By. Bahron Ans.

Tidak ada satu pun manusia bahkan makhluk di muka bumi ini yang bisa hidup tanpa mendapatkan rezeki dari Allah Ta’ala. Betapa banyak dalil yang menunjukkan bahwa rezeki itu sumbernya dari Allah semata. Seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam al Qur’an.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya. (Qs. Hud: 6).

Jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa ta’ala pada mahkluk-Nya adalah pasti lagi benar untuk menunjukkan betapa Maha Kaya Allah yang memiliki segala sifat kebesaran-Nya.

Firman lain, Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Qs. Ali Imran: 109).

Selain dari Allah Subhanahu wa ta’ala siapa lagi yang bisa mencukupkan sumber rezeki yang tidak pernah putus-putus untuk menghubungkan siklus kehidupan di alam ini. Bukan satu atau dua hari tetapi ribuan bahkan mungkin jutaan tahun. Hanya Dia saja yang berhak dan layak untuk menurunkan dan mengeluarkan segala rezeki dari sumber mana yang Dia kehendaki.

Inilah antara makna “ilah” yang terkandung di dalam kalimat syahadat yaitu “la ilah haillallah”. Dalam permasalahan rezeki, kalimat syahadat ini mengajar kita i’tiqad “Tidak ada yang memberi rezeki selain Allah”. Jika seseorang mengakui bahwa ada makhluk yang memberi selain Allah berarti dia telah beri’tiqad dengan i’tiqad yang salah dan berakibat syirik.

Secara bahasa, rezeki (rizki), berasal dari kata rozaqoyarzukurizqon, yang bermakna “memberi / pemberian”. Sehingga makna dari rizki adalah segala sesuatu yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’laa kepada hamba-hamba-Nya dan dimanfaatkan oleh hamba tersebut.

Dari pengertian di atas dapat difahami bahwa yang termasuk dalam ketagori rezeki, tidak terbatas hanya pada besar kecilnya gaji dan pendapatan atau banyak tidaknya harta maupun uang yang tersimpan. Tetapi makna rezeki lebih luas daripada itu. Kesehatan tubuh dan jiwa, udara yang kita hirup, air hujan yang turun, keluarga yang menyenangkan, kepandaian, terhindarnya dari kecelakaan atau musibah, dan lain sebagainya adalah bagian dari rezeki Alloh Subhanahu wa ta’laa.

Termasuk juga turunnya hidayah Islam pada diri seorang hamba, pemahaman akan ilmu agama, terbukanya pintu-pintu amal shalih dan bahkan husnul khatimah dan mati syahid juga merupakan bagian dari rizki yang tiada tara. Dan masih banyak lagi karunia Allah Subhanahu wa Ta’laa yang sangat luar biasa, yang di-karuniakan kepada hamba-hamba-Nya dan tidak mungkin terhitung.

Setelah memahami makna dari rezeki, tentu tidak ada alasan seorang muslim untuk tidak bersyukur kepada Ar Roziq (Maha Pemberi Rezeki). Semua makhluk pasti mendapatkan rezekinya. Apakah ia manusia yang beriman atau kafir, kelompok jin yang taat atau jin syetan, semua binatang, para malaikat, tumbuhan dan semua makhluk-Nya yang Dia ciptakan. Hal ini menunjukkan asma dan sifat-Nya Ar Rohman (Maha Pengasih). Rezeki Allah Subhanahu wa ta’laa pasti terus mengalir.

Tidak ada satu makhlukpun yang sanggup menghalangi berjalannya rezeki pada seseorang bila, Allah Subhanahu wa ta’laa menghendaki itu terjadi. Begitu pula sebaliknya, tidak ada satu makhlukpun yang sanggup memberikan rezeki pada seseorang, bila Allah Subhanahu wa Ta’laa menghendaki hal itu tidak terjadi padanya. Kepastian datangnya rezeki di dunia, seiring kepastian nyawa hadir pada diri makhluk. Atau kata lainnya, tanda rezeki dunia seseorang itu habis adalah hadirnya kematian padanya.

Pertanyaannya ? Bila rezeki sudah ditetapkan, lalu mengapa masih diperlukan kunci-kunci rezeki?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

(( …ثمُ َّيُرْسَلُ إلِيَهِْ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَات : بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ … ))

“…Kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal : menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan apakah ia celaka atau bahagia…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang ada empat perkara ketetapan Allah Subhanahu wa ta’laa yang terjadi pada diri manusia, dimana tidak ada satu manusiapun yang bisa mengubah hal itu, yaitu rezeki, ajal, amal dan celaka dimana manusia tidak ada yang bisa memahaminya kecuali atas izin Allah Subhanahu wa ta’laa. Empat perkara di atas adalah permasalahan ghaib, tidak ada makhluk yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa ta’laa.

Berkenaan dengan rezeki, jodoh, amal serta kebahagiaan, manusia hanya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan berikhtiar mengusahakannya agar terpenuhinya segala pilihannya. Sedangkan hasil, kembalinya tetap kepada takdir Allah Subhanahu wa ta’laa. Manusia tidak akan bisa memastikan akan hidup selamanya walaupun dia berusaha semaksimal mungkin untuk memperpanjang usianya. Manusia tidak akan bisa menjamin akan miskin dan sengsara selamanya, kalau Allah Subhanahu wa ta’laa menakdirkan dia menjadi kaya atau bahagia di waktu tertentu, begitu pula sebaliknya.

Sejatinya, hal yang harus ada pada hati setiap Muslim, adalah sikap husnudzon (prasangka baik) kepada Allah Subhanahu wa ta’laa. Apa yang Dia pilihkan untuk makhluknya, adalah yang terbaik bagi makhluk tersebut. Allah Subhanahu wa ta’laa tidak mungkin salah dalam memberikan suatu ketetapan. (sumber: mina)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *