By. Ba.

Tulisan singkat ini ditujukan terutama bagi kaum wanita Islam. Daripada sebagian wanita Islam masih ada yang senangnya ke mall, fashion dan ngegosip lebih baik persiapkan diri menjadi lebih sholehah lagi. Berikut ini adalah 9 sifat wanita idaman setiap lelaki muslim.

Pertama, gemar mencari ilmu agamanya

Sejatinya seorang wanita Islam (muslimah) senantiasa melengkapi dirinya dengan senantiasa menambah ilmu dan wawasan. Jangan buang waktu yang tersisa hanya untuk senda gurau, atau melakukan hal-hal unfaedah yang akan merugikan diri sendiri.

Belajarlah dari para shahabiyah (sahabat muslimah) di jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satunya adalah Bunda Aisyah radhiallahu ‘anha. Bliau adalah ummahatul mukminin, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiallahu ‘anha adalah rujukan para sahabat dalam mempelajari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selain menjadi seorang pendamping yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah, di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beberapa literatur mencatat, Aisyah termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab.

Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang Aisyah riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat saat mereka mendapatkan permasalahan, mereka datang dan merujuk kepada Aisyah.

Kedua, menutup aurat

Tentu saja wanita terbaik adalah mereka yang tidak memamerkan auratnya kepada orang yang haram melihatnya. Wanita yang terbaik adalah yang menutup auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al Ahzab: 59).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. An Nuur: 31).

Ketiga, jilbabnya syar’i

Busana yang dipakai seorang wanita Islam harus sesuai syariat dari al Qur’an dan as Sunnah. Syarat-syarat itu antara lain; pertama, pakaian atau busana itu harus menutup seluruh tubuhnya termasuk kaki kecuali wajah dan telapak tangan. Kedua, tidak memakai pakaian untuk berhias, apalagi untuk diumbar di depan khalayat. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (Qs. Al Ahzab : 33).

Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong timbulnya syahwat bagi kaum pria.”

Ketiga, wajib longgar, tidak ketat apalagi tipis yang bisa memperlihatkan bentuk lekuk tubuh. Keempat, tidak diberi minyak wangi. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Kelima, tidak menyerupai pakaian pria atau wanita kafir. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus.

Keempat, lebih betah tinggal di rumah

Ini akhir zaman, banyak wanita Islam yang senangnya keluar rumah. Apakah keluar rumah itu dilarang? Tentu saja tidak. Yang dimaksud wanita yang lebih betah tinggal di rumah adalah mereka yang tidak akan keluar rumah kecuali karena ada satu keperluan yang mendesak dan penting. Tentu saja, wanita yang baik dan sudah bersuami sebelum keluar rumah ia minta izin kepada suaminya. Lebih betah tinggal di rumah adalah salah satu teladan yang dimiliki para wanita salafus shalih.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas dengan mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.

Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain)?” Bliau menjawab, “Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah.Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan.”

Ibnul ‘Arabi bercerita, “Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan, tapi aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim AS dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-ma­­­­­­­­­sing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya.”

Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا”

Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya.” Ia juga berkata, “Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32: 281)

Kelima, wanita yang punya sifat malu

Sepantasnya seorang wanita Islam mempunyai rasa malu. Malu jika harus dipandang oleh lelaki ajnabi. Malu jika harus berpakaian mengumbar aurat. Malu jika bermaksiat kepada Allah. Malu ketika tidak taat pada suaminya. Dan malu keluar rumah tanpa ada urusan penting. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ

Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

Seorang wanita Islam sudah sepantasnya mempunyai rasa malu, layak seperti malunya dua wanita kakak beradik di jaman Nabi Musa AS. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (Qs. Qashash: 23-24). Kedua wanita itu, malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Bagaimana dengan wanita akhir zaman hari ini?

Dalam kesempatan lain, bahkan kedua wanita itu menunjukkan rasa malunya saat diminta ayahnya untuk memanggil Nabi Musa agar menghadap. Allah melanjutkan firman-Nya,

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (Qs. Al Qashash : 25)

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radiyallahu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘Alaihis Salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.

Keenam, taat dan menyenangkan hati suami

Sungguh betapa tentram hati seorang suami ketika mendapati istrinya taat saat diperintah (bukan untuk bermaksiat). Ia mampu membuat hati suaminya tenang, nyaman dan damai saat bersamanya. Dengan kata-katanya yang lemah lembut, dengan sentuhannya yang halus, dengan semumnya yang menggoda, sungguh semua itu adalah akhlak seorang istri yang bisa membuat hatinya senang dan meridhainya.

Ia tidak pernah sekalipun menolak perintah suaminya selama perintah itu adalah kebaikan. Ia senantiasa membuat suaminya bahagia sehingga terasa ringan beban berat yang dipikul suaminya selama ini. Ia juga selalu hadir di sisi suaminya, menemaninya saat senang maupun susah. Di hatinya terpatri kuat untuk selalu ada bagi suaminya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Al Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya,

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

Ketujuh, memelihara kehormatan, anak dan harta suami

Wajib bagi seorang wanita Islam menjaga kehormatan diri, suami dan anak-anaknya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (Qs. An Nisa’: 34).

Ath Thobari mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”

Kedelapan, bersyukur dengan pemberian suami

Cukuplah seorang istri dianggap telah kufur kepada suaminya bila ia tidak pernah bersyukur atas semua pemberian suami; sedikit atau banyak. Ridho atas banyak sedikit pemberian dari suami adalah bagian dari salah satu sifat wanita yang perlu diperjuangkan oleh para bujangan. Bersyukurlah bagi seorang pemuda yang bisa mempunyai pendamping yang selalu bersyukur atas segala pemberian suami seberapa besar kecilnya.

Suatu hari,  setelah selesai shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepadanya ketika shalat,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Camkan hadits di atas, hanya karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Seperti hujan setahun terhapus dengan kemarau sehari.

Kesembilan, berdandan dan berhias diri hanya spesial untuk suami

Aneh, dunia sudah terbalik. Sebagian wanita lebih senang tampil aduhai dan menggoda saat keluar rumah dan dihadapan lelaki lain (ajnabi). Namun, sayang seribu sayang, para wanita (istri) itu tampil sangat biasa dihadapan suaminya. Tak jarang, bau asap dapur masih menempel di tubuhnya. Bau pesing kencing bayinya pun tak sekali tercium dari bajunya. Lalu? Bagaimana suaminya akan semakin cinta dan sayang kepadanya bila cara ia memperlakukan dan menyambut suaminya tidak seperti saat ia tampil kondangan keluar rumah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Tulisan singkat ini bukan untuk menggurui siapapun melainkan sekedar mengajak setiap wanita Islam agar selalu menanamkan semangat terus belajar sehingga mempunyai bekal yang cukup dalam mengamalkan syariat Islam ini. Bagi para lelaki Islam, pilihlah calon istri dengan kriteria di atas agar hidup Anda bahagia dunia akhirat.

Bagi para suami, jika pasangan hidup Anda belum sesuai dengan Sembilan sifat di atas, maka tidak ada kata terlambat untuk mengajak istri Anda menjadi lebih baik lagi di mata Allah dan Rasul-Nya, wallahua’lam.(minanews.net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *