TUJUH PENDIRI HAMAS, PENGGUNCANG EKSISTENSI ISRAEL

Lelaki-lelaki agung. Merekalah yang menaklukkan ‘gunung-gunung’ tantangan, merambah ‘hutan’ kesulitan, memecahkan cadasnya konspirasi dengan tekad baja mereka. Konsipirasi atas sebuah bangsa lemah yang sedang dihadapkan kezhaliman dan ketertindasan paling kejam di era modern yakni bangsa Palestina.

Lelaki-lelaki itulah yang menorehkan “keterangan resmi” Hamas untuk pertama kali saat peletakan batu pertama di tahun 1987. “Keterangan resmi” itu adalah deklarasi sebuah gerakan raksasa-raksasa. Mereka memilih “Mushaf Al-Quran dan Senapan” sebagai symbol dan prinsipnya untuk mengembalikan kejayaan sebuah negeri yang terluka.

Tujuh lelaki-lelaki yang membangun istana Hamas yang kokoh. Merekalah yang menggambar rambu-rambu jalan kemenangan dan kekuasaan. Mereka yang menggariskan simbol-simbol kemuliaan dan kebanggaan. Merekalah yang meletakkan batu bata masa depan kebebasan. Sebagian pejuang itu harus menjadi tawanan, korban luka, dan ada yang bertemu Allah dalam keadaan syahid. Lelaki bagaikan gunung kokoh itulah pendiri Gerakan Perlawanan Islami, Hamas.

Ahmad Yasin, Syaikul Mujahidin (Foto: PIC)

Ahmad Yasin, Syaikul Mujahidin

Syekh Ahmad Yasin dikenal sebagai gurunya pada mujahidin, simbol perlawanan. Syaikh lumpuh di kursi roda karena sakit. Namun ia mampu menyalalakan obor jihad di Palestina. Dengan cahaya hatinya,beliaumenerangi hati umat yang sedang terluka.

Bernama lengkap Ahmad Ismail Yasin, lelaki ini dilahirkan di desa bersejarah Jaurah Asqolan (Eshkalon) bagian dari wilayah kota Majdal, 20 km dari utara Gaza pada Juni 1936. Tahun itu pertama kali meletus revolusi bersenjata melawan pengaruh Israel yang semakin luas di tanah Palestina. Ayahnya meninggal dunia pada saat Yasin kecil belum genap berusia tiga tahun. Di masa kecilnya beliau dijuluki Ahmad Sa’dah dinisbatkan kepada ibunya ibunda Sa’dah Abdullah Habil.

Ketika Ahmad Yasin berusia 12 tahun, meletus Nakba tahun 1948. Keluarganya dipaksa berhijrah ke Gaza bersama puluhan ribu keluarga Palestina yang diusir oleh mafia penjahat Zionis Israel.

Di usia 17 tahun, terjadi peristiwa yang mempengaruhi seluruh hidupnya. Dalam kecelakaan saat sedang bermain gulat (sparing) persahabatan dengan salah satu temannya, tulang lehernya mengalami keretakan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1952. Setelah 45 hari, lehernya disanggah dengan gip, ternyata beliau mengalami kelumpuhan seperempat dari tubuhnya.

Namun Ahmad Yasin tidak memberi tahu kepada siapapun bahwa beliau mengalami hal itu karena sparing dengan salah satu temannya Abdullah Al-Khatib khawatir terjadi masalah antara keluarganya dengan keluarga Al-Khatib. Hal itu terungkap pada tahun 1989. Akibat kecelakaan itu pula, Ahmad Yasin lumpuh hampir total kecuali hanya bisa menggerakkan lisannya.

Setelah lumpuh, Ahmad Yasin muda memutuskan untuk belajar ilmu Islam secara total. beliau belajar di Al-Azhar Kairo. Di sanalah, beliau membentuk keyakinannya bahwa Palestina adalah bumi Islam sampai hari Kiamat. Tak ada seorang pemimpin Arab-pun yang berhak melepaskannya, meski hanya sejengkal. Meski lumpuh total, beliau tak berhenti mengajar. Beliau mengajar bahasa Arab dan pendidikan Islam di sekolah-sekolah pemerintah di Jalur Gaza.

Syekh Ahmad Yasin bergabung dalam sayap gerakan perlawanan Palestina. Namun beliau baru dikenal pada Intifada Palestina pertama yang meletus tahun 1987 di mana beliau menjadi ketua organisasi Islam baru yakni Gerakan Perlawanan Islam (berbasis Islam) atau disingkat Hamas.

Selain lumpuh Ahmad Yasin juga kehilangan penglihatan mata sebelah kanan setelah mengalami pukulan dari pasukan intelijen Israel saat diintrogasi dan melemahkan mata kirinya. Beliau menderita radang telinga akut, radang paru-paru, dan penyakit lainnya. Kondisi ini semakin buruk akibat penahanan yang dilakukan Israel sehingga harus berkali-kali di bawa ke rumah sakit.

Pada 22 Maret 2004 Syeikh Ahmad Yasin gugur syahid di ujung roket pesawat tempur Israel. Dunia gempar. Para pejuang pun menangisi kepergiannya.

Abdul Aziz Rantisi, Singa Palestina (Foto: Qassam)

Abdul Aziz Rantisi, Singa Palestina

Beliau dikenal dengan singa Palestina. Beliau juga seorang dokter. Sebagai pewaris Syeikh Ahmad Yasin. Dilahirkan 23 Oktober 1947 di desa Yabna antara Asqalan dan Yafa. Keluarganya mengungsi ke Jalur Gaza pasca perang 1948 dan tinggal di kamp pengungsi Khan Yunis di saat usia beliau masih 6 bulan. Beliau tumbuh di antara 9 saudara laki dan 2 saudara perempuan.

Beliau sekolah SD di sekolah milik UNRWA. Terpaksa bekerja di usia 7 tahun membantu keluarga besarnya yang mengalami masa sulit. Lulus SMA tahun 1965.

Beliau berasal dari desa Rantis, barat daya Ramallah. Terpaksa meninggalkan desa karena terlibat masalah dengan salah satu keluarga di desa itu pada awal tahun 1940-an.

Beliau seorang pejuang tulus dan mencintai desa. Konon pernah dikabarkan pernah mengunjungi desa Rantisi pada tahun 1980-an.

“Ayahku meninggal pada saat aku masih di akhir SD. Saudaraku tertua terpaksa ke Saudi untuk mencari kerja. Saat itu aku punya sepatu. Namun ibuku menyuruhku untuk memberikan sepatu itu kepada saudaraku yang mau pergi ke Saudi. Sepatu itu aku berikan. Namun aku tidak ingat bagaimana aku mengurus sekolah SMA ku pada saat itu.”

Pada 17 April 2004, Dr. Rantisi gugur syahid bertemu Allah ketika pesawat tempur Zionis merudal mobilnya. Peristiwa ini terjadi tidak lebih dari sebulan setelah gugurnya Syeikh Ahmad Yasin.

Ibrahim Al-Yazwari, Teman Dekat Syaikh Yasin

Ia adalah salah satu pendiri Hamas. Dilahirkan di desa Betdaras 1942 dan beberapa tahun hidup di sana. Belum selesai kelas satu SD, perang 1948 meletus. Akibat aksi pengusiran, beliau harus mengungsi dari satu desa ke desa lain melarikan diri dari kekejaman mafia-mafia Zionis sampai beliau tiba di kamp pengungsi Khan Yunis, Jalur Gaza. Kamp yang kini berada berhadapan dengan Masjid Imam Syafii di kota Khan Yunis.

Ia belajar di Khan Yunis hingga lulus SMA 1960 dan melanjutkan ke perguruan tinggi di Al-Azhar Kairo di jurusan apoteker.

Ia menghibahkan diri dan waktunya sejak kecil untuk Islam dan umat Islam. Menemani Syekh Ahmad Yasin selama 40 tahun. Meski tak pernah tinggal di satu kampung atau kamp, namun dakwah Ikhwan Muslimin yang menyatukan mereka dan ikatan persaudaraannya. Beliau menjadi satu dari tujuh pendiri Hamas yang mengibarkan panji-panji Islam di Palestina, dengan izin Allah.

Abdul Fattah Dakhan, Salah Satu Pendiri Hamas

Dilahirkan 1936. Termasuk warga Palestina yang diusir mafia zionis dari Baldah Irak Suwaidan tahun 1948 dan satu dari tujuh pendiri Hamas. Dua anaknya gugur syahid; Tariq dan Zaid. Sementara anaknya Muhammad dipenjara Zionis tahun 1990 dan divonis dengan hukuman seumur hidup sampai saat ini.

Abdul Fattah yang dikenal dengan panggilan Abu Usamah ini hidup dengan kesulitan. Ditangkap lebih dari sekali oleh penjajah Zionis dan Otoritas Palestina. Beliau juga menjadi salah satu dari tokoh Hamas yang diasingkan ke Miraj Zohour di Libanon pernah menjadi wakil ketua parlemen Palestina. Kini beliau tinggal di kamp pengungsi Nasirat, Jalur Gaza tengah. Beliau yakin akan kembali ke kampung aslinya saat diusir dari sana masih kecil.

Syam’ah, Ketua Dewan Syura Hamas

Bernama lengkap Muhammad Hasan Syam’ah (Abul Hasan) dilahirkan di kota Majdal tahun 1935 sebelum akhirnya beliau terusir ke kota Gaza setelah Israel menggelar Nakba tahun 1948. Beliau adalah salah satu tokoh utama gerakan Islam di Jalur Gaza dan salah satu pendiri Hamas di tahun 1980-an. Beliau menjadi ketua Dewan Syura gerakan ini.

Abul Hasan Syam’ah bergabung dengan Ikhwanul Muslimin di kota Gaza di era persiapan di awal tahun 1950-an sebelum IM dilarang oleh Mesir. Bersama Syekh Yasin dan sejumlah tokoh aktivis lainnya merekontruksi dan mengaktifkan Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza langsung setelah tahun 1967. Syam’ah bersama Syeikh Yasin, beliau menjadi salah satu dari tujuh pendiri Hamas pada Desember 1987.

Pasukan Israel menangkap Syeikh Syam’ah pada September 1988 dan mendekam di penjara selama 13 bulan. Bersama ratusan elit dan kader Hamas dan Jihad Islami beliau diasingkan ke Miraj Zohour di Libanon Selatan pada Desember 1992.

Sampai wafat, beliau menjabat sebagai ketua Majlis Syura di Hamas yang merupakan referensi tertinggi di gerakan ini. Beliau wafat pada 10 Juni 2011 karena terkena stroke di usianya yang ke 76 tahun.

Muhammad Najjar, Pembangun Generasi

Tahun 1927 Muhammad dilahirkan. Ayahnya Abdu Khattab An-Najjar memilih nama Muhammad karena dianggap nama terbaik dan ingin menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Haji Muhammad Beliau wafat pada 11 November 2011.

Haji Muhammad tumbuh di keluarga mulia dari Khan Yunis. Beliau dikenal berkeperibadian tenang dan baik perangai. Namun sekaligus aktif dan energik. Disenangi banyak orang. Tidak pernah terlambat membantu tetangga dan temannya hingga beliau wafat.

Beliau bergabung dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza. Dengan sarana ini beliau mampu membentuk generasi Muslim untuk memenangkan Umat Islam. Beliau pernah mengatakan, “Segala puji milik Allah yang menghidupkanku dalam rentang sekian lama dalam dakwah. Selama itu pula Allah memperlihatkan kepadaku di mana Allah memuliakan Islam di atas bumi yang diberkahi ini.”

Muhammad Thaha, Ulama Robbani

Syeikh Muhammad Thaha dilahirkan pada 1937 di desa Yabna Palestinapendudukan 1948. Saat SD masih belajar di desanya, sebelum akhirnya diusir bersama keluargannya dan ribuan warga Palestina. Beliau bersama keluarga hidup di kamp pengungsi Buraij di Jalur Gaza tengah dan menyelesaikan pendidikannya di kamp tersebut. Bekerja menjadi guru di sekolah UNRWA (badan pengungsi PBB) lebih dari 22 tahun.

Sejak kecil bergabung dengan Jamaah IM di Palestina bersama Syekh Ahmad Yasin dan Syekh Hammad Hasanat, Syeikh Abdul Fattah Dakhan, Dr. Ibrahim Mukadimah, Dr. Abdul Aziz Rantisi dan pimpinan IM di Palestina lainnya.

Beliau menyelesaikan studinya di Universitas Islam Gaza memperoleh ijazah S1 Syariah. Menjadi hakim syariah, khatib di Pusat At-Taqwa di kamp Buraij. Sehingga menjadi salah satu pioner reformasi di Palestina.

Syeikh Thaha di antara yang mendirikan Hamas bersama Syekh Yasin pada Desember 1987. Berkali-kali ditangkap dan dipenjarakan Israel, diasingkan ke Miraj Zohour tahun 1992 bersama anaknya Bakr Aiman dan menantunya dan kader Hamas dan Jihad Islami.

PasukanIsrael menghancurkan rumah beliau di kamp Buraji di Jalur Gaza tengah pada Maret 2003. Anaknya Yasir dibunuh Israel karena ia adalah salah satu ahli bom di Batalion Izzudin Al-Qassam. Syekh Thaha wafat pada 11 November 2014 di usia 77 tahun setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakitnya. (P011/R11)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)