By. Ba 

Sifat jahiliyah merupakan sikap yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sifat ini tentu sudah ada sejak awal islam di amalkan. Sifat tercela itu tidak hanya menimpa orang awam tapi juga bisa menimpa orang yang secara pemahaman agama dianggap sudah baik dan bagus.

Jangankan kita umat akhir jaman yang awam, pada jaman Rasulullah SAW masih hidup saja sifat jahiliyah masih sering menghinggapi para sahabat. Seperti peristiwa yang menimpa sahabat Abu Dzar al Ghifari. Saat itu dia mengejek Bilal bin Rabah dengan mengatakan “Wahai anak budak hitam.”

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW marah dan mengatakan bahwa dalam diri Abu Dzar masih tersimpan sifat jahiliyah. Melihat Rasulullah SAW tak senang pada prilakunya yang merendahkan Bilal, maka dengan segera ia tersadar lalu memohon maaf pada Bilal dengan cara menempelkan pipinya ke tanah dan minta diinjak oleh Bilal.

“Wahai Bilal, injaklah pipiku sebagai bukti permohonan maafku padamu karena telah mengatakan hal buruk tadi.”

Apa yang terjadi, Bilal seorang sahabat mulia tak mau membalas apa yang sudah dilakukan oleh Abu Dzar kepadanya. Dia lebih memilih untuk memaafkan kesalahan saudaranya sesama muslim.

Itu hanya satu contoh dari sekian banyak contoh kejahiliyahan yang terkadang masih ‘dipelihara’ dalam jiwa seorang muslim.

Bisa jadi, kita mungkin sudah merasa mengamalkan semua syariat Allah dan Rasul-Nya. Bisa jadi kita adalah orang-orang yang ahli ibadah dan penegak sunnah. Namun, bukan tidak mungkin dalam diri kita ada benih-benih kejahiliyahan yang suatu waktu bisa keluar.

Jadi, jangan pernah merasa sudah menjadi orang baik sebelum melakukan muhasabah. Hisablah diri, jangan-jangan keshalehan yang kita bangun dan terpancar keluar masih diselubungi sifat jahiliyah yang bisa menghancurkan segala amal baik.

Di antara sekian banyak sifat jahiliyah yang dibenci oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam antara lain sebagai berikut.

Pertama. Berdoa kepada orang shalih di antara mereka. Yaitu mereka beribadah dengan menyertakan orang shalih di antara mereka ketika memohon dan beribadah kepada Allah SWT. Mereka mengira hal itu untuk mengagungkan orang shalih yang dicintai Allah SWT dan mengharap syafa’at mereka di sisi Allah. Allah Taala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Qs. Yuunus: 18)

Ini adalah masalah yang sangat dibenci dan dilarang oleh Rasulullah SAW. Beliau menyuruh untuk ikhlas dalam beribadah dan beramal, karena hal itu menjadi syarat diterimanya ibadah.

Kedua. Perpecahan. Orang-orang jahiliyah lebih senang berpecah belah dan menganggap ketaatan sebagai sesuatu yang rendah, maka Allah SWT menyuruh mereka bersatu dan melarang berpecah belah dengan firman-Nya Qs. Ali Imran: 102-103,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Agar umat Islam tidak terpecah belah, maka Allah dan Nabi-Nya memerintahkan hidup berjama’ah di bawah pimpinan seorang Imam (Khalifah).

Ketiga. Menyalahi pemimpin di antara mereka

Menyalahi perintah dan tidak melaksanakan ketaatan kepada para pemimpin merupakan tindakan yang mulia bagi orang yang mengagungkan dan mengangkat panji-panji jahiliyah. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mentaati dan menasihati pemimpin di antara mereka.

Keempat. Taklid

Kaidah dasar ideologi orang-orang kafir dibangun di atas dasar taqlid. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya? Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (QS. az-Zukhruf: 23-24) juga firman Allah QS.al-A’raf: 3 dan QS. al-Baqarah: 170.

Kelima. Mengikuti ulama fasik dan ahli ibadah yang jahil

Mengikuti jejak kefasikan orang alim dan ahli ibadah yang bodoh sangat dilarang Allah SWT. Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Maidah: 77)

Keenam. Berhujah dengan ajaran nenek moyang tanpa adanya dalil yang benar

Berdalil dengan apa yang diikuti nenek moyang tanpa hikmah dan dalil yang benar adalah batil dan dibenci Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana kisah perdebatan antara Musa dengan Fir’aun QS. Thaahaa: 49-54, QS. Al-Qashash: 36-37. Allah meneragkan penolakan kaum Nabi Nuh terhadap apa yang diserukannya, QS. Al-Mukminun: 23.

Orang-orang kafir Jahiliyah tidak menerima seruan Rasulullah SAW. dengan dalih tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang mereka dan tidak pernah mengetahuinya. Ini menunjukkan kebodohan mereka. Kalau mereka mau menggunakan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar niscaya mereka akan mengetahui hakikat kebenaran dengan dalil yang benar.

Ketujuh. Kebatilan diukur dengan sedikitnya pendukung

Pendapat atau kaidah ini ditentang oleh Allah SWT dengan firman-Nya yang artinya, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am: 116-117)

Orang yang keluar dari kebenaran tidak boleh diikuti oleh orang yang mempunyai mata hati. Kebenaran lebih berhak diikuti walaupun pendukungnya sedikit. Allah memberitahukan bahwa pengikut kebenaran sangat sedikit, tetapi jumlah yang sedikit itu tidak menjadikan mereka berkecil hati.

Kedelapan. Suatu dianggap batil karena terasa aneh

Ini termasuk perbuatan jahiliyah yang batil.Siksa dan kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu yang disebabkan kekufuran dan maksiat yang telah mereka perbuat, tidak ada yang diselamatkan oleh Allah kecuali hanya sedikit saja.Hal ini menunjukkan kebatilan keyakinan jahiliyah ini. (QS. Huud: 116).

Kesembilan. Tertipu dengan kekuatan yang dimiliki

Persepsi suatu kaum terdahulu bahwa diri mereka terlepas dari kesesatan karena diberi karunia kekuatan, kekuasaan dan kecerdasan yang brilian telah Allah batalkan dengan menghancurkan mereka.

Seharusnya mereka menggunakan karunia itu untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta mensyukuri seluruh nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka. Tetapi, mereka tidak mempergunakan pendengaran, penglihatan dan hati mereka untuk mendengarkan, melihat, memikirkan dan merenungi wahyu Allah, peringatan rasul-rasul-Nya maupun ayat-ayat kauniyah-Nya, sehingga semua itu tidak berguna bagi mereka. Mereka tidak mengenal Allah dan bahkan mengingkari ayat-ayat-Nya sehingga mereka mendapatkan adzab yang pedih.

Siapa menolak kebenaran dengan alasan kehidupannya yang lebih baik, maka ia telah melangkahkan kakinya memasuki pintu jahiliyah. Allah berfirman: “Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. al-Baqarah: 89)

Kesepuluh. Tertipu dengan harta yang banyak

Salah satu perbuatan jahiliyah adalah mereka membanggakan harta kekayaan dan menganggap dirinya lebih dicintai Allah. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan-pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk me-nyampaikannya”. Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga).” (QS. Saba’: 34-37)

Kecintaan dan keridlaan Allah akan tercapai dengan ketaatan dan patuh kepada Rasul-Nya serta beriman kepada bukti-bukti yang dibawanya.

Adapun kehidupan yang bergelimang harta, rizki yang lapang serta kahidupan yang mewah, bukan suatu bukti orang itu akan selamat. Kalau orang yang banyak bermaksiat mengetahui bahwa nilai dunia berserta isinya sama seperti sayap seekor nyamuk, maka mereka tidak akan merasa nikmat ketika meminum seteguk air. (QS. az-Zukruf: 33).

Para pengikut jahiliyah mengklaim bahwa mereka berada dalam kebenaran, karena diberi karunia dan kemewahan dunia.Pendapat ini jauh dari kebenaran dan orang yang berakal seharusnya tidak terbius dengannya, wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *