http://musliminc.com

 

 

 

MANDI

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكارى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُباً إِلاَّ عابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian salat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kalian dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi. (QS. An-Nisa : 43)

 

  1. Hadats yang Mewajibkan Mandi

 

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ

“Adanya air (mandi) itu karena air (mani).” HR. Muslim (I/52), At-Tirmidzi (112), An-Nasai (I/96), Ibnu Majah (607), Ad-Darimi (I/94), dari Abu Ayyub. – Lafadz ini dari Ibnu Majah.

 

Dari Ummu Salamah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ

“Ummu Sulaim, isteri Abu Thalhah, datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dengan kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi bila bermimpi?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya. Jika dia melihat air (mengeluarkan semacam air mani bagi pria).” HR. Ahmad (Fathur Robbani No. 429), Al-Bukhari (I/61), Muslim (I/141), At-Tirmidzi (122), An-Nasai (I/95), Ibnu Majah (600), Ad-Darimi (I/190). – Lafadz ini dari Al-Bukhari.

 

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ وَفِي حَدِيثِ مَطَرٍ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

“Apabila seorang lelaki duduk di antara empat cabang milik perempuan (maksudnya kedua paha dan kedua tangan), kemudian ia bersungguh-sungguh menyetubuhinya, maka sungguh dia wajib mandi.” Dan dalam hadits Mathar, “Walaupun dia belum keluar mani.” HR. Ahmad (Fathur Robbani 424), Al-Bukhari (I/62), Muslim (I/153), At-Tirmidzi (108), An-Nasai (I/92), Ibnu Majah (610), Ad-Darimi (I/49), dari Abu Hrairah radhiyallohu ‘anhu. – Lafadz ini dari Muslim.

 

Dari Aisyah radhiyallohu ‘anha, ia berkata:

إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ

“seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang menyenggamai istrinya kemudian dia tidak keluar air mani, apakah keduanya wajib mandi, sedangkan Aisyah sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku sendiri melakukan hal tersebut dengan wanita ini, kemudian kami mandi.” HR. Muslim (I/154).

 

Dari Aisyah radhiyallohu ‘anha, ia berkata:

جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ لَا إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Fathimah binti Abi Hubaisy mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang perempuan berdarah istihadhah, maka aku tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat?” Maka beliau bersabda, “Darah tersebut ialah darah penyakit bukan haid, apabila kamu didatangi haid hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haid berhenti dari keluar, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat.” HR. Al-Bukhari (I/65), Muslim (I/148), Abu Dawud (279), At-Tirmidzi (125), Ibnu Majah (621), Ad-Darimi (I/196). – Lafadz ini dari Muslim.

 

 

Keterangan:

Istihadhah adalah keluarnya darah selain haidh dan nifas.

 

Dari Hamnah binti Jahsy radhiyallohu ‘anha, ia berkata:

كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً شَدِيدَةً كَثِيرَةً فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْتَفْتِيهِ وَأُخْبِرُهُ فَوَجَدْتُهُ فِي بَيْتِ أُخْتِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً فَقَالَ وَمَا هِيَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيرَةً شَدِيدَةً فَمَا تَرَى فِيهَا قَدْ مَنَعَتْنِي الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ قَالَ أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ قَالَتْ هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَتَلَجَّمِي قَالَتْ إِنَّمَا أَثُجُّ ثَجًّا فَقَالَ لَهَا سَآمُرُكِ بِأَمْرَيْنِ أَيَّهُمَا فَعَلْتِ فَقَدْ أَجْزَأَ عَنْكِ مِنْ الْآخَرِ فَإِنْ قَوِيتِ عَلَيْهِمَا فَأَنْتِ أَعْلَمُ فَقَالَ لَهَا إِنَّمَا هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةً فِي عِلْمِ اللَّهِ ثُمَّ اغْتَسِلِي حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَيْقَنْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً أَوْ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُومِي فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكِ وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي فِي كُلِّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ بِمِيقَاتِ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ وَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ فَتَغْتَسِلِينَ ثُمَّ تُصَلِّينَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فَافْعَلِي وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ الْفَجْرِ وَتُصَلِّينَ وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي وَصَلِّي وَصُومِي إِنْ قَدَرْتِ عَلَى ذَلِكَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا أَعْجَبُ الْأَمْرَيْنِ إِلَيَّ

“Aku mengeluarkan darah istihadlah (darah penyakit yang keluar setelah selesai masa haid) dengan banyak sekali, maka aku datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta fatwa dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka aku pun menemui beliau saat berada di rumah saudariku, Zainab binti Jahsy.” Hamnah berkata, “Lantas aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku ada perlu dengan tuan.” Beliau menjawab: “Apa keperluanmu?” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku mengeluarkan darah istihadlah banyak sekali, maka apa yang tuan sarankan kepadaku, karena dia telah menghalangiku dari melaksanakan shalat dan puasa?” Beliau menjawab: “Aku sarankan kepadamu untuk menggunakan kain kapas karena dia dapat mencegah keluarnya darah.” Hamnah bertanya lagi, “(Namun) darahnya lebih banyak keluar.” Beliau menjawab: “Maka balutlah tempat keluarnya darah.” Hamnah berkata lagi, “Darahnya keluar dengan deras!” Beliau bersabda: “Aku perintahkan kepadamu dua hal, mana saja kamu lakukan dari keduanya maka itu sudah sah bagimu (sudah mewakili dari yang lain), jika kamu mampu melakukan keduanya maka kamu lebih mengetahuinya.” Kemudian beliau berkata kepadanya: “Ini hanyalah penyakit dari setan, maka tetapkanlah masa haidmu enam atau tujuh hari menurut ilmu Allah, kemudian hendaklah kamu mandi, sehingga apabila kamu merasa sudah suci dan yakin untuk membersihkan diri, maka laksanakanlah shalat yang dua puluh empat atau dua puluh tiga hari dan malamnya, dan laksanakanlah puasa karena itu sudah sah bagimu. Dan lakukanlah pada setiap bulannya sebagaimana umumnya para wanita mengalami haid, masa haid mereka dan masa suci mereka, jika kamu mampu untuk mengakhirkan shalat zhuhur dan mensegerakan shalat ashar maka kamu mandi lalu melaksanakan shalat zhuhur dan ashar dengan menggabungnya, kemudian kamu akhirkan shalat Maghrib dan mensegerakan shalat Isya’ lalu kamu mandi dan melaksanakan dua shalat (Maghrib dan Isya’) dengan menggabungnya maka lakukanlah, kemudian kamu mandi pada waktu shubuh lalu laksanakan shalat shubuh, demikian juga jika kamu mampu, maka lakukanlah shalat dan puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan ini adalah dua hal yang paling mengagumkan bagiku.” HR. Ahmad (VI/439), Abu Dawud (287), At-Tirmidzi (128), Ibnu Majah (617). – Lafadz ini dari Ahmad.

 

Dari Jabir radhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

فَخَرَجْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ أَصْنَعُ قَالَ اغْتَسِلِي وَاسْتَثْفِرِي بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِي

“Lalu kami berangkat bersama-sama dengan beliau. Ketika sampai di Dzulhulaifah, Asma` binti Humais melahirkan puteranya, Muhammad bin Abu Bakar. Dia menyuruh untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang harus dilakukannya (karena melahirkan itu). Maka beliau pun bersabda: “Mandi dan pakai kain pembalutmu. Kemudian pakai pakaian ihrammu kembali.” HR. Muslim (I/510)

 

 

Kesimpulan:

Hadats yang mewajibkan mandi adalah keluarnya mani, bersetubuh sekalipun tidak keluar mani, haidh, nifas dan istihadhah yang deras.

 

 

Catatan:

  • Dari Ummu Salamah radhiyallohu ‘anha, ia berkata: “perempuan-perempuan nifas pada masa Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa salam, duduk-duduk selama 40 hari setelah melahirkan (tidak melaksanakan sholat).” Diriwayatkan oleh Imam yang lima kecuali An-Nasai. An-Nawawi berkata: “Menurut kebanyakan ulama fiqih, hadits ini dho’if dan tertolak.” (Talhisul Habir I/ 171)
  • Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda: “Apabila dua kelamin telah bertemu, maka wajib mandi.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasai). Al-Bukhari berkata, “Hadits ini ma’lul, karena Al-Auza’i dalam hadits ini berbuat salah.” (Talhisul Habir I/124)
  • Diriwayatkan bahwa orang yang junub dan orang yang haidh tidak boleh membaca Al-Quran (diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar). Di dalam sanad hadits ini terdapat Ismail bin Iyasy yang riwayatnya dari Hijaziyyin, oleh karena itu hadits tersebut dho’if. (Talhisul Habir I/138).

 

 

 

(Dikutip dari buku “Tuntunan Shalat Menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, penerbit: Media Al-Fatah Press)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *