By. Bahron Ans.

Siapa yang tidak menginginkan hidupnya diliputi kebahagiaan. Karena bahagia adalah impian setiap orang, maka sejatinya diperlukan ilmu agar bisa meraih dan merasakan kebahagiaan hidup tersebut. Dalam kitab Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah karya Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di disebutkan beberapa kiat yang bisa dilakukan seorang Muslim untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya.

Pertama, Beriman dan Beramal Shalih dengan Sebenarnya

Sarana yang paling agung yang merupakan sarana pokok dan dasar bagi tergapainya hidup bahagia ialah : beriman dan beramal shalih. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih[1], baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan.” [Qs. An-Nahl: 97]

Kepada orang yang memadukan antara iman dan amal shalih, Allah Ta’ala memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan akhirat.

Sebabnya jelas. Karena, orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar lagi membuahkan amal shalih yang mampu memperbaiki hati, akhlak, urusan duniawi dan ukhrawi, mereka memiliki prinsip-prinsip mendasar dalam menyambut datangnya kesenangan dan kegembiraan, ataupun datangnya keguncangan, kegundahan dan kesedihan.

Kedua, Berprilaku Baik Melalui Ucapan, Perbuatan, dan Segala Bentuk Al-Makruf

Di antara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah : Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma’ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain. Lantaran kebajikan itu dan sesuai dengan kadar kebajikan itu juga, Allah menangkis segala kegundahan dan kesedihan, baik untuk orang yang berprilaku baik atau untuk orang yang jahat.

Hanya saja, yang diperoleh orang mukmin lebih sempurna. Ia unggul karena kebaikannya timbul dari keikhlasan dan keberharapan hanya pada pahala Allah. Karena ia mengharapkan yang baik, maka Allah memudahkan baginya berprilaku baik. Dan, karena ikhlas dan hanya mengaharap pahala dari Allah, maka Allah menangkis untuknya segala cobaan berat.

Allah berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan antara mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau melakukan kebajikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami mengaruniakan kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An-Nisaa : 114]

Ketiga, Meraih dan Melakukan Al-Fadha’il (Tindak-Tindak Utama)

Di antara sarana yang dapat membawa ketentraman adalah meraih dan melakukan al-fadha’il (tindak-tindak utama berupa apapun). Lakukan itu seirama dorongan batin, tanpa mengada-ada yang justeru membuat kita mengeluh dan turun tangga, gagal meraih keutamaan itu, karena kita telah melalui jalan yang berbelok.

Keempat, Ciptakan Suasana Jernih dan Manis Di Balik Kekeruhan

Di balik suasana-suasana kekeruhan, hendaknya seorang Muslim tetap dapat menciptakan suasana yang jernih dan manis. Dengan demikian, jernihnya kelezatan dan kenikmatan hidup ini akan bertambah dan suasana-suasana yang keruhpun akan sirna.

Jangan sikapi masalah dengan emosional, tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan kebaikan. Lakukan dan hadapi setiap masalah dalam hidup ini dengan sifat tenang seraya senantiasa memohon pertolongan Allah ‘Azza Wa Jalla semata. Dia-lah yang telah menitipkan masalah kepada setiap hamba-Nya sebagai bahan ujian selama hidup. Dia pula yang akan mencabut semua masalah-masalah itu selama kita bersandar hanya kepada-Nya.

Kelima, Jadikanlah Ketenangan Batin dan Pemusatan Jiwa Sebagai Pembantu  Menangani Pekerjaan Penting

Pusatkan perhatian anda kepada hal-hal yang bermanfaat, berbuatlah untuk merealisasikannya, dan janganlah menoleh ke hal-hal yang membahayakan atau merugikan, agar dengan itu anda dapat melupakan hal-hal yang menyebabkan kegundahan dan kesedihan. Jadikanlah ketenangan batin dan pemusatan jiwa sebagai pembantu anda untuk menangani pekerjaan-pekerjaan penting.

Keenam, Selesaikan Pekerjaan Tepat Waktu

Di antara hal yang bermanfaat ialah menyelesaikan pekerjaan yang sedang ditangani dan berkosentrasi menghadapi yang akan ditangani. Karena, jika pekerjaan itu tidak anda selesaikan, akan tertumpuklah di depan anda sisa pekerjaan yang lalu ditambah pekerjaan berikutnya, dan beban pun akan menjadi berat. Maka, jika anda tentukan segala sesuatu tepat waktu, niscaya anda dapat menghadapi hal-hal yang akan datang dengan pikiran yang optimal dan penanganan yang optimal pula.

Ketujuh, Pandai-Pandailah Memilih Dan Memilah Pekerjaan

Seyogiayanya kita memilih yang terpenting dari sekian pekerjaan yang bermanfaat, lalu yang berikutnya dan berikutnya, sesuai urutan nilai kepentingannya. Juga, hendaklah kita memilah mana yang dicenderungi dan sangat diminati oleh hati. Karena, hal sebaliknya akan membuahkan kebosanan, menurunnya semangat dan keruhnya pikiran. Jadikanlah pemikiran yang benar dan bermusyawarah sebagai penolong untuk itu. Maka, tidak akan menyesal seseorang yang meminta pendapat orang bijak.

Pelajarilah dengan cermat apa yang hendak kita lakukan. Jika kita telah yakin akan kemaslahatan dan bertekad kuat untuk melakukannya, bertawaqallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawaqal.

Kedelapan, Jangan Terpancing Emosi Oleh Tutur Kata Buruk Seseorang yang Diarahkan Kepada Kita

Di antara perkara yang bermanfaat adalah hendaknya kita mengerti, bahwa tindakan menyakiti yang dilakukan orang kepada kita, khususnya dengan kata-kata yang buruk, tidaklah membahayakan kita, bahkan justeru membahayakan diri mereka sendiri. Kecuali, jika kita sibukkan diri kita untuk terus memikirkan tindakan mereka yang menyakiti itu dan kita izinkan ia untuk menguasai perasaan dan emosi kita. Maka, saat itulah akan membahayakan diri, sebagaimana membahayakan mereka juga. Namun, jika kita menganggap angin lalu, tidaklah hal itu membahayakan sedikitpun.

Kesembilan, Menata Hati Untuk Mengharap Pahala Ilahi dalam Berbuat Kebajikan

Diantara sarana yang paling bermanfaat untuk mengusir kegundahan adalah hendaknya menata hati untuk tidak meminta ucapan terima kasih atau imbalan kecuali dari Allah. Jika anda berbuat baik untuk orang yang mempunyai atau yang tidak mempunyai hak atas diri anda, sadarilah bahwa itu adalah hubungan ‘ubudiyyah anda dengan Allah. Karenanya, janganlah anda menaruh perhatian anda pada balasan terima kasih orang yang anda beri suatu jasa atau pemberian itu.

Sebagaimana firman Allah dalam menceritakan sikap para hambaNya yang pilihan. “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Qs. Al-Insan : 9]

Prinsip ini lebih ditekankan dalam hubungan anda dengan keluarga, anak-anak dan orang-orang yang jalinan ikatan anda dengan mereka kuat. Maka, jika anda kuatkan hati anda untuk membuang jauh dari hati anda tindak buruk dari mereka, berarti anda telah membuat orang tenteram (tidak terganggu anda) dan sekaligus anda pun tenteram.

Kesepuluh, Konsentrasi untuk Menghadapi Hari Ini

Di antara sarana yang dapat menangkis kesedihan dan keguncangan hati adalah terputusnya pikiran sepenuhnya untuk memberikan perhatian kepada pekerjaan hari ini yang sedang dihadapinya dan menghentikan pikiran dari menoleh jauh ke waktu mendatang dari kesedihan menatap masa lampau.

Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari alhamm (kegundahan) dan alhuzn (kesedihan) [1]. Al-huzn adalah kesedihan terhadap perkara-perkara yang telah lampau yang tidak mungkin diputar ulang ataupun di ralat. Sedangkan al-hamm : adalah kegundahan yang terjadi disebabkan oleh rasa takut dan khawatir terhadap sesuatu yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Seorang hamba sejatinya bisa menjadi ‘putera harinya’ yakni : menjadi manusia terbaik dalam menyongsong harinya yang sedang dihadapinya dan sekaligus mampu mengonsentrasikan keseriusan dan kesungguhannya untuk memperbaiki hari dan detik yang sedang dihadapinya itu. Karena, pemusatan hati untuk berbuat demikian akan menuntutnya untuk mengoptimalkan pekerjaan, dan ia pun dapat terhibur dengannya dari kegundahan dan kesedihan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan do’a atau mengajari umatnya untuk mengamalkan suatu do’a, yang menganjurkan –seiring memohon dan mengharap pertolongan dan karunia Allah- agar mereka serius dan sungguh-sungguh dalam melakukan apa yang menjadi sebab terwujudnya harapannya itu dan menghindari apa yang menjadi sebab terhalangnya.

Karena, do’a itu bergandeng dengan perbuatan. Maka seorang hamba harus bersungguh-sungguh untuk meraih apa yang bermanfaat baginya dalam kehidupan religinya ataupun duniawinya dan memohon kepada Allah keberhasilan maksud dan tujuannya, seraya memohon pertolongan kepada-Nya untuk itu, sebagaimana apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Berupaya keraslah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata : Andaikan aku berbuat demikian tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi katakanlah : Allah telah menaqdirkan (ini). Allah melakukan apa yang dikehendakiNya. Karena, kata “andaikan” membukakan pintu perbuatan syetan.” [Hadits Riwayat Muslim dalam shahihnya].

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memadukan antara dua hal. Yaitu antara perintah berupaya keras untuk mencapai hal-hal yang bermanfaat dalam berbagai kondisi, seiring memohon pertolongan kepada Allah serta tidak tunduk mengalah kepada sikap lemah, yakni sikap malas yang membahayakan, dan antara sikap pasrah kepada Allah dalam hal-hal yang telah lampau dan telah terjadi seiring meniti dengan mata hati terhadap qadha’ dan taqdir Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi segala kejadian dua bagian : bagian pertama, adalah hal yang dimungkinkan seorang hamba berupaya meraihnya atau meraih yang mungkin darinya, atau hal dimungkinkan ia menangkisnya atau meringankannya. Disini seorang hamba harus memunculkan daya upaya seiring memohon pertolongan kepada Allah, sesembahannya. Sedangkan.

Bagian kedua : hal yang tidak dimungkinkan ia melakukan itu semua. Di sini seorang hamba harus tenang, ridha dan pasrah. Tidak diragukan, bahwa berpedoman kepada prinsip ini dengan baik adalah merupakan sarana menuju kesenangan hati dan hilangnya kegelisahan maupun kegundahan. Bismillah, mari raih dan wujudkan kebahagiaan itu dengan semaksimal mungkin, wallahua’lam.

Sumber: l-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *