Kembali, Gaza dibombardir oleh zionis tanpa belas kasihan. Yang lebih menyedihkan, penyerangan itu dilakukan di awal Ramadhan tahun 2019 ini. Bagi umat Islam, bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang dinanti dan penuh berkah saat umat Muslim menjalankan ibadah  puasa. Tetapi faktanya hari ini, Gaza menerima sambutan di luar harapan masyarakat Gaza.

Alih-alih mendapatkan kedamaian saat menjalankan ibadah puasa di bulan suci ini mereka malah mendapat hantaman hebat dalam aksi brutalnya Zionis dengan dalih menghancurkan kelompok gerilyawan di wilayah tersebut.

Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, Rofi Munawar, mengecam tindakan Israel yang melakukan penyerangan ke Gaza di bulan Ramadhan. Terlebih Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan militer untuk melanjutkan serangan besar-besaran terhadap gerilyawan di Gaza.

“Serangan yang dilakukan oleh tentara zionis ke pusat kota Gaza sangat sporadis dan brutal, mengganggu dan mengancam aktivitas ratusan ribu warga Palestina yang saat ini sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Jika situasi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin krisis akan semakin membesar dan berkelanjutan,” kata Rofi dalam rilis yang diterima Sindonews, Jakarta, Selasa (7/5) kemarin. (sindonews.com, 7/5/2019)

Seperti diketahui bahwa serangan-serangan militer yang dilakukan zionis bukanlah perang antar militer yang lazim dilakukan suatu negara. Namun nyatanya yang terjadi, justru pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak berdosa. Terbukti, banyaknya korban dari warga sipil seperti wanita hamil dan anak-anak serta bayi yang masih berusia satu tahun.

Alasan-alasan yang dilontarkan zionis selalu berlandaskan politik. Membasmi gerilyawan yang diklaim sebagai teroris. Padahal, alasan yang senantiasa dikembangkan hanyalah untuk menjustifikasi langkah-langkah militer mereka.

 

Hilangnya Rasa Kemanusiaan

Saat ini, dunia dengan negara-negara besarnya termasuk negara Muslim sekalipun tidak ada yang mau atau bisa melakukan aksi pembelaan dalam membantu Gaza saat ini. Kezaliman yang sangat keji tanpa belas kasih dilakukan di depan mata dunia. Sejatinya, umat Muslim dunia mengutuk langkah Zionis dalam melakukan tindak kekerasan terhadap warga Gaza di Palestina. Namun, kecaman umat Muslim dunia tidak membuat mereka jera dan berhenti. Ironisnya, dunia internasional diam seribu bahasa melihat kondisi tersebut.

Hal ini terjadi akibat semakin hilangnya rasa Kemanusiaan dalam diri masyarakat dunia. Hak Asasi Manusia (HAM) yang dielu-elukan dunia internasional sebagai jalan penghormatan, dimana manusia memiliki hak yang melekat pada dirinya karena ia adalah seorang manusia yang wajib dibela dan diberikan kenyamanan dalam dirinya tidak didapatkan warga Gaza, Palestina.

Definisi buatan manusia ini seakan-akan memang dilahirkan untuk membela hak manusia dari kezaliman. Dikatakan hak asasi manusia berlaku kapanpun, di manapun, dan kepada siapapun, sehingga sifatnya universal. HAM pada prinsipnya tidak dapat dicabut oleh siapapun. Namun pada kenyataannya, hanya hak negara-negara tertentu saja yang mendapatkan hak mereka untuk dilindungi. Tetapi faktanya, negara muslim dunia seakan dirampas hak mereka untuk bisa hidup dengan damai tanpa penindasan dalam bentuk apapun.

Terlihat jelas, aturan yang dibuat oleh manusia sudah pasti tidak akan sampai membawa kebaikan ataupun kebahagiaan bagi siapapun. Dilihat dari prakteknya, HAM hanyalah alat negara-negara kufur dan Zionis untuk mendapatkan legitimasi atas kezaliman terhadap muslim Gaza, hingga hari ini. Rasa kemanusiaan semakin memudar dan tidak lagi menjadi tujuan utama umat manusia untuk hidup saling berdampingan dengan damai di dunia ini. Politik kepentingan dan hawa nafsulah yang lebih mewarnai pengikisan rasa kemanusiaan dalam diri manusia di belahan dunia manapun.

 

Islam Datang Untuk Gaza

Rasa kemanusiaan umat dunia yang semakin terkikis ini, sejatinya akan tergantikan dengan datangnya kembali cahaya Islam sebagai satu-satunya jalan penolong atas penderitaan umat Muslim dunia. Masalah yang terkait konflik Gaza dan Zionis, umat Muslim harus melihat perjalanan Rasulullah melewati masa-masa sulit saat Islam pertama Kali hadir untuk rahmat bagi semesta Alam.

Masa sulit Rasulullah di awal dakwah beliau berada dalam kondisi yang menyedihkan. kondisi sulit ini terjadi pada periode Makkah selama 13 tahun. Pada saat beliau berada di Madinah, setelah berjalan selama dua tahun, turunlah ayat: “Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizalimi. Sesungguhnya Allah untuk menolong mereka adalah sangat mampu.” (Al-Haj: 39). Maka, ini merupakan izin bagi mereka untuk berperang.

Kemudian setelah itu turun lagi ayat: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)

Setelah itu, turun ayat: “Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (At-Taubah: 12)

Maka, apa yang telah dilakukan Zionis hari ini merupakan cerminan apa yang dihadapi Rasulullah saat berhadapan dengan kedzaliman, ketika beliau menyampaikan kebenaran (Islam) di muka bumi. Yaitu, kesabaran tanpa batas dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut dengan penantian dan kesabaran hingga datangnya ayat-ayat Allah untuk dibolehkannya berjihad dan memperoleh kemenangan hakiki.

Bahkan tentang sabar ini Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar: 10). Jadi, sabar merupakan ibadah. Kita beribadah kepada Allah dengan amalan kesabaran.

Seperti halnya kesabaran yang dijalani warga Gaza di Palestina saat ini. Kebanyakan mereka tidak memiliki keahlian berperang, baik terkait dengan urusan-urusan maupun strategi-strategi perang, sebagai sasaran serbuan, sasaran serangan, dan sasaran pukulan hebat bagi warganya. Mereka tetap sabar menghadapi gempuran, serangan yang harus mereka bayar mahal dengan darah keluarga dan para syuhada.

Selain sabar,  jalan lain menuju kemenangan adalah dengan jihad fi sabilillah. Membela agama Allah, sampai maut terpisah dari raga seorang muslim. Melihat situasi mencekam yang dialami Gaza saat ini, membuat sebagian orang mengatakan bahwa, “Penyelesaian permasalahan yang terjadi adalah dengan jihad dan seruan untuk berjihad.”

Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan, “Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah.”

Dipahami dari pernyataan Ibnu Taimiyah di atas bahwa jihad dalam pengertian syar’i adalah istilah yang meliputi penggunaan semua sebab dan cara untuk mewujudkan perbuatan, perkataan, dan keyakinan (i’tiqad) yang Allah cintai dan ridhoi serta menolak perbuatan, perkataan dan keyakinan yang Allah benci dan murkai.

Firman Allah: ”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. 9, At Taubah : 123)

Dalam surat ini, kaum muslim diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik. Ketika ayat ini diturunkan, perintah memerangi kaum musyrik langsung bisa dijalankan. Pasalnya, Daulah Islamiyah sudah berdiri kokoh. Surat ini termasuk yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Ada 2 (dua) macam jihad fi sabilillah dalam Islam yaitu Jihad Defensif (difa’i) atau membela diri dan Jihad Ofensif (ibtida’i) atau memulai perang terlebih dahulu.

Jihad defensif (difa’i) adalah jihad yang terjadi karena kaum muslim diserang terlebih dahulu oleh musuh Islam. Hukumnya fardu ‘ain bagi penduduk yang diserang dan wilayah sekitarnya dan fardu kifayah bagi kaum muslimin yang lain. Jihad defensif Ini bisa dilakukan kapan pun, termasuk masyarakat Gaza saat ini yang sedang mengalami penyerangan wilayah negaranya secara paksa.

Seruan jihad merupakan kewajiban yang harus dijakankan. Para militer di negeri kaum muslimin lainnya wajib membantu Gaza dalam melawan penjajah Zionis.

Sedangkan jihad ofensif (ibtidâ’i) adalah jihad yang dilakukan saat Daulah Islam ada. Jihad ini harus dijalankan di bawah komando Daulah Islamiyah. Pasalnya, jihad ini dilancarkan dalam kerangka futuhat (pembebasan) sebagai upaya memperluas wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah dengan cara menaklukkan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya dikuasai penguasa kafir dan sistem kufur. Selanjutnya, wilayah yang telah ditaklukkan tersebut diintegrasikan dengan Daulah Islamiyah. Bertolak dari fakta ini, jihad ofensif tidak bisa dilakukan jika tidak ada Daulah Islamiyah.

Umat muslim tidak akan pernah menolak jalan jihad karena Allah dengan sepenuh hati. Akan tetapi, Islam mensyariatkan dan Rasul pun mengajarkan, bolehnya perdamaian dan gencatan senjata antara umat muslim dengan orang-orang kafir. Jalan damai merupakan salah satu proses pembebasan.

Allah telah berfirman: “Jika mereka (orang-orang kafir) condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya (terimalah ajakan perdamaian tersebut)” (Al-Anfal: 61). Maknanya adalah Islam dibolehkan berdamai dengan orang-orang kafir, termasuk Zionis saat ini. Meskipun mereka telah merampas sebagian tanah Palestina, dalam rangka menjaga darah kaum muslimin serta menjaga jiwa mereka tetap saja gencatan senjata dibolehkan.

Diiringi kesabaran yang tinggi, upaya mempertahankan wilayah pun tetap dilakukan yaitu dengan jihad defensif. Maka, sabar dan jihad defensif adalah satu agenda utama warga Gaza, Palestina saat ini. Sabar merupakan obat. Dengan kesabaran dan ketenangan, membuat masyarakat Gaza mampu melewati hari-hari kelam mereka dengan keyakinan Allah selalu bersama mereka.

Warga Gaza dan umat muslim dunia memohon kepada Allah atas pertolongan-Nya. Memohon agar Allah menunjukkan keajaiban-keajaiban qudrah-Nya (kuasa) atas para penjajah, para penindas, dan para perampas yang zalim serta penganiaya yang dilakukan oleh Zionis terhadap negeri Palestina. Yakinlah bahwa dari kegelapan akan muncul cahaya kemenangan yang Allah janjikan melalui tegaknya Daulah Islam sebagai junnah umat muslim di seluruh dunia. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber:
Desi Wulan Sari
www.mediaoposisi.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *