By. Ba

Seringkali, ujian hidup datang bertubi. Tak terduga. Mendadak, terkadang membuat dada menjadi sesak. Belum selesai satu ujian, deretan ujian lainnya sudah mengantri. Bila Allah tak jadi tempat bersandar, yang terjadi memilih jalan pintas; bunuh diri misalnya. Inilah hidup. Penuh warna layaknya pelangi. Penuh rasa laiknya permen nano nano.

Sebagian orang, menjadikan hartanya tempat bersandar. Tak jarang, orang yang punya harta berujar, “Ah, untuk apa takut, toh hartaku masih ada jika hal itu terjadi.” Ungkapan semacam ini seolah menjadikan hartanya sebagai tempat sandaran. Disadari atau tidak. Ia mungkin mengira semua ujian dan cobaan bisa dengan mudah diselesaikan dengan hartanya yang melimpah. Ternyata, tidak. Betapa banyak orang yang berharta pada akhirnya tidak mampu menangguhkan kepergian nyawanya walau hanya sekejap.

Sebagian lagi, ada yang menjadikan orangtuanya sebagai sandaran. Sebab bisa jadi orangtuanya punya jabatan tinggi, berpengaruh, bahkan punya harta berlimpah. Mungkin dia mengira sandaranya itu (selain Allah), mampu membuatnya berlari dari setiap masalah. Ternyata, tidak. Masalah tetap saja datang menghampiri meski orangtuanya punya pengaruh besar, dan harta melimpah.

Setiap muslim pasti akan selalu mendapat ujian dari Allah Ta’ala. Tujuannya, jelas Allah ingin melihat siapa di antara hamba-Nya yang benar-benar beriman kepada Allah. Dalam Qur’an surat al Baqarah ayat 55 Allah ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ayat 155 di atas dalam surat al Baqarah menerangkan, Allah Ta’ala bersumpah akan menguji hamba-hamba-Nya dengan sedikit ketakutan, yang berasal dari musuh Allah dan musuh-musuh mereka sendiri. Yaitu orang-orang kafir ketika menyatakan peperangan kepada orang mukmin. Ujian yang lain adalah sedikit kelaparan karena kepungan dari musuh dan sebab-sebab yang lain. Begitu juga ujian dengan berkurangnya harta disebabkan matinya hewan ternak karena peperangan atau paceklik.

Allah menguji juga dengan hilangnya jiwa, seperti kematian seseorang, juga dengan rusaknya buah-buahan karena hama. Semua itu demi mengetahui siapakah yang mampu bersabar di atas keimanan dan ketaatannya kepada Allah, dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi larangannya. Bagi orang yang tidak mampu bersabar tidak akan mendapatkan kasih sayang dan pahala dariNya. Lantas Allah memerintahkan rasulNya agar memberikan kabar gembira kepada hamba-hambaNya yang bersabar.

Dalam surat Al-baqoroh ini Allah menjelaskan kepastian memberikan ujian kepada manusia, ujian-ujian tersebut dirinci menjadi beberapa macam : Pertama, ujian ketakutan. Ibnu Abbas mengatakan maksudnya adalah rasa takut oleh musuh dan kegoncangan saat di medan perang. Imam Syafi’i mengatakan maksudnya rasa takut oleh Allah ‘azza wajalla. Kedua, ujian kelaparan. Artinya Allah memberikan ujian dengan rasa lapar yang luar biasa.

Imam Syafii mengatakan ujian rasa lapar pasti akan Allah berikan kepada setiap mukmin saat bulan Romadhan, yakni saat mereka melaksanakan kewajiban ibadah puasa. Ketiga, ujian kekurangan harta. Maksudnya kurang harta disebabkan oleh sibuknya berperang memerangi orang kafir, sehingga membuat mereka sedikit memiliki kesempatan untuk berdagang dan bekerja. Imam syafi’I mengatakan maksudnya adalah berkurangnya harta disebabkan kewajiban mengeluarkan zakat.

Keempat, ujian kekurangan jiwa. Ibnu Abbas berkata, berkurangnya jiwa karena kematian baik di medan jihad ataupun karena pembunuhan. Sedangkan Imam Syafii berkata, berkurang jiwa karena kematian yang disebabkan penyakit.

Kelima, ujian kekurangan buah-buahan. Ibnu katsir berkata, kurangnya buah-buahan diakibatkan kebun-kebun mereka tidak bisa produksi dengan baik sehingga banyak pohon-pohon yang mati dan tidak berbuah. Imam Syafi’i berpendapat bahwa maksud “buah” dalam ayat ini adalah anak, yakni buah hati.

Artinya, akan ada ujian yang ditimpakan dengan meninggalnya buah hati mereka yang sangat mereka cintai. Ibnu Abbas mengatakan, maksud ayat ini adalah berkurangnya tumbuh-tumbuhan dan hilangnya kebarokahan. Dan tidaklah Allah menimpakan semua ujian diatas , kecuali sebagai wasilah untuk membedakan kualitas hamba-hamaba-Nya.

Dengan musibah-musibah ini manusia terbagi menjadi dua golongan : Pertama, orang  yang mampu menahan dirinya dari berkata dan berbuat yang menunjukan ketidak relaan akan takdir, maka dia itulah orang yang sabar, dan Allah akan memberikan balasan pahala atas kesabarannya, bahkan balasan yang Allah berikan lebih besar daripada ujian atau musibah yang ditimpakan kepadanya.

Bahkan musibah akan berubah jadi anugrah baginya, karena musibah ini menjadi jalan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat baginya dengan melaksanakan perintah Allah untuk bersabar dan meraih pahala yang luar biasa atas kesabarannya.

Kedua, orang yang berputus asa dalam menghadapi ujiannya, maka dia sesungguhnya mendapat dua musibah sekaligus dengan sikaf putus asanya ini. Musibah pertama adalah hilangnya sesuatu yang dicintai dari dirinya baik itu harta ataupun keluarga, dan musibah yang kedua adalah hilangnya sesuatu yang lebih besar dari musibah itu sendiri, yaitu hilangnya pahala kesabaran dalam menghadapi musibah. Maka hilanglah dari dirinya pahala dan dia mendapati kerugian, berkuranglah keimanan dan hilang rasa syukur kepada Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *