By. Ba

Manusia diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta benda. Semua manusia memiliki kecenderungan ini. Allah berfirman,

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al-Fajr: 20)

“Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil karena cintanya kepada harta” (Al-‘Adhiyat:8)

Allah-lah yang telah mewahyukan kecintaan ini kepada seluruh manusia untuk hikmah tertentu, yaitu agar Allah menguji manusia. Dengan demikian, tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang beriman yang rajin bersedekah pun, bukan orang-orang yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang yang rajin bersedekah adalah orang yang mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi batasnya.

Itulah sesungguhnya yang terjadi pada mereka. Kisah Abu Thalhah diatas menggambar kepada kita bagaimana kondisi hati Abu Thalhah saat ia menyedekahkan hartanya itu. Ia menyadari bahwa harta yang akan ia sedekahkan tersebut adalah harta yang sebetulnya sangat ia cintai. Akan tetapi, karena seruan Allah lebih ingin ia dengarkan dari pada seruan perasaan yang ada dalam hatinya, ia rela berbuat kemuliaan tersebut. Perhatikan firman Allah berikut ini,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta…” (Al-Baqarah: 177)

“Dan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al-Insan:8)

Jadi, para pensedekah itu tetap mencintai hartanya. Namun, kerelaan hatinya lebih besar, imannya lebih kuat, cita-citanya lebih tinggi, kegembiraannya saat orang lain ikut berbahagia lebih menyenangkan baginya dan kedigdayaan agamanya lebih diharapkan olehnya. Ia tidak segan berkorban. Bukan hanya dengan hartanya, jiwanya pun selalu siap ia korbankan untuk meraih kemuliaan itu. Allah juga berfirman,

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (At-Taghabun: 16-17)

Sedekah yang dilakukan dalam kondisi hati sangat terpaut dengan harta, dengan faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi kikir, ternyata memiliki nilai tersendiri. Perhatikan sabda Nabi berikut ini,

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam seraya bertanya, “Wahai Rasulullah! Sedekah seperti apakah yang paling besar pahalanya? Beliau lalu menjawab, “Kamu bersedekah dalam kondisi sehat dan kikir, takut miskin dan mengangankan kekayaan. Jangalah kamu menyepelekan, hingga ketika nyawa sudah berada di kerongkongan, kamu baru mengatakan, “bagi si fulan bagiannya segini dan segitu”, padahal harta tersebut sudah milik orang lain.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)

Begitu pun dengan harta benda, harta tidak tercela karena dzatnya. Allah dalam Al-Quran justru membahasakannya sebagai “khair”, yang artinya kebaikan. Seperti dalam firman Allah,

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan Khairan (harta) yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 180)

Sedekah adalah salah satu manfaat dan kebaikan harta. Banyak jenis ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan harta. Keterbatasan dalam harta bisa menjadi keterbatasan dalam beribadah. Pada kisah para sahabat yang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tadi, dalam riwayat lain dikisahkan, setelah para sahabat mendapat penjelasan dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tentang sedekah dengan selain harta, mereka kemudian pulang.

Namun tidak lama kemudian, mereka datang lagi kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan mengatakan bahwa orang-orang berharta juga mendengar apa yang kami lakukan dan mereka pun mengamalkannya. Saat itu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam hanya bisa menjawab dengan firman Allah, “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,” (Al-Maidah: 54) (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Walau demikian, manusia harus tetap berhati-hati. Allah sering mengingatkan, bahwa harta adalah fitnah. Daya tarik harta terlalu sering menjerumuskan manusia pada kemaksiatan, sikap takabbur dan prilaku melebihi batas. Sebagaimana dengan sebab harta manusia bisa beribadah, dengan sebab harta pula manusia bisa dengan mudah berbuat kemungkaran. Inilah diantara hikmah mengapa Allah membatasi rizki-Nya kepada sebagian manusia. Agar manusia tidak melakukan perbuatan melampaui batas. Allah berfirman,

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 27)

Dengan harta biasanya manusia menjadi orang yang suka bermewah-mewahan. Dan, Allah mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang yang hidup mewahlah yang selalu menjadi penentang para utusan Allah.

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (Saba’: 34)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *