Wudhu yang baik adalah yang sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan hadits-hadits shahih dapat disimpulkan bahwa tata-cara wudhu yang beliau contohkan adalah sebagai berikut:

 

  1. Niat

Diriwayatkan dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu yang diniatkannya, (HR. Muslim)

 

  1. Membasuh telapak tangan

 

  1. Berkumur-kumur, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan satu tangan dan menggunakan air yang terambil oleh tangan tersebut.

 

Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدٍ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dari satu telapak tangan, beliau lakukan hal itu tiga kali.”

(HR. Muslim dan Tirmidzi, dan lafadz ini dari Tirmidzi)

 

Diriwayatkan dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah di antara jari-jemarimu dan bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

  1. Membasuh muka

 

  1. Membasuh tangan kanan sampai ke siku atau lebih, kemudian tangan kiri, dan memulainya dari ujung jari.

 

Nu’aim bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

bahwa dia pernah melihat Abu Hurairah berwudlu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai kedua bahu, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudlu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya’.” (HR. Muslim)

 

  1. Mengusap kepala mulai dari bagian depan (tempat tumbuhnya rambut), kemudian ke belakang sampai ke tengkuk, lalu mengembalikannya ke depan.

 

Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, beliau memajukan dan mengundurkan keduanya, memulai dengan bagian depan kepalanya kemudian menjalankan keduanya sampai pada bagian tengkuk, setelah itu mengembalikan keduanya sampai kembali pada tempat yang semula, setelah itu mencuci kedua kakinya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan lafadz ini dari Tirmidzi)

 

  1. Mengusap daun telinga dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam telinga kemudian menggosok bagian dalamnya dengan jari telunjuk dan bagian luar dengan ibu jari. Air untuk mengusap telinga bukan sisa air yang dipergunakan untuk mengusap kepala.

 

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الطُّهُورُ فَدَعَا بِمَاءٍ فِي إِنَاءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِي أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا أَوْ نَقَصَ فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ أَوْ ظَلَمَ وَأَسَاءَ

dari ‘Amru bin Syu’aib dan Ayahnya dari Kakeknya bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Ya Rasulullah, bagaimanakah cara bersuci? Maka beliau memerintahkan untuk didatangkan air di dalam bejana, lalu beliau membasuh telapak tangannya tiga kali, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua lengannya tiga kali, kemudian mengusap kepalanya lalu memasukkan kedua jari telunjuknya pada kedua telinganya, dan mengusap bagian luar kedua telinga dengan kedua ibu jari dan bagian dalam kedua telinga dengan kedua jari telunjuknya, kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali tiga kali, kemudian beliau bersabda: “Beginilah cara berwudhu, barangsiapa yang menambah atau mengurangi dari keterangan ini, maka dia telah berbuat kejelekan dan kezhaliman atau kezhaliman dan kejelekan”. (HR. Abu Dawud)

 

  1. Membasuh kaki kanan sampai mata kaki atau lebih, kemudian kaki kiri dan memulainya dari ujung jari.

 

  1. Menyempurnakan basuhan dan usapan terhadap anggota wudhu.

 

  1. Berdo’a setelah berwudhu dengan membaca:

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

 

Dalam membasuh anggota wudhu, boleh tiga kali tiga kali sebagaimana diuraikan di atas. Boleh juga dua kali dua kali seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu dua kali dua kali.” (HR. Bukhari)

 

Dan satu kali satu kali pun diperbolehkan, berdasar pada hadits:

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً

dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu’ sekali sekali.” (HR, Bukhari)

 

Dalam masalah-masalah yang di dalamnya ada dua pendapat atau lebih, maka kita mengamalkan yang lebih difahami berdasar hadits-hadits shahih, dengan tidak menjadikannya sebagai pangkal perselisihan yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah. Wallohu a’lam bish-shawaab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *