankabut: 45)

Semoga pelajaran ini menjadi pengingat bagi kita semua dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat yang kompleks. Mudah-mudahan Allah limpahkan petunjuk sehingga kita bijak dalam menyikapi segala persoalan. Amiin.

 

 

 

  1. SHALAT SEBAGAI MINIATUR KEHIDUPAN

 

 

Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam jika umat Islam menjadikan shalat sebagai miniatur kehidupan.

 

Umat Islam hendaknya mengevaluasi diri masing-masing, sudahkah menjadikan shalat sebagai miniatur kehidupan sehari-hari, sehingga Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

 

Di dalam shalat berjama’ah, ada aplikasi yang harus diamalkan dalam kehidupan umat Islam sehari-hari.

 

Aplikasi dari shalat yakni adanya imam dan makmum, maka di luar shalat pun begitu, demikian Rasul mencontohkan kepada kita. Dulu Rasul sebagai Imam dan sahabat sebagai makmum, dilanjutkan Abu Bakar sebagai khalifah. Terus sampai selanjutnya tidak boleh ditinggalkan kehidupan berjamaah di luar shalat sebagaimana di dalam shalat.

 

Shalat berjama’ah yang diaplikasikan dalam kehidupan akan benar-benar mencegah umat Islam dari perbuatan keji dan munkar.

 

Shalat yang benar akan menjadikan kita pantas sebagai pembawa bendera Islam yang rahmatan lil alamin sehingga Insya Allah akan diberikan kepada kita kemampuan untuk mebebaskan Masjid Al-Aqsha.

 

Rasulullah, 14 abad yang lalu telah mengisyaratkan akan ada kaum yang lebih baik daripada para sahabat.

 

Seorang sahabat bernama Abu dzar bin Al-Jarroh bertanya kepada Rasulullah, adakah orang yang lebih baik daripada kami. Maka Rasul menjawab, kaum yang mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah berjumpa denganku, inilah yang dinamakan Ikhwannya Rasullah.

 

Namun untuk meraih gelar ikhwannya Rasullullah, umat Islam harus mempunyai kriteria yang baik, utamanya dari shalat yang baik.

 

Ciri umat Islam yang diberi gelar Ikhwan oleh Rasul adalah yang baik shalatnya, tidak lalai dan tidak riya dalam melaksanakan shalat. Mereka khusyu dan tumakninah dalam shalat, merapatkan shaff dalam shalat. Jangan dianggap remeh.aplikasi dari shalat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Inilah hakikat kita menjadi rahmat diawali dari shalat yang baik. Mari benahi shalat, jangan sampai kita mengaku ikhwan namun tidak ada kriteria ikhwan di dalam diri kita.

 

 

 

Sumber:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *