THOHAROH (BERSUCI) – bag. 1

Perintah Untuk Bersuci

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqoroh [2]: 222)

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
dan pakaianmu bersihkanlah, (QS. Al-Muddatstsir [74]: 4)

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadas sehingga dia berwudlu.” (HR. Al-Bukhori I/38; Muslim I/144) – lafadz ini dari Muslim.

Alat-Alat Untuk Bersuci

1. Air

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, (QS. Al-Furqon [25]: 48)

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنزلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأقْدَامَ

(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya. dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian). (QS. Al-Anfal [8]: 11)

Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika shalat, maka beliau diam sejenak sebelum membaca Al Fatihah, lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang engkau baca saat engkau diam antara takbir dan membaca Al Fatihah?” beliau menjawab: “ALLAAHUMMA BAA’ID BAINII WABAINA KHATHAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHOTHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANASI, ALLAAHUMMAGH SIL NII MIN KHATHAAYAAYA BITSTSALJI WALMAA’I WALBARAD (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat, Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran, Ya Allah, cucilah aku dari kesalahanku dengan es, air dan embun).” [HR. Al-Bukhori I/130; Muslim I/241; An-Nasai II/99-100] – lafadz ini dari Muslim.

Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata; “Wahai Rasulullah, kami naik kapal dan hanya membawa sedikit air, jika kami berwudhu dengannya maka kami akan kehausan, apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia (laut) adalah suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Abu Dawud 83; At-Tirmidzi 69; An-Nasai I/44; Ibnu Majah 386; Ad-Darimi I/185-186) – lafadz ini dari Abu Dawud.

Dari Ali rodhiyallohu ‘anhu, dalam menerangkan sifat haji Rosulullohu shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

ثُمَّ أَفَاضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِسَجْلٍ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأَ

Kemudian beliau melaksanakan thawaf ifadlah, lalu meminta segayung air Zamzam dan beliau meminumnya kemudian berwudlu [HR. Ahmad I/76; Fathur Robbani I/203]

Dari Abdulloh bin Umar rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُسْأَلُ عَنْ الْمَاءِ يَكُونُ فِي الْفَلَاةِ مِنْ الْأَرْضِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنْ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ

“Aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang air yang ada di tanah lapang dan sering dikunjungi oleh binatang buas dan hewan hewan lainnya, ” Ibnu Umar berkata; Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apabila air itu mencapai dua Qulah maka tidak akan mengandung kotoran (najis).” [HR. Ahmad [Fathur Robbani I/216-217; Abu Dawud (63); At-Tirmidzi (67); An-Nasai (I/42); Ad-Darimi (I/186-187)] – lafadz ini dari At-Tirmidzi.

Keterangan:
• Hadits ini sekalipun ada yang menshahihkannya tetapi banyak imam-imam terkemuka mendho’ifkannya lantaran sanadnya mudhtarib (Tarjamah Bulughul Marom oleh A. Hasan hal. 41)
• Air dua kulah: Air yang berbeda dalam satu bak yang lebar dan tingginya 1 ¼ dzira’.
• Menurut An-Nawawi 1 kulah = 0,5585 m³ = 174,536300 liter.
• Menurut Ar-Rafa’ = 0,560090 m³ = 174,464071 liter. (Al-Khulashah Al-Wafiyah, hal. 209)

Dari Maimunah istri Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

أَجْنَبْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْتُ مِنْ جَفْنَةٍ فَفَضَلَتْ فَضْلَةٌ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا فَقُلْتُ إِنِّي قَدْ اغْتَسَلْتُ مِنْهَا فَقَالَ إِنَّ الْمَاءَ لَيْسَ عَلَيْهِ جَنَابَةٌ أَوْ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ فَاغْتَسَلَ مِنْهُ

“Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam junub, kemudian aku mandi dari bejana dan masih ada sisa air. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk mandi darinya, maka aku pun berkata, ‘Tadi aku telah memakainya untuk mandi? ‘ Beliau lalu menjawab: ‘Sesungguhnya air tidak (berubah) karena janabat, atau tidak menjadi najis dengan sesuatu.’ Kemudian beliau mandi darinya.” (HR. Ahmad VI/350)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata:

إِنَّا نَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيْمِ وَقَدْ أُغْلِيَ عَلَى النَّارِ

Sesungguhnya kami berwudhu dengan air panas yang telah dipanaskan dengan api.” (HR. Ibnu Abi Syaibah [Talhishul Habir I/22])

Dari Ummu Hani’, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْتَسَلَ هُوَ وَمَيْمُونَةُ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ فِي قَصْعَةٍ فِيهَا أَثَرُ الْعَجِينِ

bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi bersama Maimunah dari satu bejana yang ada sisa adonan.” (HR. An-Nasai I/108)

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ

“Sesungguhnya air tidak bisa menjadi najis karena sesuatu kecuali bila merubah bau, rasa dan warnanya.” (HR. Ibnu Majah [521] dari Abu Umamah Al-Bahili.

Keterangan:
Abu Hatim mendhoifkan hadits tersebut, menurut An-Nawawi dha’ifnya hadits tersebut disebabkan karena ada tambahan “kecuali apabila berubah bau, rasa dan warnanya.” Para Ulama telah sepakat bahwa air yang tercampur dengan najis baik sedikit maupun banyak, kemudian berubah warna, rasa dan baunya, maka air tersebut menjadi najis. (Subulus Salam I/19)

Kesimpulan:

  1. Air yang suci dan mensucikan, antara lain: air laut, air mata air, air hujan, embun dan salju.

  2. Air suci yang tercampur zat yang tidak najis, sehingga berubah dari asalnya maka air tersebut tetap suci, tetapi tidak mensucikan, seperti air kopi, air susu, air the, dan sebagainya.

  3. Air tetap suci selama belum berubah warna, rasa dan baunya.

Catatan:

  1. Diriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah melarang ‘Aisyah wudhu dengan air yang terkena panas matahari, sebab dapat menjadikan sakit supak. (Diriwayatkan oleh Daruquthni dan Ibnu ‘Adi). Khalid berkata, “Ibnu ‘Adi adalah pemalsu hadits.” Pendapat itu dikuatkan oleh Wahab bin Wahab Abu Bakhtan dan Hisyam. (Talhishul Habir I/20).

  2. Dari Hakam bin ‘Amr berkata: “Bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang bersuci dengan air sisa bersuci perempuan. (Diriwayatkan oleh imam lima kecuali An-Nasai dan Ibnu Majah). Al-Bukhori berkata, “Hadits dari Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari tidak shahih”, An-Nawawi berkata: “Para ahli hadits telah sepakat mendhoifkan hadits dari Hakam bin ‘Amr tersebut.” (Talhishul Habir I/15).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *