Nasib Muslim Uighur

 

 

 

Kebencian terhadap Islam begitu kuatnya, sehingga kaum muslimin Uighur yang tinggal di Provinsi Xinjiang, China, sejak lama telah menjadi sasaran kedzoliman rezim di negerinya.

Warga minoritas muslim Xinjiang dipaksa oleh Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC)  untuk memasang aplikasi yang digunakan untuk memata-matai mereka. Hal itu dimuat oleh Radio Free Asia pada hari Kamis (13/07/2018) lalu. Melalui WeChat dengan menggunakan bahasa uighur dan cina ini, dikatakan bagi warga minoritas muslim Xinjiang yang menggunakan telpon pintar Android harus memasang aplikasi tersebut bernama “Jingwang” dengan memindai QR Code yang tertera pada pengumuman tersebut.

 

Foto : Surat edaran dari pemerintah Cina (Radio Free Asia)

 

Pemerintah Cina mengklaim bahwa usaha yang dilakukan tersebut mencegah gerakan terorisme menjalar ke negaranya. Karenanya, aplikasi “Jingwang” ini memiliki fungsi untuk mendeteksi terorisme dan video keagamaan ilegal, gambar, buku dan dokumen elektronik secara otomatis. Jika konten ilegal terdeteksi, pengguna akan diperintahkan untuk menghapusnya. Apabila warga minortias muslim Xinjiang tidak menghapus konten tersebut atau tidak memasang aplikasi “Jingwang”, akan ditahan oleh polisi setempat selama 10 hari. Hal itu dikatakan seorang warganet di twitter.

 

 

Saat ini nasib minoritas muslim berada di ujung tanduk. Otoritas China mengirim satu juta warga Uighur ke kamp-kamp penahanan. Mereka yang ditangkap adalah orang-orang yang menunjukkan kepatuhan terhadap ajaran Islam, seperti shalat, berpuasa, tidak minum alkohol, tidak makan babi, menumbuhkan jenggot, dan mengenakan pakaian tertutup. (merdeka.com, 12/9/2018).

Lebih dari 60.000 guru agama, dan ulama telah dibuang ke penjara dengan dalih “memerangi ekstremisme”.
Ulama besar Muhammad Salih terbunuh di penjara, dan imam terkenal lainnya seperti Abdushukur Haji telah dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. (an-najah.net, 25/5/2018).

Dan ironisnya, tak ada negeri muslim lain di dunia yang menyoal pelanggaran hak asasi manusia di sana. Islamofobia telah merampas hak asasi muslim Uighur di Xinjiang. Namun semua negara bungkam. Padahal mereka adalah saudara kita seiman. Sampai kapan mereka harus menahan penderitaan?

 

Melalui seorang warganet yang mengunggah statusnya di Weibo mengatakan, tak hanya memata-matai isi konten menggunakan sertifikat digital MD5 pada berkas yang ada di ponsel, Aplikasi ini juga dapat merekam percakapan WeChat dan aktivitas yang dilakukan di sosial media Weibo. Selain itu, aplikasi ini juga menyimpan data Wifi login serta IMEI dan kartu sim yang digunakan.

 

Saatnya umat Islam menyatukan langkah. Merapatkan barisan dan menguatkan azzam. Agar Islam kembali tegak di muka bumi ini. Dan mengembalikan kehormatan kaum muslim yang hari ini terabaikan. Di Xinjiang, Palestina, Irak, Suriah, Indonesia, dan di negeri lainnya di permukaan bumi ini.

Allah SWT berfirman :
“Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. (QS. Ali Imran: 103)

Rasulullah Saw pun bersabda :
“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *