Shalat Terakhir Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kisah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung banyak pelajaran yang bisa kita petik. Salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang mulia dan tingginya kedudukan shalat.

Ketahuilah bahwa shalat terakhir yang dilaksanakan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menjadi imam bagi orang-orang beriman dan para sahabat. Yaitu shalat dzuhur pada hari kamis. Setelah itu, sakit Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah parah. Selama tiga hari beliau tidak mampu keluar melaksanakan shalat jama’ah bersama para sahabat. Dimulai dari hari jum’at, sabtu dan ahad. Pada tiga hari tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammeminta sahabat Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ‘anhu untuk memimpin shalat.

Pada waktu fajar hari senin, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Beliau membuka tabir kamarnya untuk melihat sahabat-sahabatnya yang sedang shalat. Dan itu adalah tatapan perpisahan. Yang mana perpisahan ini sungguh sangat luar biasa.

Sahabat Abu Bakar ketika memimpin shalat para sahabat, yang mana ketika itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit parah bahkan meninggal setelah sakit tersebut.

Ketika hari senin, semua sahabat berdiri shalat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka tabir kamarnya untuk melihat sahabat-sahabatnya yang sedang shalat. Wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan seakan-akan lembaran mushaf. Kemudian beliaupun tersenyum bahkan tertawa. Maka para sahabatpun berkata, “hampir saja kami merusak shalat kami disebabkan bahagianya kami dan senangnya kami melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“. Maka sahabat Abu Bakar pun mundur untuk berdiri di shaf. Dia menyangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin keluar untuk memimpin shalat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat agar ia meneruskan shalat. Kemudian beliau kembali menutup tabirnya dan beliau pun meninggal pada hari itu.

Mari kita perhatikan dan mengambil pelajaran dari kisah yang agung ini. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada umatnya berkumpul di masjid. Ia pun menatap mereka dengan tatapan perpisahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelihat umatnya dan hatinya pun merasa sejuk ketika melihat para sahabat-sahabatnya berdiri untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Ini adalah senyuman kebahagiaan. Senyuman yang penuh haru karena beliau melihat para sahabatnya berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Ketika beliau menutup kembali tabir kamarnya, diapun merasa bahagia karena telah menyaksikan pemandangan yang sungguh sangat membahagiakan.

Kedudukan dan keagungan shalat tidak sampai disini. Sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan sebagaimana tertera dalam musnad Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, bahwa beliau meriwayatkan perkataan terakhir yang diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: “Jagalah shalat…Jagalah shalat… Bertaqwalah kepada Allah terhadap budak kalian” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Al Albani)

Ibnu Majah juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu. Bahwasannya wasiat terbanyak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berada dalam sakaratul maut, ucapan beliau adalah “jagalah shalat dan berbuat baiklah kepada budak-budak kalian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang ucapan tersebut didadanya karena beliau tidak mampu mengucapkannya dengan lisannya.

Hal ini menunjukkan kedudukan dan keagungan shalat dalam agam Islam. Juga menunjukkan besarnya perhatian Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam terhadap ibadah ini.

Siapa saja yang membaca hadits-hadits atau wasiat-wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diseluruh hidupnya, dia akan mengetahui tingginya nilai shalat dalam Islam. Bahkan diantara keutamaan terbesar dari ibadah shalat ini adalah ibadah ini dikhususkan dan diistimewakan dari ibadah-ibadah yang lain. Bahwasannya Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat sendiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kelangit ke tujuh. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar langsung perintah tersebut tanpa perantara.

Sumber: radiorodja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *