By. Ba

Hingar bingar nuasa pilpres di negeri ini semakin menjadi dan terdengar nyata. Pertarungan dua partai besar untuk menjadi penguasa Negara Indonesia kian memanas. Berbagai upaya; entah itu tebar janji hingga tebar pesona pun dilakukan untuk menarik dukungan rakyat demi memenangkan pemilu.

Begitu menggiurkankah untuk menjadi orang nomor satu di negara ini dengan konsekuensi seabrek tanggung jawab di dunia dan akhirat? Yah, begitulah kekuasaan.

Keindahan dan manisnya mampu membuat orang melakukan apa saja yang penting ia berkuasa dan menjabat. Tentu kita tidak berharap siapa pun yang berkuasa di negeri ini kelak menjadi penguasa-penguasa yang ibarat kacang lupa akan kulitnya. Karena manisnya kekuasaan dan jabatan, tentu kita tak ingi rakyat dipermainkan dan kesejahteraannya tidak diperjuangkan.

Karena kekuasaan dan berkuasa itu adalah syahwat yang melekat pada manusia, maka sulit bagi siapa pun untuk melepasnya. Padahal, kekuasaan bisa membuat orang lupa dengan janji-janjinya sebelum ia berkuasa.

Dalam Islam, hubbur riyasah (cinta kekuasaan) adalah salah satu syahwat yang sering menimpa manusia, dan itu adalah penyakit. Bagi orang yang terkena penyakit ini, kekuasaan, jabatan dan segala yang mengiringinya berupa popularitas dan ketenaran merupakan tujuan hidupnya.

Terkait dengan cinta kekuasaan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang diriwayatkan oleh Ka’ab bib Malik ra, “Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor domba tidak lebih parah kerusakannya bagi domba itu, bila dibandingkan ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya.”(dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan mengatakan, “hadits hasan shahih”).

Al-Hafidz Ibnu Rajab tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberitahukan bahwa ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan akan merusak agamanya, dan kerusakan itu tidak lebih kecil daripada kerusakan akibat keberingasan dua serigala terhadap seekor domba. Bisa jadi sepadan atau mungkin lebih besar.

Ini mengisyarat kan bahwa tidak akan selamat agama seseorang jika dia tamak terhadap harta dan kedudukan dunia, kecuali sangat sedikit (yang bisa selamat darinya). Sebagaimana pula halnya seekor domba tidak akan selamat dari keberingasan dua ekor serigala yang sedang lapar, kecuali sangat sedikit sekali.

Perumpamaan yang agung ini mengandung peringatan yang keras tentang keburukan sikap rakus terhadap harta dan kedudukan dunia, hingga beliau mengatakan, “Adapun tamaknya seseorang terhadap (kekuasaan) kedudukan maka itu lebih membinasakan daripada ketamakannya terhadap harta. Karena ambisi mencari kedudukan, kekuasaan dan kemuliaan dunia untuk mengungguli (merasa tinggi) di atas sekalian manusia lebih berbahaya bagi seseorang daripada ambisi terhadap harta. Menahan diri dari hal tersebut sangat lebih sulit, karena untuk mencari kedudukan dan kekuasaan biasanya seseorang rela mengorbankan harta yang amat banyak.” (Syarah hadits, ma dzi’baani jaai’aani hal 7,13 secara ringkas).

Al Imam Ibnu Rajab kemudian menyebutkan metode setiap orang dalam meraih kedudukan dunia. Ia mengatakan, “Tamak terhadap kemuliaan dunia ada dua macam; pertama, mencari kemuliaan dunia dengan kekuasaan (power), dan harta. Semua ini sangat berbahaya karena pada umumnya akan menghalangi pelakunya untuk mendapatkan kebaikan dan kemuliaan di akhirat. Allah SWT berfirman, artinya, “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. 28: 83).

Hingga beliau mengatakan, “Di antara bentuk syahwat kekuasaan dunia yang jelas bahayanya adalah berupa tamak terhadap pemerintahan (yakni tamak ingin menjadi penguasa, red). Ini merupakan masalah yang sangat pelik yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang berilmu, mengenal Allah SWT dan mencintai-Nya.

Perlu diketahuai bahwa cinta kemuliaan dengan cara tamak terhadap kekuasaan agar dapat memerintah dan melarang serta mengatur urusan manusia, jika hanya dimaksudkan semata-mata untuk tujuan memperoleh kekuasaan yang tinggi di atas sekalian manusia, merasa lebih besar daripada mereka dan agar orang terlihat membutuhkan dirinya, selalu merendah kepadanya serta menghinakan diri ketika ada hajat dan kebutuhan terhadapnya, maka bentuk seperti ini telah mengusik rububiyah dan uluhiyah Allah .

Kedua, mencari kemuliaan dunia dan kekuasaan dengan hal-hal yang terkait dengan agama, seperti ilmu, amal ibadah dan kezuhudan. Ini lebih buruk dari yang pertama serta lebih besar bahaya dan kerusakannya. Karena ilmu, amal dan semisalnya hanyalah untuk mencari derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi di sisi Allah SWT, juga untuk bertaqarrub dan mendekatkan diri kepada-Nya. (Syarh hadits ma dzi’baani jaai’aani, hal 7, 13 secara ringkas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *