By. Ba.

Apakah Anda seorang pemimpin? Jika benar Anda seorang pemimpin, sudahkah Anda menepati semua janji-janji Anda? Menjadi pemimpin memang sulit dan berat. Sulit karena dia akan dihadapkan dengan berbagai problematika. Lebih sulit lagi kelak semua amanah tentang kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Jangankan mempertanggungjawabkan umat yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan, mempertanggungjawabkan diri dan keluarganya sendiri di hadapan Allah SWT saja sudah tak mampu. Jika demikian, masih berminatkah Anda menjadi pemimpin?

Sekilas, menjadi pemimpin terlihat indah dan menggiurkan. Indah, karena ia merasa seperti raja, sehingga ia bisa main tunjuk sana sini tanpa mempertimbangkan akibatnya. Seolah suaranya suara Tuhan. Seolah tak ada yang bisa menolak jika dia sudah memerintah. Semua orang wajib tunduk padanya, sebab khawatir dianggap pembelot dan tidak taat karena tidak menjalankan amanahnya. Semua orang bisa diberinya amanah ini itu dengan janji-janji muluk.

Berhati-hatilah Anda wahai para pemimpin…?! Tepatilah janji Anda bila berjanji, sebab Allah SWT itu tidak tidur. Dia Maha Melihat setiap gerak-gerik yang dilakukan hambaNya. Bahkan bisikan hati sekalipun Dia Maha Mengetahui. Dia akan membalas setiap kezaliman yang dilakukan para pemimpin kepada umatnya. Tetapi sebaliknya, jika para pemimpin itu mau bertaubat dan melihat segala kesalahannya, insya Allah Allah SWT Maha Penerima Taubat.

Pemimpin adalah seorang pelayan. Karenanya kepemimpinan bukan kemulian (tasyriif) melainkan tugas dan beban (takliif). Dalam Al-Qur’an Allah SWT menggunakan istilah khalifah, yang artinya wakil. Maksudnya adalah seorang yang mewakili Allah di bumi untuk melaksanakan segala aturan dan hukum-hukumNya. Berdasarkan makna ini maka seorang pemimpin yang tidak mengikuti Allah tidak pantas diberi gelar khalifah. Bila seorang pemimpin mewakili Allah, maka ia pasti akan mewakili umatnya. Sebagai wakil umat maka tidak akan pernah menzalimi mereka.

Lihatlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika memimpin. Bagaimana ia telah berhasil membangun persaudaraan, sehingga semua merasa aman di bawah kepemimpinannya. Belum pernah ada cerita bahwa seorang Yahudi atau Nasrani dizalimi pada zamannya.

Bahkan yang sering kita dapatkan adalah kisah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu memberikan makan kepada seorang Yahudi yang buta, membela hak-hak mereka, sepanjang mereka tidak melakukan pengkhianatan. Bukan hanya ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat tegas menegakkan aturan. Diriwayatkan bahwa ia pernah bersabda, ”Law anna faatimata binti Muhammad saraqat la qatha’tu Yadahaa (bila Fatimah putri Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya)”.

Contoh lain lagi tercermin pada kepemimpinan Abu Bakar Ash shiddiq ra yang penuh dengan ketegasan dalam menjaga agama. Sekecil apapun yang merongrong agama, segera di atasi oleh Abu Bakar sedini mungkin. Itu nampak ketika Abu Bakar memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Abu Bakar berkata: ”Lauqaatilanna man yumayyizu bainash shalaati waz zakaati (akan aku perangi orang-orang yang membedakan antara shalat dan zakat)”.

Abu Bakar memang secara fisik kurus, tidak segagah Umar bin Khaththab, tetapi dari segi ketegasan dan keberanian dalam mengambil keputusan, Abu Bakar lebih kuat. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam menentukan arah orientasi kepemimpinan yang penuh dengan tantangan internal maupun ekternal umat sangat dibutuhkan kepemimpinan yang tegas dan berani seperti Abu Bakar.

Umar bin Khaththab hadir dalam kancah kepemimpinan Islam dengan pola yang lain lagi. Diriwayatkan bahwa Umar, masih makan roti kering dan memakai baju yang penuh tambalan, justeru di saat ia mencapai puncak keemasan. Setiap malam Umar keliling dari rumah ke rumah, membantu orang-orang yang lumpuh. Umar juga sempat membelikan kebutuhan sehari-hari bagi para janda yang suaminya gugur di medan tempur. Bagaimana dengan Anda wahai para pemimpin bangsa yang senang pelesiran dan hidup bergelimang harta?

Dikisahkan bahwa suatu malam Umar keliling mengecek kondisi rakyatnya. Dari jauh nampak ada sebuah lampu menyala. Begitu Umar mendekatinya, terlihat seorang ibu sedang masak dan di sampingnya anak-anak kecil sedang menangis. Ketika Umar bertanya, sang ibu menjawab, ”Anakku sedang lapar, dan aku memasak batu, agar mereka tenang.” Mendengar hal itu, Umar langsung mengambil bahan bakanan dan memikulnya sendiri dari Baitul Maal di malam itu juga. Bahkan Umar sendiri langsung memasaknya.

Perhatikan betapa sampai sedetil ini Umar menyadari hakikat tanggung jawab kepemimpinan. Selain itu, suatu hari Umar pernah berkata, “Lain nimtunnahaar dhayya’turra’iyyah wa lain nimtullail dhayya’tu nafsii (bila aku tidur di siang hari, aku telah abaikan rakyatku, dan bila aku tidur di malam hari aku telah abaikan diriku sendiri)”.

Lalu bagaimana dengan para pemimin hari ini? Ingat, hidup ini sekejap dan benar-benar sekejap. Perbaikilah segera cara Anda memimpin wahai pemimpin. Sebab jika tidak, Allah SWT pasti akan membalas semua kecurangan, kezaliman, ketidakadilan, kesombongan yang Anda lakukan kepada umat ini. Torehlah kisah kepemimpinan Anda dengan tinda emas sebelum masa kematian itu datang.

Memimpin tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi yang dipimpin adalah sebuah negara yang jumlah penduduknya banyak, beragam budaya dan bahasa, beragam karakter, wilayah yang sangat luas baik darat maupun laut hampir sama luasnya dengan Eropa. Menjadi pemimpin di Indonesia hal yang sangat prioritas adalah mampu mempersatukan setiap elemen bangsa dalam satu visi dan misi. Kemampuan pemimpin untuk mempersatukan bangsa tidaklah mudah. Track record untuk menjadi pemimpin pasti menjadi perhatian dari obyek yang akan dipersatukan yaitu setiap elemen bangsa.

Selain itu, pemimpin juga harus mampu mengambil hati rakyat sehingga rakyat mencintainya tanpa diiming-imingi materi. Rakyat mencintai pemimpinnya karena kerja keras pemimpin dalam memperhatikan setiap kebutuhan rakyatnya dan rakyat merasa aman karena kepemimpinannya. Pemimpin mampu memecahkan berbagai macam persoalan yang berkembang di masyarakat dan mampu menangani perubahan cepat akibat globalisasi yang berpengaruh besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena pemimpin adalah orang yang diberikan amanah (kepercayaan) tertentu yang diharapkan dapat melaksanakan tugas kepemimpinannya sesuai dengan kedudukan dan jabatannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pernah mengingatkan, pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum tersebut. Oleh karena itu seorang pemimpin hendaklah melayani dan menolong orang yang dipimpin untuk mencapai kemajuan, kesejahteraan umat dan keselamatan dunia akhirat.

Namun, banyak pula pemimpin yang gagal dalam kepemimpinannya. Ini dapat dilihat dalam sejarah kepemimpinan di masyarakat dari masa ke masa. Banyak pemimpin yang dipaksa atau terpaksa mundur dari jabatannya sebelum habis masanya menjabat. Banyak pula pemimpin yang dibenci rakyatnya sehingga mereka dijatuhkan dan diadili oleh rakyatnya sendiri, bahkan ada yang dipenjara, dibunuh dan sebagainya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Berikut inilah di antara penyebabnya.

Pertama, Pemimpin Itu Tidak Menjalankan Amanah. Para pemimpin itu terlena dengan jabatan sesaatnya. Mereka tidak menunaikan amanah itu karena mereka lupa akan hakikat kepentingan yang sesungguhnya, atau karena terpengaruh dengan kemewahan duniawi sampai melengahkan tugas-tugas kepemimpinannya. Akibat lalai dan terpengaruh duniawi, amanah kepemimpinan tak dilaksanakan dan kepemimpinan hanya dijadikan alat untuk mencari keuntungan dan kekayaan duniawi pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Tak heran pemimpin seperti ini demen korupsi. Sikap dan perilaku pemimpin seperti ini yang banyak melahirkan melahirkan berbagai penyimpangan. Salah satu bentuk penyimpangan itu tak lain adalah korupsi dan kezaliman. Dari penyimpangan itu timbul ketimpangan dan kesenjangan hidup di masyarakat akibat mengabaikan amanah. Allah Swt berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menjalankan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan suatu hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”…(Qs. An-Nisa : 58).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengingatkan para pemimpin, “Siapa saja yang dianugerahkan allah sebagai pemimpin, tetapi dia tidak berbuat sesuatu untuk kebaikan umatnya (malah sebaliknya menipu dan menzalimi umatnya ), allah akan mengharamkan surga untuknya.” (HR. Bukhari). Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Asyaddunnaasi ‘azaban yaumul qiyamati imamun jair”. (Orang yang paling sakit siksaan di hari kiamat adalah pemimpin yang zalim (curang).” (HR. Thabrani dari Abdullah bin Mas’ud).

Oleh karena itu wahai para pemimpin…Ingatlah, menjadi pemimpin itu adalah amanah, dan amanah itu adalah titipan Allah berupa perintah untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, termasuk menjalankan keadilan, baik keadilan hukum, pendidikan, ekonomi maupun keadilan dalam bidang lain.

Kesejahteraan rakyat, kebenaran dan keadilan juga merupakan tuntutan rakyat yang telah memberikan kepercayaan penuh kepada para pemimpinnya, karena itu melaksanakan amanah Allah berarti juga melaksanakan kehendak rakyat.

Kedua, Pemimpin yang Mengabaikan Kejujuran. Pemimpin yang tidak jujur menganggap nilai materi lebih tinggi daripada nilai kejujuran, sehingga bila mereka berhadapan dengan suatu yang mendatangkan materi atau keuntungan duniawi, kejujuran tidak ada harganya sama sekali. Maka timbullah kedustaan dan kemunafikan serta kezaliman terhadap rakyat.

Pemimpin yang tidak jujur itu pandai; pandai menipu rakyat, mereka licin selicin belut, mereka licik selicik kancil, mereka pandai merangkai kata, seperti pujangga yang menari di atas kata-kata indah hingga rakyat terlena terutama ketika berkampanye dengan janji-janji indah yang selalu berkedok untuk kepentingan rakyat, tapi sesungguhnya mereka adalah para pembohong (khazzab).

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesudahku nanti akan ada pemimpin-pemimpin yang berdusta dan berbuat zalim, siapa yang membenarkan kedustaannya dan membantu kezalimannya, maka ia tidak termasuk golongan dari umatku dan aku juga tidak termasuk darinya dan ia tidak akan datang ketelaga (yang ada di surga).” (HR. Nasa’i dari Ka’ab).

Dalam hadis di atas, diisyaratkan akan lahir pemimpin-pemimpin yang suka berdusta pada diri sendiri dan kepada umatnya. Dalam kepemimpinannya pemimpin seperti itu selalu menampakkan yang baik dan indah, tetapi dibalik itu ada maksud-maksud tertentu yang dapat merugikan rakyatnya, juga suka berbuat zalim dan aniaya.

Karena itu perlu disadari, kejujuran itu sesungguhnya amat tinggi harganya dihadapan Allah. Kejujuran juga amat besar nilainya dimata rakyat. Kejujuran merupakan tolok ukur kepercayaan rakyat, merupakan cermin keluhuran dan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Dalam hal kejujuran Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertawakkallah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (Qs. At-Taubah: 119).

Ketiga, Pemimpin yang Berakhlak Mazmumah (Buruk). Bila suatu umat dipimpin oleh pemimpin yang berakhlak buruk tidak bermoral dan kepribadiannya yang jauh dari nilai-nilai Islam dan akhlak yang mulia, bisa dipastikan umat itu akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan berkepanjangan. Pemimpin seperti ini akan bertindak sewenang-wenang sehingga umatnya tidak mendapatkan keadilan dan hak-haknya. Sebaliknya, rakyat merasakan kesengsaraan, ketakutan, keresahan dan kegersangan ruhiyah berkepanjangan. Ini membuat umat hidup dalam penderitaan dan kekecewaan.

Bagi umat Islam, mereka tidak akan mendapatkan kebaikan bila dipimpin oleh orang-orang non muslim. Sebab suatu kemustahilan bila orang-orang diluar Islam berbuat dengan ikhlas untuk kemaslahatan bagi umat Islam. Bahkan sebaliknya mereka senantiasa berusaha untuk menghancurkan umat Islam. Umat Islam juga akan hancur bila dipimpin oleh orang-orang munafik yang tidak jelas penguasaan ilmu syariatnya.

Pemimpin seperti ini harus diwaspadai oleh umat Islam dan harus dihindari. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.” (Qs. Al-Baqarah: 204).

Keempat, Pemimpin yang Tidak Punya Kapabilitas. Pemimpin tidak kapabel adalah pemimpin yang kurang cakap, cerdik, dan tidak memiliki kesanggupan dalam memimpin serta tidak memiliki visi dan misi kedepan. Dalam Islam disebut sebagai orang yang tidak fathanah. Tugas kepemimpinan di masyarakat sungguh berat, apalagi jika kepemimpinan itu bertaraf nasional, tentu akan lebih berat lagi, sebab permasalahan yang dihadapi lebih banyak dan kompleks.

Karena itu kepemimpinan sangat menuntut seorang pemimpin yang fathanah (cerdik), yakni cakap, pandai, cerdas, punya kesanggupan dan memiliki visi jauh kedepan. Pemimpin yang fathanah itulah yang akan mampu memimpin dan membangun masyarakatnya. Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (Qs. An-Nahl: 125).

Menurut satu riwayat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak rela jika umatnya dipimpin oleh orang-orang yang berakhlak bejat, tidak beriman serta berlaku zalim. Tapi terkadang umatnyalah yang tidak memperhatikan diri dan nasibnya sendiri. Hal ini terlihat dari cara memilih pemimpin, mereka tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasul. Tidak cerdas memilih pemimpin!

Karena itu, disinilah tugas dan tanggung jawab para ustadz dan ulama memberi tuntunan kepada umat ini bagaimana seharusnya memilih pemimpin menurut tuntunan Al-Qur’an dan Hadis demi kebahagiaan dunia dan akhirat juga keselamatan bagi pemimpinnya. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *