http://www.newmuslim.net/

 

 

CARA MANDI YANG SEMPURNA

 

  1. Mandi Junub

 

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

“Dahulu apabila Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mandi hadas karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan. Beliau menuangkan air dengan menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudhu dengan wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata. Hingga ketika selesai, beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh dan akhirnya membasuh kedua kaki.” HR. Bukhari (I/59), Muslim (I/143) – Lafadz ini dari Muslim.

 

Dari Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ

“Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, lalu aku membukanya untuk mandi junub.” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka), cukuplah kamu menumpahkan air pada kepalamu tiga kali, kemudian kamu mencurahkan air padamu, maka kamu telah suci.” HR. Ahmad (Fathur Robbani no.465), Muslim (I/146), Abu Dawud (251), At-Tirmidzi (I/105), An-Nasai (I/108), Ibnu Majah (I/146) – Lafadz ini dari Muslim.

 

 

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ

“Saya pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana, dan kami berdua dalam keadaan junub.” HR. Al-Bukhari (I/56), Muslim (I/144) – Lafadz ini dari Muslim.

 

Catatan:

  1. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di bawah setiap rambut itu junub maka basuhlah rambut-rambut itu dan bersihkanlah kulitnya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi. Abu Dawud berkata, “Al-Harits bin Wajbah adalah munkar.” Asy-Syafi’i berkata: “Hadits ini tidak kuat.” (Talhisul Habir I/142).
  2. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidur dalam keadaan junub, tanpa menyentuh air sedikitpun sebelumnya. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Abu Dawud berkata, “Hadits ini kesalahpahaman.” Ahmad berkata, “Hadits ini tidak shahih.” Subulus Salam I/88).

 

 

  1. Mandi Haidh

 

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

سَأَلَتْ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَغْتَسِلُ مِنْ حَيْضَتِهَا قَالَ فَذَكَرَتْ أَنَّهُ عَلَّمَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهَّرُ بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا قَالَ تَطَهَّرِي بِهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَاسْتَتَرَ وَأَشَارَ لَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ بِيَدِهِ عَلَى وَجْهِهِ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ وَاجْتَذَبْتُهَا إِلَيَّ وَعَرَفْتُ مَا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ

“Seorang perempuan bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Bagaimanakah cara orang perempuan mandi dari haidnya?” Perawi Hadits berkata, “Kemudian Aisyah menyebutkan bahwa beliau mengajarkan cara mandi kepada perempuan tersebut. Kemudian beliau bersabda, ‘Kamu ambil kapas misk (kasturi), lalu kamu bersucilah dengannya’. Perempuan itu berkata, ‘Bagaimana cara bersuci dengannya? ‘ Beliau bersabda, ‘Maha suci Allah! Kamu bersucilah dengannya dan beliau pun bersembunyi. Sufyan bin Uyainah memberi isyarat kepada kami dengan meletakkan tangan pada wajahnya.” Perawi Hadits melanjutkan ceritanya, “Lalu Aisyah berkata, ‘Maka kutarik perempuan itu karena aku sudah tahu apa yang dikehendaki oleh Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Dan kukatakan kepada perempuan tersebut, ‘Sapulah tempat keluar darah haidmu dengan kapas itu’.” HR. Ahmad (Fathur Robbani no.33) Al-Bukhari (I/66), Muslim (I/147), Abu Dawud (315-316) – Lafadz ini dari Muslim.

 

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْغُسْلِ مِنْ الْمَحِيضِ فَقَالَ تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَهَا فَتَطْهُرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أَوْ تَبْلُغُ فِي الطُّهُورِ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطْهُرُ بِهَا قَالَتْ أَسْمَاءُ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ قَالَتْ وَسَأَلَتْهُ عَنْ الْغُسْلِ مِنْ الْجَنَابَةِ فَقَالَ تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا فَتَطْهُرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أَوْ تَبْلُغُ فِي الطُّهُورِ حَتَّى تَصُبَّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهَا

“Asma` bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mandi junub, lalu beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengambil air dan daun Sidr lalu ia bersuci dan membaguskan bersucinya, atau hingga menjadi bersih. Setelah itu hendaknya ia menuangkan air di kepalanya seraya memijat-mijatnya dengan kuat hingga sampai meresap di pori-pori kepalanya. Kemudian menuangkan air di kemaluannya lalu mengambil potongan kapas untuk membersihkannya.” Asma` bertanya; “Bagaimana cara aku membersihkannya?” beliau bersabda: “Subhaanallah, bersihkanlah dengannya! ” Aisyah berkata -dengan mengucapkannya dengan pelan-, “Engkau bersihkan sisa darah itu dengan kapas tersebut.” Aisyah berkata; Asma` juga bertanya Rasulullah tentang cara mandi junub, maka beliau pun menjawab: “Salah seorang dari kalian mengambil air lalu ia bersuci dan membaguskan bersucinya, atau hingga menjadi bersih. Setelah itu hendaknya ia menuangkan air di kepalanya seraya memijat-mijatnya dengan kuat hingga meresap sampai pori-pori kepalanya. Kemudian tuangkan air ke seluruh tubuhnya.” HR. Ahmad (Fathur Robbani no.33), Al-Bukhari (I/66), Muslim (I/147), Abu Dawud (326), Ibnu Majah (642), Ad-Darimi (I/166-167). – Lafadz ini dari Ibnu Majah.

 

Kesimpulan:

Cara mandi wajib yang sempurna yaitu:

  • Membasuh kedua tangan hingga bersih
  • Istinja’ (membasuh kemaluan)
  • Berwudhu dengan tanpa membasuh kedua kaki terlebih dahulu.
  • Menyiram rambut kepala seraya menggosokkannya sebanyak tiga kali siraman.
  • Meratakan air ke seluruh tubuhnya hingga bersih.
  • Membasuh kedua kaki, untuk menyempurnakan wudhunya.

 

 

  1. Mandi Untuk Sholat Jum’at

 

Rosulullohu shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

قَالَ الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ

 

“Mandi pada hari Jum’at merupakan kewajiban bagi orang yang sudah bermimpi (baligh), dan agar bersiwak (menggosok gigi) dan memakai wewangian bila memilikinya.” HR. Al-Bukhari (I/158), Muslim (I/337). Dari Abu Sa’id Al-Khudri. – Lafadz ini dari Al-Bukhari.

 

 

Rosulullohu shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa yang berwudlu, lalu ia menyempurnakan wudlunya, kemudian mendatangi Jum’at, mendengarkan (khutbah) tanpa berkata-kata, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dengan hari jum’at yang lain, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memegang-megang batu kerikil, maka ia telah berbuat kesia-siaan.” HR. Muslim (I/341), Ibnu Majah (1090). Dari Abu Hurairah. – Lafadz ini dari Muslim.

 

 

Rosulullohu shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ

 

“Sudah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari, pada hari itu dia basuh kepala dan tubuhnya.” HR. Al-Bukhari (I/160), Muslim (I/338), dari Abu Hurairah. – Lafadz ini dari Al-Bukhari.

 

 

http://ztmedia.org

 

 

Kesimpulan:

Mandi untuk Sholat Jum’at itu lebih utama daripada hanya berwudhu.

 

 

Catatan:

Tentang mandi pada hari raya, ada diriwayatkan bahwa Rosulullohu shollallohu ‘alaihi wa sallam mandi pada dua hari (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, dan Al-Faqih bin Sa’din). Dalam sanad hadits Ibnu Majah terdapat dalam sanadnya yang bernama Jubarah dan Maimun bin Mahram, keduanya adalah dhoif. Adapun hadits Faqih bin Sa’din dalam sanadnya terdapat Yusuf bin Khalid. Ibnu Mu’in berkata, “Dia adalah pendusta.” (Sunan Ibnu Majah I/417 no. 1315).

 

 

 

 

 

(Dikutip dari buku “Tuntunan Shalat Menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, penerbit: Media Al-Fatah Press)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *