https://quranacademy.io

 

 

 

 

 

CARA MENSUCIKAN DIRI DARI HADATS

 

  1. WUDHU

 

Firman Alloh ‘Azza Wa Jalla:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menger­jakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sam­pai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki ka­lian sampai dengan kedua mata kaki; [QS. Al-Maidah (5): 6]

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudlu.” Seorang laki-laki dari Hadlramaut berkata, “Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Kentut baik dengan suara atau tidak.” [HR. Al-Bukhari (I/38), Muslim (I/1440), Ibnu Majah (271). Dari Abu Hurairah. Lafadz ini dari Al-Bukhari]

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudlu, lalu membasuh wajahnya, maka keluar dari wajahnya segala kesalahan yang dia lihat dengan kedua matanya bersama turunnya air wudlu, atau bersama akhir dari tetesan air. Apabila dia membasuh kedua tangannya, maka keluar dari kedua tangannya semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama dengan turunnya air, atau akhir dari tetesan air hingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Muslim (I/121), dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu]

 

  1. Hadats Yang Mewajibkan Wudhu

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ فَقَالَ رَجُلٌ أَعْجَمِيٌّ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ الصَّوْتُ يَعْنِي الضَّرْطَةَ

“Seorang hamba akan selalu dihitung shalat selama ia di masjid menunggu shalat dan tidak berhadats.” Lalu ada seorang laki-laki non-Arab berkata, “Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Suara.” Yaitu kentut. [HR. Ahmad (Fathur Robbani II/75), Al-Bukhari (I/45), Muslim (I/156), At-Tirmidzi (75), Lafadz ini dari Al-Bukhari]

 

Dari Shafwan bin ‘Asal, ia berkata:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا مُسَافِرِينَ أَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافِنَا وَلَا نَنْزِعَهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ

“Bila kami dalam perjalanan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami mengusap sepatu kami, dan tidak melepasnya selama tiga hari karena buang air besar atau buang air kecil, atau tidur, kecuali karena junub.” [HR. An-Nasai I/71]

 

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata:

 

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ

“Apakah kami harus berwudhu karena makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Jika kamu berkehendak maka berwudhulah, dan jika kamu tidak berkehendak maka janganlah kamu berwudhu.” Dia bertanya lagi, “Apakah harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?” Beliau menjawab, “Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.” [HR. Muslim I/156]

 

Keterangan:

Perintah berwudhu karena makan daging unta ini menurut sebagian ulama hanya menunjukkan istishab (sangat disukai) saja, bukan wajib.

 

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

 

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam karena puteri beliau adalah istriku sendiri. Maka kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad supaya bertanya beliau, lalu beliau bersabda, “Hendaklah dia membasuh kemaluannya dan berwudhu.” [HR. Al- Bukhari (I/59), Muslim (91/390), An-Nasai (I/96), Ad-Darimi (I/184); lafadz ini dari Muslim]

 

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

 

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ وَفِي الْمَنِيِّ الْغُسْلُ

“Saya adalah lelaki yang sering mengeluarkan madzi, lantas saya menanyakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab: “Cukuplah dengan berwudlu saja, dan jika keluar mani, mandi.” [HR. Ahmad (I/111)]

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudlu.” [HR. Ahmad (Fathur Robbani II/86), Abu Dawud (181), At-Tirmidzi (82), An-Nasai (I/83-84), Ibnu Majah (479), Ad-Darimi (I/85), dari Bushroh binti Shafwan; lafadz ini dari An-Nasai]

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إِلَى فَرْجِهِ لَيْسَ دُوْنَهَا حِجَابٌ وَلاَ سِتْرٌ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ اْلوُضُوْءُ

“Apabila salah seorang di antara kamu menyentuh tangannya pada kemaluannya dan tidak ada alas atau tutup diantaranya maka wajib wudhu.” [HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya dari Abu Hurairah. Talhishul Habir I/165-166].

 

Dari Qais bin Thalq dari ayahnya, ia berkata:

 

قَدِمْنَا عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا تَرَى فِي مَسِّ الرَّجُلِ ذَكَرَهُ بَعْدَ مَا يَتَوَضَّأُ فَقَالَ هَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْهُ أَوْ قَالَ بَضْعَةٌ مِنْهُ

Kami pernah datang menghadap Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang laki-laki yang sepertinya seorang pedalaman, lalu dia berkata; “Wahai Nabi Allah, bagaimana menurut anda tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah dia berwudhu? Maka beliau bersabda: “Bukankah kemaluannya itu hanya sekerat daging dari orang tersebut?” [HR. Ahmad (Fathur Robbani II/88), Abu Dawud (182), At-Tirmidzi (85), An-Nasai (I/84), Ibnu Majah (183); lafadz ini dari Abu Dawud]

 

Keterangan:

  • Hadits Qois bin Thalq dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Ibnul Madani berkata: “Hadits Thalq itu lebih baik dari pada hadits Bushroh binti Shafwan.” Ath-Thahawi berkata, “Sanad hadits Thalq itu shahih tidak mudhtharib (Subulus Salam I/66).
  • Berdasarkan hadits dari Qois bin Thalq tersebut, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu. Di antara mereka itu adalah Imam Abu Hanifah.
  • Disebutkan dalam Nailul Authar hadits Bushroh binti Shafwan (yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan tanpa alas adalah batal), itu lebih kuat dibandingkan dengan hadits Thalq (yang menyatakan tidak batal), karena:
  • Hadits Thalq sanadnya tidak dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim, sedangkan sanad hadits Bushroh dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim, sehingga hadits Bushroh lebih kuat.
  • Hadits Bushroh lebih banyak yang menshahihkannya dari kalangan ahli hadits karena banyak riwayat lain yang menguatkannya.
  • Hadits Bushroh terjadi di hadapan Muhajirin dan Anshor sehingga diriwayatkan dengan mutawatir.
  • Hadits Thalq bertentangan dengan riwayat Thalq yang lain yang menyatakan bahwa barang siapa yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudhu. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad yang shahih.
  • Abu Hatim dan Abu Zar’ah menyatakan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Qois bin Thalq tergolong hadits yang tidak dijadikan sebagai hujjah. Maka hadits Bushroh menjadi lebih kuat sehingga menyentuh kemaluan tanpa alas adalah membatalkan wudhu (Nailul Authar I/250). Menurut Malik karena dua hadits tersebut bertentangan, maka perintah wudhu karena menyentuh kemaluan adalah perintah sunnah bukan wajib (Subulus Salam I/67).

 

Dalam masalah ini ada dua pendapat, maka kita mengamalkan yang lebih difahami, dengan tidak menjadikannya sebagai pangkal perselisihan yang dapat merusak ukhuwah islamiyah. Wallohu A’lam bins Shawab.

 

Dari Shafwan bin ‘Asal, ia berkata:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Jika kami sedang bepergian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kami tidak membukanya selama tiga hari tiga malam kecuali ketika kami junub. Dan tetap boleh untuk mengusapkan karena buang air besar, buang air kecil dan tidur.” [HR. At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah (Subulus Salam I/111); lafadz ini dari At-Tirmidzi]

 

Keterangan:

Hadits ini menunjukkan bahwa tidur termasuk membatalkan wudhu sebagaimana buang air besar dan kencing, hanya yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah tidur nyenyak.

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

“Sahabat Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menunggu akhir Shalat Isya sampai kepala mereka manggut-manggut (mengantuk), kemudian mereka mengerjakan shalat dan tidak berwudhu lagi.” HR. Muslim (I/61) dan Abu Dawud (200); lafadz ini dari Abu Dawud.

 

Dari Fatimah binti Abu Hubaisy, ia berkata:

أَنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“bahwasanya dia terkena darah penyakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apabila itu darah haidl, maka ia berwarna hitam sebagaimana yang diketahui (oleh wanita). Apabila darah itu ternyata demikian, maka tinggalkanlah shalat. Namun apabila darah itu lain, maka berwudhulah dan kerjakanlah shalat, karena itu hanyalah darah penyakit”.  HR. Abu Dawud (286).

 

Kesimpulan:

Hal-hal yang membatalkan wudhu yang telah disepakati yaitu:

  1. Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur.
  2. Tidur nyenyak.

 

Catatan:

  1. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua mata itu adalah penutup (ikatan) dubur, maka barangsiapa tidur maka haruslah ia wudhu.” HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ad-Daruquthni. Di dalam sanad hadits ini terdapat nama Baqiyyah bin Al-Walid bin Shoid bin Ka’bab Al-Kala’iy yang banyak memalsukan hadits, karenanya ia dho’if (Taqribut Tahdzib 1/1050).
  2. Ada diriwayatkan, bahwasanya wudhu itu wajib atas orang yang tidur miring. Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Abu Dawud berkata, Hadits ini munkar, sebab tidak diriwayatkan hadits ini kecuali dari Yazid (Abu Khalid) Ad-Dalai. Semua ahli hadits memunkarkannya (Talhishul Habir I/121 nomor 162).
  3. Dikarenakan hadits-hadits yang menunjukkan batalnya wudhu disebabkan tidur sanadnya tidak ada yang kuat maka sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa tidur (walaupun nyenyak/pen) itu tidak membatalkan wudhu (Subulus Salam I/115).
  4. Ada pendapat yang menyatakan bahwasanya menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya, bahkan istrinya sendiri itu membatalkan wudhu. Pendapat ini berlandaskan ayat, “AULAMAS TUMUNNISAA” dalam surah an-Nisa ayat 42 dan Al-Maidah ayat 6, yang diartikan secara harfiah “atau kamu menyentuh perempuan”. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibangkitkan untuk menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an, dalam shalat malam pernah menyentuh kaki ‘Aisyah, sebagaimana dikatakan ‘Aisyah, “Sungguh kamu semua melihat aku tidur melintang di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat. Apabila akan sujud maka beliau memijit kakiku, dan aku mengumpulkannya, kemudian beliau sujud”. Dengan demikian, yang dimaksud “menyentuh perempuan” dalam surah an-Nisa ayat 42 dan Al-Maidah ayat 6 adalah menyetubuhi (Rowa’iul Bayan I/486-487).
  5. Hadits yang menyatakan barangsiapa muntah atau mimisan atau bersendawa (tahag) atau keluar madzi, maka hendaklah ia keluar (dari shalat) dan wudhu, kemudian melanjutkan shalatnya, yang dalam hal itu ia tidak berbicara (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ad-Daruquthni). Ash-Shon’ani berkata, “Hadits tersebut mursal” (Subulus Salam I/68).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *