By. Ba

Alhamdulillah, kata itulah yang pantas terucap dari lisan ini ketika Allah SWT berkenan mempertemukan kaum muslimin dengan bulan suci Ramadhan yang penuh kemuliaan dan limpahan rahmat-Nya. Rasa syukur itu menjadi sarana terbaik untuk menjalankan perintah-Nya dengan segenap ruh dan raga. Menjalankan shaum Ramadhan dengan semangat untuk mentaati-Nya meraih ridha dan surga-Nya.

Bersyukur karena kita diberi satu kesempatan untuk meraih berjuta berkah dan kebaikan di bulan nan mulia ini. Bersyukur karena dipertemukan dengan bulan berjuta kasih sayang dari Allah SWT. Bersyukur karena bulan yang suci ini bisa menjadi wasilah (sarana) untuk mengikis segala penyakit hati dan menggantinya dengan akhlak-akhlak mulia.

Pada bulan suci Ramadhan ini, setiap orang yang berpuasa sebenarnya memperlemah kekuatan tubuhnya secara fisik. Tanpa makan minum, menahan hasrat seperti marah, hasad, iri, dengki, dan kebencian agar tetap taat di jalan Allah SWT sesuai dengan aturan-Nya. Semua sifat buruk yang mampu mengeraskan hati itu menjadi lemah dan berkurang. Itulah sebabnya orang-orang yang berpuasa lebih mudah mengendalikan sifat-sifat tercela itu dan menurunkannnya sampai titik terendah sehingga hatinya menjadi lembut. Dengan berpuasa itulah seorang Muslim mampu memperoleh kelembutan hati.

Orang yang berpuasa secara zahir, tubuhnya semakin lemah, keinginan-keinginan syahwat pun melemah. Ketika seorang Muslim berpuasa karena mengharap ridha Allah SWT semata, maka lintasan-lintasan pikiran buruk dan prilaku tercela akan berkurang. Karena itu, orang yang berpuasa menjadi tercerahkan baik pikiran maupu ruhiyahnya. Rasa gelisah pun menurun seiring kondisi fisik yang lebih bisa menikmati shaum.

Seorang Muslim yang menjalankan puasa Ramadhan sebenarnya telah menuju kembali ke ruh asalnya, ke sifat-sifat fitrah (suci) manusia yang sesungguhnya. Karena itu, jika orang ingin berubah menjadi “baik”, ia tidak perlu berkata, “Aku akan berusaha berubah!” Cukup ia puasa dan tidak perlu sulit-sulit untuk “mengatur”  perilaku menjadi “baik”. Puasa dengan sendiri akan merubah perilakunya menuju kebaikan.

Pada beberapa orang yang berpuasa, walau tubuh secara fisik melemah karena kurang asupan, mereka kadang masih sulit mengendalikan sifat-sifat mereka, khususnya sifat-sifat buruk. Jelas, pengurangan asupan makanan dan minum belum mampu melemahkan tubuh secara fisik untuk meredakan hasrat yang ternyata sangat kuat.

Orang yang puasa, harus bekerja ekstra, karena ia tidak hanya menahan makan, minum, dan hasrat seksual, tapi juga harus mulai melatih mengendalikan inderanya, antara lain mata, hidung, telinga, dan mulut. Bila ini dilakukan, biasanya hasrat marah dan hasrat seksual mulai tertekan dan dikendalikan.

Bila ia tidak mampu melakukannya, puasanya hanya memperoleh rasa haus dan lapar saja. Tapi, ini tentu lebih baik daripada kebanyakan orang yang berpuasa, ada pula yang hampir-hampir tidak pernah merasa lapar. Perut mereka tidak pernah merasakan perih karena lapar. Rasullulah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM pernah berkata bahwa rasa perih karena lapar dapat membuat hati menjadi lembut.

Puasa dan Kelembutan Hati

Puasa yang dijalankan dengan semangat mengharap ridha dan ampunan Allah SWT semata, tentu berpengaruh pada kelembutan hati. Karena ibadah puasa ini begitu agung dan mulia, sampai-sampai Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi, “Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa adalah perisai.” (Shahïh al-Bukhâri: 1904).

Pernahkah kita berfikiri apa maksud dengan ungkapan dalam hadits di atas yang mengatakan “puasa itu untuk-Ku”? Sementara belum pernah ditemukan ungkapan yang mengatakan “Shalat itu untuk-Ku” atau “Ibadah haji itu untuk-Ku”, atau “Ibadah zakat untuk-Ku”, atau kalimat-kalimat semisal yang menggambarkan keistimewaan ibadah tersebut dibanding ibadah lainnya. Namun tidak demikian halnya dengan puasa. Lantas, apa gerangan hikmah lembut yang tersembunyi di balik ungkapan luar biasa itu? Ada apa dengan puasa?

Ada beberapa jawaban yang diungkapkan oleh para ulama dalam menanggapi ungkapan yang mengatakan “Puasa itu untuk-Ku”. Setiap jawaban dari para ulama itu memiliki hikmah dan kelembutannya sendiri. Berikut adalah beberapa jawabannya antara lain sebagai berikut.

Pertamakarena puasa mengharuskan kemurnian hatiAl-Imam Badruddin al-Hanafi rahimahullah (wafat: 855-H) mengatakan, “Itu karena ibadah puasa merupakan amalan rahasia yang tidak disusupi oleh riyâ’.” (‘Umdatul Qâri Syarh Shahïh al-Bukhâri: 22/61).

Al-Imam Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah (wafat: 1421-H) menjelaskan, “Puasa adalah rahasia antara seorang insan dengan Rabb-nya. Seorang insan yang berpuasa, tidak diketahui apakah dia benar-benar berpuasa ataukah tidak, isi hatinya juga tidak diketahui (sangat gampang bagi dia untuk membatalkan puasa tanpa harus kehilangan anggapan di mata orang lain bahwa dia masih berpuasa-pent). Sehingga orang yang benar-benar berpuasa sudah pasti orang yang paling besar keikhlasan dan ketulusannya. Maka Allah pun mengistimewakannya dibanding ibadah-ibadah yang lain.” (lih. Syarh Riyâdh ash-Shâlihïn: 5/266-267).

Kedua, karena tuhan-tuhan lain yang dianggap Tuhan, tidak pernah diibadahi dengan puasa. Al-Imâm Badruddïn al-Hanafi rahimahullâh (wafat: 855-H) mengatakan, “Segenap ibadah sejatinya adalah hak Allah, lantas kenapa hanya puasa yang diistimewakan ungkapan penyandarannya untuk Allah? Jawabnya; karena tuhan-tuhan selain Allah tidak pernah diibadahi melalui ibadah puasa. Orang-orang kafir tidak pernah mengagungkan tuhan-tuhan mereka pada waktu-waktu tertentu dengan berpuasa.” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari: 22/61).

Ketiga, karena kelak di akhirat, pahala puasa tidak bisa diganggu gugat. Al-Imam Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya (penyandaran khusus ibadah puasa kepada Allah) adalah; karena kelak di hari pembalasan, saat seseorang memiliki dosa kezaliman terhadap orang lain, maka pahala-pahala yang dimiliki orang tersebut akan diambil dan diberikan kepada orang yang pernah ia zalimi di dunia, kecuali pahala puasa, ia tidak diambil sedikitpun juga karena ia diperuntukkan bagi Allâh ‘azza wa jalla semata, bukan untuk manusia. Makna yang demikian adalah makna yang bagus …” (lihat Syarh Riyâdh ash-Shalihin: 5/266-267).

Keempat, sebagai ungkapan betapa agungnya pahala puasa. Ungkapan Allah “Puasa itu untuk-Ku, Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya” adalah ungkapan yang menggambarkan betapa besarnya pahala puasa yang akan diberikan Allah kepada orang-orang yang berpuasa. Pahala puasa sejatinya adalah pahala sabar yang tidak ada batasnya.

Allah SWT telah berfirman, “Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahala untuk mereka tanpa batas.”(Qs. Az-Zumar: 10). Puasa laksana kanvas yang terlukis di atasnya segenap gambaran tentang kesabaran yang agung. Dengan berpuasa, seorang hamba telah membuktikan kesabarannya untuk menahan diri dari kecenderungan hawa nafsu pada hal-hal yang dihalalkan, terlebih lagi dari perkara yang diharamkan.

Al-Imam Badruddin al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Ada yang memberikan jawaban bahwasanya ungkapan tersebut (Puasa itu untuk-Ku, Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya…) adalah untuk menjelaskan betapa besar dan banyaknya pahala bagi orang yang berpuasa. Karena besarnya pemberian adalah bukti akan kebesaran yang memberi.” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari: 22/61).

Makna tersebut diperkuat oleh hadits Abu Hurairah ra berikut ini, “Setiap amalan anak Adam pahalanya digandakan. Satu kebaikan akan digandakan pahalanya 10 kali lipat sampai 700 kali lipat, kecuali puasa (pahalanya tidak berbatas-pent), ia adalah untuk-Ku semata, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran. Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan menahan diri dari makanannya karena Aku.” (Shahïh Muslim: 1151).

Ketika menjelaskan makna ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “Kecuali puasa, Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya”, al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali rh (wafat: 795-H) mengatakan, “(Ungkapan tersebut) menunjukkan bahwa tidak ada yang mengetahui berapa besar dilipatgandakannya pahala puasa kecuali hanya Allâh saja. Karena puasa adalah jenis sabar yang paling utama.” [Jâmi’ul ‘Ulūm wal Hikam: 2/316]

Kelima, karena puasa adalah momentum untuk mentadabburi kemaha sempurnaan sifat-Nya. Seluruh perbuatan Allah, kehendak dan syari’at-Nya, berikut segenap ciptaan-Nya, adalah cerminan dan manifestasi sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang Maha agung lagi Maha sempurna. Allah memuliakan orang-orang berilmu karena

Dia memiliki nama al-‘Alim yang Maha mengetahui. Allah menakdirkan tak satu pun hamba-Nya yang suci dari kesalahan, karena Dia adalah at-Tawwab yang Maha pemberi taubat dan al-‘Afuww yang Maha pemaaf. Allah menetapkan had dan jihad dalam syari’at-Nya, karena Dia adalah al-Mu-‘min yang Maha memberi keamanan. Surga adalah perwujudan sifat Rahmat-Nya, sebagaimana neraka adalah konsekuensi dari kesempurnaan sifat Adil-Nya.

Allah menyerukan hamba-hamba-Nya untuk bersabar karena kesabaran yang Maha sempurna adalah sifat-Nya. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mencintai orang-orang yang beriman, tidak lain karena sifat-Nya yang Mahapenyayang. Allah memerintahkan kita untuk menolong sesama karena Dia adalah an-Nâshir yang Mahapenolong.

Tidak makan, tidak minum, dan tidak membutuhkan pasangan, adalah di antara sifat-sifat Allah yang Maha sempurna. Puasa kembali mengingatkan setiap orang beriman akan Kemaha sempurnaan sifat-sifat Allah di atas. Hanya Dia yang memiliki sifat-sifat tersebut, maka hanya Dia pula yang layak untuk disembah dan diibadahi.

Ketika menjelaskan salah satu hikmah mengapa Allah mengkhususkan puasa dibanding ibadah yang lain, Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat: 597-H) mengatakan, “Bahwasanya makna hadits di atas (puasa itu untuk-Ku); ‘Ketidakbutuhan pada makan dan minum adalah sifat-Ku’. Maka orang yang berpuasa seakan-akan tengah bertaqarrub pada Allah dengan sesuatu yang menyerupai sifat-Nya (bukan hendak menyerupai sifat Allah, karena sudah dimaklumi tak ada satu pun yang menyamai-Nya).” (Kasyful Musykil min Hadïts ash-Shahïhain: 3/167). Wallahua’lam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *