By. BA.

Jangankan di sayang oleh Allah, Rabb yang maha menciptakan segala sesuatu di jagad raya ini, disayangi oleh orang yang kita cintai saja rasanya sangat bahagia. Lalu bagaimana jika Allah Ta’ala yang menciptakan diri ini yang menyayangi kita? Allahuakbar…masya Allah, sungguh berbahagialah setiap hamba yang mendapatkan kasih sayang Allah. Sebab tidak ada rasa sayang melebihi sayangnya Allah, Sang Pencipta kepada seorang hamba muslim.

Terkadang, kita sebagai manusia tempat salah dan dosa, seringkali salah kaprah dalam menafsirkan wujud sayang Allah itu. Jika Allah sayang kepada hamba-Nya, maka tak selamanya dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan di dunia. Atau Allah selalu mengabulkan setiap yang kita panjatkan kepada-Nya. Tidak. Allah tidak selamanya mewujudkan rasa sayang kepada hamba-Nya dengan hal-hal yang diinginkan hamba itu. Bisa jadi malah sebaliknya, Allah uji hamba itu padahal ia adalah orang yang taat dalam ibadah.

Ketahuilah, meskipun seorang hamba sedang diuji oleh Allah berupa kepahitan dalam hidupnya, maka hindari berburuk sangka kepada Allah. Sebab segala sesuatu yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya, maka sejatinya itulah yang terbaik bagi hamba itu jika ia tidak mengedepankan prasangka yang buruk kepada Allah.

Dalam tulisan kali ini, setidaknya akan diulas beberapa bentuk nyata kasih sayang Allah kepada setiap hamba-Nya. Berikut penjelasannya berdasar al Quran dan as Sunnah.

Pertama, memberikan cobaan, ujian dan musibah

Jangan salah menduga saat Anda mengalami ujian berupa musibah, sakit berkepanjangan. Belajarlah untuk selalu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Sebab ujian berupa musibah yang Dia berikan sebenarnya bentuk dari kasih dan sayang-Nya kepada Anda.

Jika seorang muslim bisa lolos dan lulus dari ujian yang ia terima, maka Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya, memudahkan segala urusannya, dan senantiasa membantunya dalam semua urusan.

Setidaknya ada dua hadits yang menguatkan betapa salah satu tanda sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dengan memberinya ujian dalam hidup., Dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

Juga dari hadits Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

Jadi, jangan sejatinya seorang muslim menahan diri untuk tidak mengedepankan prasangka buruk kepada Allah Ta’ala saat diuji dengan musibah dan lain sebagainya. Cobalah merenung dan pelajari kembali betapa jika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan memberikannya ujian.

Kedua, terjaga dari kehidupan di dunia

Sunnatullah, semua kehidupan dunia ini adalah ujian dari Allah Ta’ala. Karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, maka tidak mungkin Allah membiarkan hamba-Nya terjerumus dalam kemaksiatan. Allah Ta’ala akan selalu memberi rasa tenang dan nyaman dalam hati orang beriman.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menjaga hamba-Nya yang beriman dan Dia mencintainya seperti kalian menjaga makanan dan minuman orang sakit (di antara) kalian, karena kalian takut pada (kematian)nya.” (HR. Al Hakim, Ibnu Abi ’Ashim dan Al Baihaqi)

Begitulah besarnya rasa kasih sayang Allah kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Sejatinya, orang beriman pun sadar tentang betapa besarnya rasa cinta dan kasih sayang Allah kepadanya. Bukan malah sebaliknya justru memaksiati-Nya.

Ketiga, adanya kesholehan

Sangat jelas, orang-orang yang sholeh adalah salah satu hamba yang disayangi Allah Ta’ala. Kesholehan adalah nikmat terindah yang tidak pernah ada bandingannya walau dibandingkan dengan dunia beserta isinya.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran) beragama, kecuali kepada yang Dia cintai. Maka barang siapa diberikan (kesadaran) beragama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh–Nya.” (HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)

Keempat, mampu memahami syariat

Orang yang dengan mudah memahami hukum-hukum Islam lalu dimudahkan pula untuk mengamalkannya, adalah orang-orang yang sebenarnya dicintai oleh Allah Ta’ala. Allah tanamkan pemahaman ilmu dinul Islam ini kepadanya setahap demi setahap. Allah akan menuntun setiap langkahnya menuju kebaikan.

Orang yang disayang oleh Allah adalah salah satunya akan dimudahkan memahami ilmu syariat (agama). Dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus tentang al Quran dan hadits didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami al Quran dan hadits dengan benar.

Kelima, diberi-Nya sifat kelembutan

Sifat dan sikap lembut yang melekat pada seorang hamba, merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah menjaganya dengan kelemah lembutannya dalam setiap pembicaraannya, prilakunya kepada orang lain. Sehingga banyak orang yang merasa nyaman dan senang kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya.” (HR. Abu Dawud, sanad: shahih).

Hadits ini menjelaskan bahwa kelembutan akan menjadi penghias bagi sesuatu, sedangkan hilangnya kelembutan membuat suatu perkara menjadi tidak lagi indah. Dan di antara perkara yang membutuhkan kelembuatan adalah dakwah.

Dalam sabdanya yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan At Tarmidzi)

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *