By. Ba

Salah satu tantangan sekaligus kekhawatiran besar bagi setiap orang tua jaman now adalah bagaimana mendidik anaknya agar terhindar dari efek negatif teknologi digital, tapi tetap bisa menyerap manfaat sisi positif dari era digital ini.

Bisa jadi, kesibukan orang tua di luar rumah membuatnya sulit untuk mengontrol interaksi anak dengan medsos yang bisa dengan mudahnya di akses lewat hand phone atau internet. Bila tak bijak menyikapi bagaimana interaksi medsos dengan anak, orang tua akan mengalami kesulitan dalam menanganinya.

Anak, sejatinya di masa-masa awal perkembangannya, sangat tergantung bagaimana perlakuan dan penanaman sikap dan sifat dari orang tua. Bila sejak awal orang tua mempunyai dan sudah menyiapkan blue print untuk anak-anaknya, maka tentu saja tidak sulit untuk mendidik dan mengarahkan anak sesuai yang diharapkan.

Bahkan, jauh-jauh hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyampaikan tentang anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab, “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”

Dalam hadis di atas sangat jelas betapa besarnya peran orang tua dalam ‘menentukan’ mau menjadi apa dan siapa kelak anak-anaknya. Begitu juga di era serba digital ini, setidaknya agar anak tidak terkena dampak negatif, maka ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh orang tua menurut Psikolog Elly Risman antara lain sebagai berikut.

Pertama, tanggung jawab penuh. Sosok ayah dalam mendidik anak tak kalah penting. Di era digital seperti sekarang ini, ayah dan ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama bertanggungjawab atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara utuh. Masih banyak orangtua muda masa kini yang melepaskan anak-anaknya secara total di tangan orang ketiga, entah mertua atau pembantu. Namun, jika hal ini terpaksa dilakukan, maka perlu dicek kembali bagaimana sejarah dari orang yang Anda rekrut untuk menjaga buah hati.

Ayah punya peran besar untuk membantu menentukan masa depan anak-anaknya. Jangan berfikir mendidik anak-anak hanya peran seorang ibu saja. Era digital, membuat anak membutuhkan figur seorang yang jauh lebih tegas dalam mendidik anak-anak dan menentukan mana hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Ayah dan ibu tentu saja harus bekerjasama agar anak sukses baik secara pribadi maupun sosialnya.

Kedua, kedekatan. Perlu adanya kedekatan antara ayah dan anak, juga ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit, melainkan jiwa ke jiwa. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering memeluk sang anak namun juga harus dekat secara emosional. Jika anak-anak tidak mempunyai kedekatan jiwa dengan ayah dan ibunya, maka anak akan tumbuh dengan jiwa yang hampa. Jiwa yang hampa tentu saja akan mudah dimasuki oleh segala yang negatif.

Ketiga, harus jelas tujuan pengasuhan. Tujuan pengasuhan jangan pernah dianggap sepele. Sejatinya, sejak  bayi dari dalam kandungan, tujuan pengasuhan itu sudah disepakati dan menjadi komitmen bersama antara ayah dan ibu. Mau dibawa dan ‘dijadikan’ apa anak-anaknya?

Orang tua harus merumuskan

“Dari riset yang saya lakukan untuk ibu 25-45 tahun, bekerja tak bekerja, ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah. Mereka tidak punya tujuan pengasuhan. Mereka tidak tahu anak ini mau di bawa ke mana?”

Elly menyarankan agar orangtua mulai merumuskan tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. Perlu membuat kesepakatan bersama suami, prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana cara pendekatannya.

4. Berbicara Baik-baik

Orangtua harus belajar berbicara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak.

“Menyalahkan, memerintah, mencap, membandingkan, komunikasi seperti ini akan membuat anak merasa tak berharga, tak terbiasa memilih dan tak bisa mengambil keputusan.”

5. Mengajarkan Agama

Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur’an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu.

“Jangan kosong dan lalu dimasukkan ke sekolah agama. Tidak ada dasarnya jika begitu. Bisa dan suka itu berbeda. Bisa hanya sekadar melakukan, tapi jika suka, ada atau tidak ada orangtua dia akan tetap baik,” tuturnya.

6. Persiapkan Anak Masuk Pubertas

Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks dengan anak dan cenderung menghindarinya. Menurut Elly, pembicaraan justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya.

“Kalau sudah keluar air mani, sudah menstruasi, itu artinya mereka sudah aktif secara seksual dan sudah telat untuk menanamkan tentang pemahaman seks. Ya jadi suka-sukanya anak, dia bebas melakukan berbagai macam hal,” tambah Elly.

7. Persiapkan Anak Masuk Era Digital

Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan.

“Ajarkan mereka untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan. Karena jika otakmu rusak, kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Jika kita tidak membicarakan, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap.” tuturnya.

Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget. Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah. Hal-hal di sekolah seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal berat untuknya. Oleh karena itu, Elly menyarankan untuk berkomunikasi tentang perasaannya. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan dengan mudah bercerita pada Anda tiap kali ia merasakan sesuatu.

“Ketika anak dibatasi dia pegang gadget, orangtua perlu beri alternatif lain. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di rumah. Contohnya ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang disukai anak,” pungkas Elly.

Ada hal-hal pokok yang harus ditanamkan pada anak. Yang pertama adalah bersyukur kepada Allah. Syukur yang dimaksud di sini adalah atas segala hal yang terjadi pada diri kita, balasan dari Allah atas apa yg kita upayakan

Kedua adalah bersyukur terhadap diri sendiri. Atas apa yang Allah anugerahkan kepada kita sejak lahir.  Dlm poin ini, orangtua & anak harus dapat menerima dirinya sendiri, bahwa Allah telah menciptakan manusia dlm sebaik-baik bentuk.

Kemudian yg ketiga adalah menanamkan tauhid. Di sini bukan semata tidak mempersekutukan Allah secara gamblang. Kurangilah pujian thdp anak utk menghindarkannya dari kesombongan. Tanamkanlah bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.

Poin keempat adlh menanamkan berbuat baik kepada ibu-bapak. Bukan krn orangtua telah berjasa kpd kita, tapi karena konsekuensi iman.  Tidak jarang kita lihat saat ini banyak anak-anak yg diasuh oleh baby sitter atau sejenisnya shg kedekatan dengan ortunya berkurang. Pemahaman ini harus diluruskan, meski orangtua belum berislam sekali pun, kita harus tetap berbakti kpdnya krn itu adalah konsekuensi keimanan.

Dan poin terakhir adalah merasa diawasi Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *