THOHAROH (BERSUCI) – bag. 3

 

 

 

Benda-Benda Yang Menajiskan Dan Cara Mensucikannya

 

  1. Kotoran Manusia dan Binatang, Darah, Khamer, Wadi, Madzi, Daging Babi, dan Bangkai

 

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

 

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

 

atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempu­an, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayamumlah de­ngan tanah yang baik (bersih); [QS. Al-Maidah (5): 6]

 

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ

 

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci.  [QS. Al-Baqoroh (2): 222]

 

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.  [QS. Al-Maidah (5): 90]

 

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla:

 

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Tiadalah aku beroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi —karena sesungguhnya semuanya itu kotor— atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa, sedangkan dia tidak dalam keadaan memberontak dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  [QS. Al-An’am (6): 145]

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

مُرْنَ أَزْوَاجَكُنَّ يَغْسِلُوا عَنْهُمْ أَثَرَ الْخَلَاءِ وَالْبَوْلِ فَإِنَّا نَسْتَحْيِي أَنْ نَنْهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُهُ

 

“Suruhlah suami-suami kalian untuk menyuci bekas tinja dan air kencing mereka, karena saya malu untuk melarang mereka dari hal itu dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah melakukan hal itu.” [HR. Ahmad (VI/95), At-Tirmidzi dan An-Nasai (Fathur Robbani I/285]

 

 

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

 

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى الْمَسْجِدِ فَبَالَ فَصَاحَ بِهِ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتْرُكُوهُ فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ ثُمَّ أَمَرَ بِدَلْوٍ فَصُبَّ عَلَيْهِ

 

“Seorang Badui datang ke masjid lalu buang air kecil, maka orang-orang berteriak. Hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ‘ Biarkanlah’. Dia pun dibiarkan hingga selesai hajatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk dibawakan seember air yang selanjutnya disiramkannya.” [HR. Al-Bukhori (I/52), Muslim (I/133), Abu Dawud (103), At-Tirmidzi (147), An-Nasai (I/43), Ibnu Majah (529); – lafadz ini dari An-Nasai]

 

 

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

 

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ فَقَالَ الْتَمِسْ لِي ثَلَاثَةَ أَحْجَارٍ قَالَ فَأَتَيْتُهُ بِحَجَرَيْنِ وَرَوْثَةٍ فَأَخَذَ الْحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ وَقَالَ إِنَّهَا رِكْسٌ

 

Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam keluar untuk buang hajat, beliau lalu bersabda: ” Carikanlah tiga buah batu untukku, ” Abu Ubaid berkata; “Maka aku pun membawakan beliau dua batu dan satu kotoran binatang yang telah kering, beliau hanya mengambil dua batu dan melemparkan kotoran binatang tersebut kemudian bersabda: “Sesungguhnya kotoran binatang itu najis.” [HR. Ahmad (Fathur Robbani I/219), Al-Bukhori I/42, At-Tirmidzi (17), An-Nasai I/36, Ibnu Majah (314); – lafadz ini dari At-Tirmidzi]

 

 

Dari Asma’ binti Abu Bakar rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

 

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ قَالَ تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ

 

“Seorang perempuan datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Pakaian salah seorang dari kalangan kami terkena darah haid. Apa yang harus dia lakukan? ‘ Beliau bersabda: “Keriklah darah itu (terlebih dahulu), kemudian bilaslah ia dengan air, kemudian siramlah ia. Setelah itu (kamu boleh) menggunakannya untuk mendirikan shalat.” [HR. Al-Bukhori I/65, Muslim I/136, At-Tirmidzi (138), Ibnu Majah (630), Ad-Darimi I/197; – lafadz ini dari Muslim]

 

 

Dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

 

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

 

“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam karena puteri beliau adalah istriku sendiri. Maka kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad supaya bertanya beliau, lalu beliau bersabda, “Hendaklah dia membasuh kemaluannya dan berwudhu.” [HR. Al-Bukhori I/59, Muslim I/139, Ad-Darimi I/184; – lafadz ini dari Muslim]

 

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Telah dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah: dua bangkai maksudnya ikan dan belalang, dua darah maksudnya hati dan limpa.” [HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan ad-Daruquthni. Hadits ini adalah dho’if namun dishahihkan sebagai hadits mauquf oleh Abu Hatim dan Abu Zur’ah, akan tetapi mauqufnya hadits ini hukumnya sama dengan hadits marfu’ (Talhishul Habir I/25-26); – lafadz ini dari Ahmad]

 

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً

 

“Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan kemudian angkatlah, karena pada satu sayapnya penyakit dan sayap lainnya terdapat obatnya.” [HR. Al-Bukhori dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu (Talhishul Habir I/26-27).]

 

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

 

“Ia (laut) adalah suci airnya dan halal bangkainya.” [HR. Abu Dawud (83), At-Tirmidzi (69), An-Nasai I/44, Ibnu Majah (386), Ad-Darimi I/185-186, dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu.]

 

 

Kesimpulan:

 

  1. Kotoran manusia dan binatang, darah, khamer, wadi, madzi, daging babi, dan bangkai itu najis dan dapat menajiskan benda lain. Jika suatu benda terkena olehnya, hendaklah dibersihkannya sampai hilang. Bangkai yang tidak najis adalah bangkai binatang laut, ikan, belalang, dan binatang yang darahnya tidak mengalir seperti lalat, nyamuk dan sebagainya.
  2. Darah yang tidak najis adalah limpa dan hati.

 

 

Catatan:

 

  1. Wadi yaitu air putih yang keluar mengiringi kencing. Ia adalah najis tanpa diperselisihkan. ‘Aisyah berkata: “Adapun wadi adalah setelah kencing, maka hendaklah seseorang mencuci kemaluannya, lalu berwudhu dan tidak usah mandi.” Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir (Fikih Sunnah I/26)
  2. Madzi yaitu air putih seperti air getah yang keluar sewaktu mengingat senggama atau ketika sedang bercanda, kadang-kadang keluarnya tidak terasa. Keluarnya pada laki-laki dan perempuan, hanya lebih banyak terjadi pada golongan perempuan, hukumnya najis menurut kesepakatan ulama.
  3. Sebagian ulama berpendapat bahwa mani adalah najis. Pendapat yang kuat adalah suci, tetapi disunnahkan mencucinya bila ia basah, dan mengeriknya bila ia kering. ‘Aisyah berkata, “Aku mengerik mani dari kain Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau ditanya mengenai mani yang mengenai kain, maka beliau bersabda: “Ia hanyalah seperti ingus dan dahak, maka cukuplah bagi kamu menghapusnya dengan secarik kain atau dengan daun bidara.” HR. Ad-Daruquthni dan Thahawi. Para ulama berselisih tentang marfu’ dan mauqufnya hadits ini (Fiqhus Sunnah I/27).

 

 

 

  1. Air Kencing Anak Kecil

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi laki-laki cukup disiram.” HR. Ahmad (Fathur Robbani I/244), Abu Dawud (376), An-Nasai I/129), Ibnu Majah (526), dari Abu Samhi rodhiyallohu ‘anhu. Lafadz ini dari An-Nasai.

 

 

Dari Ummu Qais binti Mihshan, ia berkata:

 

أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجْرِهِ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

 

bahwa dia pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama anak laki-lakinya yang masih kecil dan belum makan makanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mendudukkan anak laki-laki tersebut di pangkuannya, lalu anak kecil tersebut kencing, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minta air, lalu memercikannya dengan air tersebut, dan tidak mencucinya. HR. Ahmad (Fathur Robbani I/244), Al-Bukhori I/52, Muslim I/134, Abu Dawud (374), At-Tirmidzi (71), An-Nasai I/128, Ibnu Majah (524), Ad-Darimi I/189. Lafadz ini dari An-Nasai.

 

 

Kesimpulan:

Air kencing anak laki-laki yang belum makan selain air susu ibu, jika mengenai suatu benda, maka membersihkannya boleh dengan dipercikkan air padanya dan boleh juga dicuci. Adapun jika anak perempuan harus dicuci.

 

 

 

  1. Air Liur Anjing

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

 

“Sucinya bejana kalian apabila ia dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.” HR. Muslim I/132, Abu Dawud (71), At-Tirmidzi (91), An-Nasai I/46, Ibnu Majah (364). Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu. Lafadz ini dari Muslim.

 

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الْإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِي التُّرَابِ

 

“Apabila seekor anjing menjilat pada suatu wadah, maka kalian cucilah ia tujuh kali, dan gosoklah dengan tanah pada pencucian yang kedelapan’.” HR. Muslim I/132, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu.

 

Kesimpulan:

Air dalam bejana yang dijilat anjing hendaknya ditumpahkan dan bejana tersebut dicuci tujuh kali. Permulaannya dengan debu.

 

 

 

  1. Kulit Bangkai Binatang

 

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

 

تُصُدِّقَ عَلَى مَوْلَاةٍ لِمَيْمُونَةَ بِشَاةٍ فَمَاتَتْ فَمَرَّ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَّا أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ فَقَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا

 

“Hamba milik Maimunah radhiyallahu’anha pernah diberi sedekah seekor kambing, kemudian kambing tersebut mati. (Tidak berapa lama kemudian) Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melalui tempat tersebut dan bersabda, “Mengapa kamu tidak mengambil kulit bangkai tersebut dan menyamaknya agar kamu bisa memanfaatkannya?” Mereka berkata, “Ia sudah menjadi bangkai.” Beliau bersabda, ” yang diharamkan hanyalah memakannya.” HR. Ahmad (Fathur Robbani I/233), dan Muslim I/156; lafadz ini dari Muslim.

 

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

 

“Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah suci.” HR. Muslim I/157, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu.

 

Keterangan:

Menyamaknya adalah membersihkan kulit dengan sesuatu yang bisa meresap ke dalamnya, mencegah kerusakan dan membersihkannya, misalnya dengan daun salam, kulit manggis dan sebagainya. Menurut Abu Hanifah tidak boleh menyamak kulit hanya dengan dijemur, atau dengan debu, kerikil dan garam. Demikian menurut pendapat yang benar. (Subulus Salam I/54).

 

Kesimpulan:

Sucinya kulit bangkai binatang ialah dengan disamak.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *