By. Ba.

Jangankan di sayang oleh Allah, Rabb yang maha menciptakan segala sesuatu di jagad raya ini, disayangi oleh orang yang kita cintai saja rasanya sangat bahagia. Lalu bagaimana jika Allah Ta’ala yang menciptakan diri ini yang menyayangi kita? Allahuakbar…masya Allah, sungguh berbahagialah setiap hamba yang mendapatkan kasih sayang Allah. Sebab tidak ada rasa sayang melebihi sayangnya Allah, Sang Pencipta kepada seorang hamba muslim.

Terkadang, kita sebagai manusia tempat salah dan dosa, seringkali salah kaprah dalam menafsirkan wujud sayang Allah itu. Jika Allah sayang kepada hamba-Nya, maka tak selamanya dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan di dunia. Atau Allah selalu mengabulkan setiap yang kita panjatkan kepada-Nya. Tidak. Allah tidak selamanya mewujudkan rasa sayang kepada hamba-Nya dengan hal-hal yang diinginkan hamba itu. Bisa jadi malah sebaliknya, Allah uji hamba itu padahal ia adalah orang yang taat dalam ibadah.

Ketahuilah, meskipun seorang hamba sedang diuji oleh Allah berupa kepahitan dalam hidupnya, maka hindari berburuk sangka kepada Allah. Sebab segala sesuatu yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya, maka sejatinya itulah yang terbaik bagi hamba itu jika ia tidak mengedepankan prasangka yang buruk kepada Allah.

Dalam tulisan kali ini, setidaknya akan diulas beberapa bentuk nyata kasih sayang Allah kepada setiap hamba-Nya. Berikut penjelasannya berdasar al Quran dan as Sunnah.

Pertama, memberikan cobaan, ujian dan musibah

Jangan salah menduga saat Anda mengalami ujian berupa musibah, sakit berkepanjangan. Belajarlah untuk selalu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Sebab ujian berupa musibah yang Dia berikan sebenarnya bentuk dari kasih dan sayang-Nya kepada Anda.

Jika seorang muslim bisa lolos dan lulus dari ujian yang ia terima, maka Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya, memudahkan segala urusannya, dan senantiasa membantunya dalam semua urusan.

Setidaknya ada dua hadits yang menguatkan betapa salah satu tanda sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dengan memberinya ujian dalam hidup., Dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

Juga dari hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

Jadi, jangan sejatinya seorang muslim menahan diri untuk tidak mengedepankan prasangka buruk kepada Allah Ta’ala saat diuji dengan musibah dan lain sebagainya. Cobalah merenung dan pelajari kembali betapa jika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan memberikannya ujian.

Kedua, terjaga dari kehidupan di dunia

Sunnatullah, semua kehidupan dunia ini adalah ujian dari Allah Ta’ala. Karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, maka tidak mungkin Allah membiarkan hamba-Nya terjerumus dalam kemaksiatan. Allah Ta’ala akan selalu memberi rasa tenang dan nyaman dalam hati orang beriman.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menjaga hamba-Nya yang beriman dan Dia mencintainya seperti kalian menjaga makanan dan minuman orang sakit (di antara) kalian, karena kalian takut pada (kematian)nya.” (HR. Al Hakim, Ibnu Abi ’Ashim dan Al Baihaqi)

Begitulah besarnya rasa kasih sayang Allah kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Sejatinya, orang beriman pun sadar tentang betapa besarnya rasa cinta dan kasih sayang Allah kepadanya. Bukan malah sebaliknya justru memaksiati-Nya.

Ketiga, adanya kesholehan

Sangat jelas, orang-orang yang sholeh adalah salah satu hamba yang disayangi Allah Ta’ala. Kesholehan adalah nikmat terindah yang tidak pernah ada bandingannya walau dibandingkan dengan dunia beserta isinya.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran) beragama, kecuali kepada yang Dia cintai. Maka barang siapa diberikan (kesadaran) beragama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh–Nya.” (HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)

Keempat, mampu memahami syariat

Orang yang dengan mudah memahami hukum-hukum Islam lalu dimudahkan pula untuk mengamalkannya, adalah orang-orang yang sebenarnya dicintai oleh Allah Ta’ala. Allah tanamkan pemahaman ilmu dinul Islam ini kepadanya setahap demi setahap. Allah akan menuntun setiap langkahnya menuju kebaikan.

Orang yang disayang oleh Allah adalah salah satunya akan dimudahkan memahami ilmu syariat (agama). Dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus tentang al Quran dan hadits didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami al Quran dan hadits dengan benar.

Kelima, diberi-Nya sifat kelembutan

Sifat dan sikap lembut yang melekat pada seorang hamba, merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah menjaganya dengan kelemah lembutannya dalam setiap pembicaraannya, prilakunya kepada orang lain. Sehingga banyak orang yang merasa nyaman dan senang kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya.” (HR. Abu Dawud, sanad: shahih).

Hadits ini menjelaskan bahwa kelembutan akan menjadi penghias bagi sesuatu, sedangkan hilangnya kelembutan membuat suatu perkara menjadi tidak lagi indah. Dan di antara perkara yang membutuhkan kelembuatan adalah dakwah.

Dalam sabdanya yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan At Tarmidzi)

Keenam, mudah melaksanakan perintah–Nya

Di antara tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang lain adalah Allah mudahkan bagi hamba-Nya untuk menaati segala perintah-Nya dengan melaksanakan segala yang diperintahkan, dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Allah jadikan hatinya penuh dengan ketenangan, meski bisa jadi masalah yang dihadapinya sangat banyak. Hatinya tenang dalam melaksanakan ibadah. Ia tidak pernah grusah grusuh dalam mengambil keputusan dan bisa menerima setiap masukan berupa nasehat yang baik demi perbaikan.

Hatinya tenang karena senantiasa berzikir kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman,

ألا بذكر الله تطمئن القلوب

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du: 28)

Ketujuh, sulit melakukan kemaksiatan

Sulit melakukan kemaksiatan, artinya merasa sangat takut ketika harus melanggar perintah Allah Ta’ala adalah salah satu tanda dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ia tahu, sekali melakukan dosa, maka baginya adalah noda hitam yang sudah ia menorehkan keburukan dalam lembaran imannya.

Karena itu, dia tidak mudah melakukan kemaksiatan. Sebab ia sadar, Allah selalu memantaunya. Ada malaikat-malaikat mulia yang setiap waktu akan mencatat segala amal baik dan buruknya. Bahkan, ia menyadari sekali jika Allah selalu bersamanya dimanapun ia berada.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (Qs. Al-Hadiid : 4). Lalu bagaimana mungkin baginya berani berbuat maksiat sementara Allah Ta’ala selalu bersamanya, memantaunya setiap saat.

Kedelapan, diberikan husnul khatimah

Tanda lain kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah diakhirkannya hidup seorang hamba itu dalam keadaan husnul khatimah (akhir kematian yang baik). Setiap mukmin, pasti merindukan akhir kehidupannya dalam keadaan yang baik, dan diridhai Allah Ta’ala.

Sejatinya, perjuangan seorang hamba adalah saat ia kembali kepada Allah kelak dalam keadaan akhir kematian yang baik, bukan sebaliknya suul khatimah (akhir kematian yang buruk). Untuk bisa meraih akhir kematian yang baik itu, seorang muslim harus senantiasa mengamalkan segala kebaikan sedini mungkin.

Dalil yang menunjukan makna ini, yaitu hadits shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ. رَواه الإمام أحمـد والترمذي وصحح الحاكم في المستدرك.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah memanfaatkannya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?” Rasulullah menjawab, “Allah akan memberinya taufiq untuk beramal sholeh sebelum dia meninggal.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak).

Kesembilan, diberikan kesabaran

Menjalani kehidupan dengan menegakkan ketaatan kepada Allah Ta’ala tidak mungkin bisa dilakukan jika tidak dengan kesabaran. Kesabaran adalah modal utama yang harus dimiliki setiap muslim untuk menjalani kehidupan ini dengan tetap berpegang teguh kepada syariat-Nya.

Kesabaran itu tidak mungkin dimiliki seseorang kecuali atas ketetapan Allah Ta’ala kepadanya. Allah Maha Mengetahui untuk bisa menunaikan semua kewajibannya, maka seorang hamba harus bermodalkan sabar. Hanya orang-orang yang sabar saja kelak akan mendapatkan kesudahan yang baik, dunia akhirat.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang  yang sabar ini sebagai berikut,

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Qs. Ar Ra’d : 2)

Kesepuluh, didatangkan orang–orang sholeh (baik) kepadanya

Sungguh, salah satu nikmat bagi seorang hamba adalah ketika Allah Ta’ala pertemukan dan pertemankan dia dengan orang-orang yang sholeh berada di lingkungan yang juga baik. Orang-orang yang baik lagi sholeh itulah kelak yang bisa mengingatkannya jika ia menyimpang, salah dalam menjalani kehidupannya.

Mempunyai teman-teman yang baik adalah harta yang tak ternilai harganya. Teman-teman yang baik itulah yang akan memotivasi hidup kita untuk menjadi lebih sholeh dan takwa, bukan sebaliknya malah menjerumuskan ke jurang yang hina.

Tentang teman yang baik ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Kesebelas, rezekinya selalu cukup

Allah Ta’ala tidak pernah menyia-nyiakan hidup hamba-Nya serba dalam kekurangan. Salah satu bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah dengan mengajarkan bagaimana menjemput rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,

ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Qs. At-Talaq 65: 2). Tentu saja, rezeki tidak selamanya berupa materi. Jalan keluar dari semua masalah yang dihadapi juga merupakan rezeki yang akan Allah berikan kepada orang yang bertakwa kepada-Nya.

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga mengingatkan,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk-mahluk yang telah Kami ciptakan.” (Qs. Al-Isra’: 70).

Keduabelas, meninggikan derajat orang beriman

Jangankan di mata Allah Ta’ala, di mata manusia saja banyak orang yang senang dan merasa bangga ketika derajatnya diangkat keposisi yang lebih tinggi lagi. Lalu bagaimana jika yang menangkat derajat hidup seorang hamba itu adalah Allah? Bukankah jika Allah sudah mengangkat derajat hamba-Nya itu artinya hamba itu menjadi mulia? Insya Allah mulianya dunia hingga akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Mujadalah: 11)

Ketigabelas, Allah selalu membuka pintu taubat

Tak ada manusia yang tak bernoda dosa. Namun, yang terbaik tentu saja mereka yang sadar setelah melakukan dosa dan segera bertaubat kepada Allah Ta’ala. Allah sayang kepada hamba-Nya yang setelah melakukan dosa dan maksiat lalu kembali kepada-Nya dengan penyesalan.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nisa’: 110).

Keempatbelas, selalu memberikan pengampunan

Tanda kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang lain adalah senantiasa memberikan ampunan. Allah Ta’ala mengingatkan hamba-Nya agar tidak berputus asa untuk kembali ke jalan yang benar dan lurus. Sebab tidak ada tuhan di jagat raya ini yang bisa mengampuni dosa selain dari Allah semata.

Karena sayangnya Allah kepada hamba-Nya yang melampaui batas, Allah mengingatkan dalam firman-Nya,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

“Katakanlah hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (Qs. Az Zumar: 53-54).

Kelimabelas, Allah membalas semua kebaikan dengan pahala tak terbatas

Allah Ta’ala telah berjanji kepada setiap hamba-Nya yang melakukan segala kebaikan kelak akan dibalas dengan pahala berlipat ganda. Balasan pahala yang berlipat ganda, adalah bukti ayat yang Allah turunkan. Seperti dalam firman-Nya,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al – An’am : 160)

Keenambelas, tidak segara menurunkan azab

Allah tidak pernah bersikap otoriter kepada hamba-hamba-Nya para pendosa. Allah juga Maha Sabar melihat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan manusia. Allah sengaja tidak segera menurunkan azab-Nya kepada manusia yang selalu bermaksiat kepada-Nya. Mengapa? Karena Allah memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat, menyesali segala maksiat yang dilakukan.

Apa jadinya jika setiap orang yang melakukan dosa, lalu Allah segera turunkan azab kepadanya. Sudah tentu ketergesa-gesaan itu bukanlah sifat Allah Ta’ala. Dalam firman-Nya dijelaskan,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan- Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (Qs. An-Nahl: 61)

Ketujuhbelas, mengabulkan do’a hamba–Nya

Jika Allah sudah menyintai seorang hamba-Nya, maka sangat mungkin ketika  hamba itu menengadahkan tangannya ke langit,  berdoa meminta segala ampunan, keselamatan dunia akhirat, Allah akan mengabulkan permohonannya.

Allah Ta’ala berfirman tentang do’a yang pasti diperkenankan oleh-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Qs. Gafir : 60)

Demikianlah beberapa tanda kasih sayang Allah Ta’ala kepada setiap hamba-Nya. Namun, kadang kitalah yang bodoh lagi zalim dan tidak mau merasakan betapa sejatinya Allah Ta’ala lebih menyayangi hamba-Nya dibanding diri sang hamba itu menyayangi dirinya dan orang lain, wallahualam.(sumber: minanews.net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *