vectorstock.com

 

 

 

 

b. Wudhu Yang Sempurna

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا

“Tidaklah seorang laki-laki muslim berwudlu, lalu memperbagus wudlunya, lalu melakukan shalat, melainkan pasti Allah mengampuni dosanya antara dia dan shalat sesudahnya’.” HR. Muslim (I/115) dari Humran Maula Utsman.

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung oleh niat.” HR. Muslim (II/158), dari Umar bin Khaththab.

 

Dari Aisyah radhiyallohu ‘anha, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan selainnya.” HR. Bukhari.

 

Dari Humran Maula Utsman, ia berkata:

أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “bahwa Utsman bin Affan meminta air untuk berwudlu, kemudian dia membasuh dua tangan sebanyak tiga kali, kemudian berkumur-kumur serta memasuk dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian ia membasuh muka sebanyak tiga kali dan membasuh tangan kanannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh tangan kirinya sama seperti beliau membasuh tangan kanan, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kaki kanan hingga ke mata kaki sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh kaki kiri, sama seperti membasuh kaki kanannya. Kemudian Utsman berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu seperti cara aku berwudlu.’ Kemudian dia berkata lagi, ‘Aku juga telah mendengar beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil wudlu seperti cara aku berwudlu kemudian dia menunaikan shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata antara wudlu dan shalat, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu’.” HR. Ahmad (Fathur Robbani I/6), Al-Bukhori I/48, Muslim I/114-115, Abu Dawud 106, An-Nasai I/62, Ibnu Majah 434, Abu Dawud 106, Lafadz ini dari Muslim.

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia membasuhnya tiga kali, karena dia tidak mengetahui di mana tangan itu menginap.” HR. Muslim I/131, dari Abu Hurairoh radhiyallohu ‘anhu.

 

Dari Abdullah bin Zaid radhiyallohu ‘anhu:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدٍ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dari satu telapak tangan, beliau lakukan hal itu tiga kali.” HR. Muslim I/118, At-Tirmidzi

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah di antara jari-jemarimu dan bersangatlah dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa.” HR. Ahmad (Fathur Robbani no.28), Abu Dawud (142), At-Tirmidzi (38), Ibnu Majah (407), dari ‘Ashim bin Laqith bin Shabrah dari Ayahnya. – Lafadz ini dari Abu Dawud.

 

Dari Abdullah bin Zaid, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, beliau memajukan dan mengundurkan keduanya, memulai dengan bagian depan kepalanya kemudian menjalankan keduanya sampai pada bagian tengkuk, setelah itu mengembalikan keduanya sampai kembali pada tempat yang semula, setelah itu mencuci kedua kakinya.” HR. Al-Bukhari (I/48), Abu Dawud (118), At-Tirmidzi (32), Ibnu Majah (434). – Lafadz ini dari At-Tirmidzi.

 

Dari Abdullah bin Amr bin Syu’aib, berkata dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata:

ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِي أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا

“kemudian mengusap kepalanya lalu memasukkan kedua jari telunjuknya pada kedua telinganya, dan mengusap bagian luar kedua telinga dengan kedua ibu jari dan bagian dalam kedua telinga dengan kedua jari telunjuknya, kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali tiga kali,” HR. Abu Dawud (135).

 

Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Al-Mazni, ia berkata:

وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدِهِ وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى أَنْقَاهُمَا

“lalu beliau mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa air dari tangannya, dan mencuci kedua kakinya hingga membersihkan keduanya.” HR. Muslim (I/119), Abu Dawud (120), At-Tirmidzi (35). – Lafadz ini dari Muslim.

 

Dari Abdullah bin Zaid radhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa:

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْخُذُ لِأُذُنَيْهِ مَاءً غَيْرَ الْمَاءِ الَّذِي أَخَذَهُ لِرَأْسِهِ

“Bahwa ia melihat Nabi SAW mengambil air untuk kedua tangannya selain air yang telah digunakannya untuk kepalanya.” HR. Al-Baihaqi (Subulus Salam I/87).

 

Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ نَاصِيَتَهُ وَعِمَامَتَهُ وَعَلَى الْخُفَّيْنِ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu, lalu beliau mengusap ubun-ubunnya, surbannya dan kedua sepatunya.” HR. Ahmad (Fathur Robbani II/40), Muslim (I/30), Abu Dawud (150), At-Tirmidzi (100), An-Nasai (I/65). – Lafadz ini dari An-Nasai.

 

Dari Ali radhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُسَافِرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ يَعْنِي فِي الْمَسْحِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menentukan tiga hari tiga malam bagi musafir dan satu hari satu malam bagi yang bermukim (menetap) -yakni dalam hal mengusap sepatu-”. HR. At-Tirmidzi (95), An-Nasai (I/72). – Lafadz ini dari An-Nasai.

 

Dari Nu’man bin Abdullah, ia berkata:

أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Sesungguhnya dia melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’.” HR. Ahmad (Fathur Robbani II/30), Al-Bukhari (I/38), Muslim (I/22). – Lafadz ini dari Muslim.

 

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata:

تَخَلَّفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنَّا فِي سَفْرَةٍ سَافَرْنَاهَا فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الْعَصْرَ فَجَعَلْنَا نَتَوَضَّأُ وَنَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan, beliau lalu dapat menyusul saat kami hampir kehabisan waktu shalat ‘Ashar sehingga kami berwudlu dengan hanya mengusap kaki kami. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: “Tumit-tumit yang tidak terkena air wudlu akan masuk ke dalam neraka.” Beliau ucapkan itu hingga tiga kali.” HR. Ahmad (Fathur Robbani No. 203), Al-Bukhari (I/42), At-Tirmidzi (41), Ad-Darimi (I/79). – Lafadz ini dari Al-Bukhari.

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ

“Kecemerlangan bagi seorang mukmin (pada hari kiamat) adalah sebatas kesempurnaan wudlunya.” HR. Muslim (I/123), dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu.

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu’ sekali sekali.” HR. Ahmad (Fathur Robbani II/47), Al-Bukhari (I/412), Abu Dawud (138), At-Tirmidzi (42), An-Nasai (I/63), Ibnu Majah (411), Ad-Darimi (I/77). – Lafadz ini dari Al-Bukhari.

 

Dari Abdullah bin Zaid radhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu dua kali dua kali.” HR. Ahmad (Fathur Robbani II/48), Al-Bukhari (I/42), Abu Dawud (136), At-Tirmidzi (43), An-Nasai (I/62), Ibnu Majah (410), Ad- Darimi (I/177). – Lafadz ini dari Al-Bukhari.

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, lalu menyampaikan wudlunya atau menyempurnakan wudlunya kemudian dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya melainkan pintu surga yang delapan akan dibukakan untuknya. Dia masuk dari pintu manapun yang dia kehendaki’.” HR. Muslim (I/118), Abu Dawud (169), At-Tirmidzi (55), Ad-Darimi (I/182), dari Umar bin Khatthab. – Lafadz ini dari Muslim.

 

 

Kesimpulan:

 

Wudhu yang sempurna terdiri dari:

  1. Niat
  2. Membasuh telapak tangan
  3. Berkumur-kumur, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan satu tangan dan menggunakan air yang terambil oleh tangan tersebut.
  4. Membasuh muka
  5. Membasuh tangan kanan sampai ke siku atau lebih, kemudian tangan kiri, dan memulainya dari ujung jari.
  6. Mengusap kepala mulai dari bagian depan (tempat tumbuhnya rambut), kemudian ke belakang sampai ke tengkuk, lalu mengembalikannya ke depan.
  7. Mengusap daun telinga dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam telinga kemudian menggosok bagian dalamnya dengan jari telunjuk dan bagian luar dengan ibu jari. Air untuk mengusap telinga bukan sisa air yang dipergunakan untuk mengusap kepala.
  8. Membasuh kaki kanan sampai mata kaki atau lebih, kemudian kaki kiri dan memulainya dari ujung jari.
  9. Menyempurnakan basuhan dan usapan terhadap anggota wudhu.
  10. Berdo’a setelah berwudhu dengan membaca:

 أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

 

PENJELASAN:

  • Dalam membasuh anggota wudhu, boleh sekali-sekali, dua kali – dua kali, atau tiga kali – tiga kali.
  • Diperbolehkan mengusap sepatu bagian atas tanpa melepasnya, bagi musafir selama tiga hari tiga malam, dan bagi yang mukim satu hari satu malam.

 

CATATAN 

a. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memisahkan antara berkumur dan beristinsyaq (diriwayatkan oleh Abu Dawud). Dalam sanad hadits ini terdapat nama Laits bin Abu Sulaim. An-Nawawi berkata, “Ulama ahli hadits sepakat mendhoifkannya”. (Bulughul Maram).

b. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tatkala berwudhu beliau memutarkan air pada siku-siku beliau (diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi). Di dalam sanad hadits tersebut terdapat Al-Qasim bin Muhammad ‘Uqaili, Abu Hatim berkata, “Al-Qasim adalah matruk.” Abu Zar’ah berkata, “Hadits-haditsnya munkar”, Ahmad dan Ibnu Mu’in mendhaifkannya. (Talhisul Habir 1/57)

c. Tidak ada satu hadits pun yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mencukupkan mengusap sebagian kepala atau ubun-ubun tanpa mengusap bagian yang lain dari kepala (Subulus Salam 1/50)

d. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan membaca BISMILLAH, maka seluruh badannya menjadi suci. Dan barangsiapa berwudhu tidak membaca BISMILLAH, maka anggota wudhu sajalah yang suci” (diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi). Dalam sanad Al-Baihaqi terdapat Abu Bakar Ad-Dahiri, ia adalah matruk.

Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu meriwayatkan, “tidak wudhu bagi orang yang tidak membaca BISMILLAH” (diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi). Dijelaskan dalam Talhisul Habir bahwa sanad-sanad hadits tersebut dari delapan perawi, dengan berbagai matannya, akhirnya disimpulkan bahwasanya matan hadits tersebut muhtamal (perlu ta’wil) di samping dari sekian sanad terdapat orang-orang yang dhaif, munkar dan majhul. An-Nawawi berkata: “Dapat saja dalam masalah ini berhujjah dengan hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa setiap urusan yang baik, yang tidak dimulai dengan membaca BISMILLAH, maka itu terputus kebaikannya, tetapi hadits ini juga dhaif” (Talhisul Habir 1/72-76).

e. Hadits yang menyatakan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mempunyai handuk untuk berhanduk sesudah wudhu (diriwayatkan oleh Al-Hakim) dan hadits Mu’adz, “Saya melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tatkala selesai wudhu beliau membersihkannya dengan ujung kainnya” (diriwayatkan oleh At-Tirmidzi) adalah dhaif, sebab dalam sanadnya terdapat Abu Mu’adz, ia adalah dhaif (Talhisul Habir 1/99-113).

f. Tentang menyela-nyelai jenggot disebutkan oleh Ibnu Hatim dari ayahnya dan Abdullah bin Ahmad dari ayahnya, ia berkata, “Tidak ada hadits yang shahih dalam hal menyela-nyelai jenggot” (Talhisul Habir 1/87).

g. Ada yang meriwayatkan bahwasanya sunatnya wudhu membaca do’a tatkala membasuh muka, kedua tangan, kepala, dan kaki” (diriwayatkan oleh Ibnu Asyakir)

An-Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah mengatakan, “Do’a ini tidak ada asalnya (bukan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam)” (Talhisul Habir 1/87)

h. Adapun tambahan ALLOHUMMAJ’ALNI MINAT TAWWABINA WAJ’ALNI MINAL MUTATHOHIRIN, sanadnya mudhthorib dan tidak shahih.

Ada do’a lain setelah wudhu, SUBHANAKALLOHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIKA (diriwayatkan oleh An-Nasai, Ath-Thabrani, dan Ad-Darimi). Hadits tersebut mauquf (Talhisul Habir 1/101-102 nomor 121).

 

 

 

(Dikutip dari buku “Tuntunan Shalat Menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, penerbit: Media Al-Fatah Press)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *