MENGENAL RAID AL-ATTAR, BAPAK TEROWONGAN DENGAN TUJUH NYAWA

Raed al Atar (1974-2014) adalah salah seorang komandan Hamas sayap militer Izz ad-Din al-Qassam dan anggota dewan tinggi militer Hamas. Menurut analis Congressional Research Service Jim Zanotti, dia salah seorang petinggi yang memiliki kebijakan penting untuk pembanguan terowongan-terowongan dari Mesir yang bermuara di Rafah.

Pada tahun 2010, al Atar dilaporkan memegang kekuasaan yang signifikan dan pengaruh di Jalur Gaza, dan pemegang otoritas atas terowongan penyelundupan. Dia adalah komandan militer Hamas paling senior ketiga, menurut Israel.

Pada April 1995, al Atar dihukum, setelah sidang cepat oleh pengadilan Otoritas Palestina, dua tahun penjara karena pelatihan dengan senjata ilegal.

 

Pada 1 Februari 1999 seorang kapten polisi Palestina, Rifat Joudah, tewas di Gaza baku tembak dengan al Atar dan dua anggota lain dari Hamas, karena ia mencoba untuk menangkap mereka. Pria berlari cepat, berjalan di atas seorang gadis 8 tahun, Fadwa Abu Jerwana, yang meninggal akibat luka-lukanya. Orang-orang itu kemudian ditangkap di kamp pengungsi Shati setelah pertukaran kedua belah pihak.  

 

Pada bulan April tahun itu, al Atar dijatuhi hukuman mati oleh Otoritas Palestina atas pembunuhan Rifat Joudah. Begitu hukuman mati diucapkan, kerabat al Atar yang turun ke jalan dan melempari rumah Joudeh. Protes kekerasan di Gaza mengakibatkan dua orang meninggal. Setelah kerusuhan dan kritik dari ruang sidang, Yasser Arafat bertemu dengan pemimpin sipil di Rafah dan meminta mereka untuk memulihkan ketenangan, menjanjikan untuk meninjau kembali hukuman mati yang diberikan pengadilan kepada al Attar.

 

Selama Perang Gaza 2009, al Atar mempertahankan diri ke El-Arish, Sinai, bersama dengan Mohammed Sanwar, seorang militan yang telah membantu mengkoordinasikan penculikan seorang tentara Israel, Gilad Shalit. Tahun itu pula, al Atar mengatakan kepada wartawan bahwa jika Israel tidak menerima tuntutan Hamas untuk membebaskan 1.450 tahanan Palestina dalam pertukaran untuk Shalit, Hamas akan menculik lebih banyak tentara.

Laporan menyatakan bahwa al Atar berwenang Agustus 2010 penembakan Grad gaya roket dari Semenanjung Sinai di Eilat, Israel dan Aqaba, Yordania. Menurut sumber-sumber Palestina, al Atar resmi menyerang, dengan persetujuan pimpinan Hamas di luar negeri, termasuk Khaled Meshal, dan dengan dukungan dari agen intelijen Iran. Menurut beberapa laporan, serangan itu terjadi dilaporkan tanpa sepengetahuan komandan langsungnya, Ahmed Jabari, sedangkan menurut pejabat Mesir, operasi semacam itu tidak mungkin dilakukan tanpa persetujuan Jabari itu. 

Media online Angkatan Darat Israel memuat sebuah artikel berjudul “siapakah Raid Al-Attar”, salah seorang komandan tinggi Al-Qassam dan juga salah seorang anggota dewan militernya yang syahid dalam serangan Israel ke Rafah beberapa pekan yang lalu.

Dalam artikel yang ditulis Shimon Afaragon tersebut menyatakan Raid Al-Attar disebut memiliki tujuh nyawa setelah lolos dari berbagai usaha pembunuhan militer Israel. Dia juga dianggap sebagai bapak spiritual dari terowongan yang dibuat para pejuang Al-Qassam

Untuk mengetahui lebih lengkap tentang pandangan Israel terhadap pahlawan Palestina ini, berikut kami sajikan secara lengkap artikel yang diterjemahkan wartawan Miraj Islamic News Agency (MINA) dari Jalur Gaza.

Keberhasilan membunuh Al-Attar setelah tujuh kali mengalami kegagalan dalam usaha pembunuhannya

Siapa Al-Attar? Apa yang telah dilakukannya? Apa arti penting dari pembunuhannya? Siapa yang akan mengikuti operasi pembunuhan?

Al-Attar adalah bapak spiritual dari proyek terowongan di Jalur Gaza, dia memiliki tujuh nyawa namun akhirnya dia menemui akhir hidupnya.

November 2012 angkatan udara Israel (IAF) menargetkan sebuah mobil di Kota Gaza, saat itu semua orang meyakini bahwa penargetan tersebut akibat peluncuran roket atau merupakan hal yang biasa, namun setelah beberapa menit kemudian, terlihat penyerangan ini diarahkan kepada panglima Al-Qassam Ahmad Al-Ja’bari, di mana pada malam sebelumnya Al-Attar yang merupakan tangan kanan dari Al-Ja’bari selamat dari penargetan itu.

Al-Attar adalah rekan Al-Ja’bari dalam operasi penculikan Kopral Gilath Shalit beberapa tahun silam, di mana Al-Attar semasa hidupnya bertugas sebagai Komandan Al-Qassam wilayah Rafah, dan juga sebagai anggota terkemuka dewan tinggi militer Brigade Izzuddin Al-Qassam.

Al-Attar memainkan perannya sebagai bapak spiritual terowogan dan menjadi mentor dasar pada proyek penyerangan di Jalur Gaza. Al-Attar telah membantu semua batalyon di seluruh Jalur Gaza dalam proses penggalian terowongan itu. Dalam beberapa tahun terakhir Al-Attar telah bekerja sebagai pemimpin terkemuka dari operasi Hamas di selatan wilayah terblokade itu.

Raid Al-Attar juga dikenal dengan Abu Ayman berusia 40 tahun, telah menikah dan merupakan ayah dari sejumlah anak. Al-Attar melakukan misi utamanya dengan menyempurnakan pawai Al-Ja’bari dalam pertukaran Ghilath Shalit dengan tahanan Palestina di penjara Israel. Menurut Al-Attar tindakan tersebut merupakan prioritas utama dalam operasi Jihad, dan motonya adalah “jika tidak cukup seorang tentara untuk membebaskan semua tahanan maka kami akan menculik sejumlah tentara lainnya di lain waktu”.

Intelijen Mesir saat itu sangat membencinya dan mengharapkan kematiannya karena mereka meyakini Al-Attar adalah yang paling bertanggungjawab atas penyelundupan senjata melalui terowongan dari Mesir, dan intelijen Mesir menuntut Hamas untuk menyerahkannya walau pun setelah beberapa periode pihak Mesir menyerah atau tidak menuntutnya lagi.

Hidup di Bawah Tanah

Dalam beberapa tahun terakhir, Al-Attar menghabiskan hidupnya di bawah tanah, dan dari situlah dia melakukan perencanaan dan mengatur semua operasi. Dia tidak keluar kecuali pada siang hari, dan di sini menjadi titik pembunuhannya. Pada hari-hari terakhirnya, Al-Attar mengatur peperangan melawan tentara Israel dari dalam terowongan. Dari terowongan itulah dia mengeluarkan setiap keputusan bagi setiap unit tempur Al-Qassam agar menyerang lokasi-lokasi sentral tentara Israel di perbatasan dan di setiap rumah yang terdapat di dalamnya tentara Israel selama operasi serangan darat.

Al-Attar merupakan pendiri dari perangkat acuan yang kemudian berubah menjadi komponen pasukan khusus pejuang Al-Qassam. Al-Attar adalah otak dari perencana operasi di selatan Jalur Gaza dan sebagian belum terlaksana karena Shin Bet (intel dalam Israel) berhasil menggagalkannya.

Tahun 2012, Al-Attar mengirimkan sejumlah pasukan komando untuk melakukan operasi penyerangan di pangkalan angkatan udara Israel di Arava, penargetan penumpang bus di jalan nomor 12, peluncuran roket Grad di kota Eilat, dan pusat-pusat peyimpanan gas, minyak dan hotel, serta peluncuran roket di tepi pantai entitas Israel. Kemudian mereka melakukan penculikan terhadap seorang prajurit di salah satu kamp tertutup militer Israel, namun Shin Bet berhasil menggagalkan usaha tersebut dan berhasil menangkap beberapa anggotanya, mengninvestigasi dan mengungkapkan rencana Al-Attar.

Dua tahun yang lalu, Al-Attar mengirimkan dua unit pasukan ke dalam entitas Israel untuk melakukan pencarian terhadap tentara (Israel) untuk kemudian menculik dengan terlebih dahulu menyuntikan obat tidur kemudian mengangkutnya melalui Sinai ke dalam Jalur Gaza. Tujuan dari unit ini juga melakukan operasi bom syahid di dalam  area yang dikuasai Israel, namun kemudian unit tersebut ditangkap di sebuah tempat di Kibutz, selain itu Al-Attar merupakan orang yang menyerahkan Ghilat Shalit ke Mesir bersama Al-Ja’bari.

Beberapa hari setelah pertukaran Gilath Shalit, Al-Attar juga menyiapkan langkah lain untuk melakukan operasi penculikan tentara-tentara di perbatasan Kareem Abu Salim. Al-Attar selalu mengirimkan perangkatnya untuk melakukan pemantauan dan mengikuti lokasi ini selama 24 jam perhari, perangkat ini bertugas melakukan pemantauan dengan memotret pergerakan tentara di dalam lokasi itu.

Untuk melakukan operasi tersebut, Al-Attar menyiapkan sebuah unit pasukan yang terdiri dari empat orang yang telah dilatih secara intensif dan salah satunya adalah Muhammad Abu Azarah anak dari penasehat strategis Ismail Haniyah, akan tetapi sayangnya sebagian dari mereka ditangkap oleh Shin Bet.

Berdasarkan informasi yang dikeluarkan sumber-sumber Israel, Al-Attar bertanggungjawab secara langsung terhadap tewasnya puluhan tentara Israel serta terlukanya ratusan warga sipil Israel.

Al-Attar juga bertanggungjawab secara langsung terhadap penyelunduan senjata dari Sudan dan Libya ke Jalur Gaza melalui Sinai termasuk rudal jarak jauh hingga bisa mencapai Gunung Karmel.

Al-Attar pemilik tujuh nyawa

Betapa sulitnya melakukan pembunuhan terhadap Al-Attar yang memiliki tujuh nyawa. Menurut pihak keamanan Israel, dalam banyak operasi pembunuhannya dia berhasil selamat, termasuk pada operasi terakhir saat pembunuhan Al-Ja’bari.

Pihak keamanan juga mengatakan pada akhirnya kami akan berhasil membunuhnya sebagaimana kami berhasil membunuh Al-Ja’bari. Karena kami memiliki perhitungan terbuka dan panjang terhadap Al-Attar dan tidak akan berakhir kecuali dengan membunuhnya.

Dua tahun yang lalu, salah satu unit khusus Israel mencoba untuk menculik Al- Attar, akan tetapi pada saat terakhir ia berhasil melarikan diri melalui terowongan di Rafah. Al-Attar tidak pernah tidur dirumahnya dan hanya tidur beberapa jam saja saat malam tiba, inilah yang dikatakan salah seorang pejabat senior distrik selatan Gaza, dia juga mengatakan Al-Attar selalu siap merespon setiap keadaan, serta selalu berpindah-pindah tempat setiap saat, dan inilah yang menjadi salah satu hal tersulit untuk membunuhnya.

Sangat sedikit orang-orang yang bisa menemui dirinya, pihak keamanan mengatakan hal itu pada Kamis (21/8). Sejak awal operasi  (agresi ke Gaza, red) Al-Attar menjadi target utama dari Shin Bet dan unit Khusus pasukan Israel. “Kami mengikuti setiap langkahnya dan menunggu setiap kesalahan kecil dan itu terjadi kemarin (Kamis, 21/8) dan dengan demikian kasus ditutup”.

Shin Bet mengatakan mereka akan membunuh semua pemimpin Al-Qassam ketika mendapatkan peluang untuk itu, dan Al-Attar adalah pembunuhan terbesar yang kesempatan tersebut telah ditunggu sejak lama. Di depan kita saat ini ada Al-Dhaif (Komandan tertinggi Al-Qassam) yang akan mengalami nasib yang sama dalam beberapa hari, dan ada juga nama-nama lain yang menunggu untuk “diselesaikan”, seperti Ayman Shiyam, penaggungjawab unit Roket Al-Qassam, Marwan Issa, wakil Ahmad Al-Ja’bari, dan Muhammad Al-Dhaif yang bertanggungjawab terhadap pasokan logistik dan peralatan untuk Al-Qassam dan memiliki hubungan yang kuat dengan pengawal revolusi Iran, serta Ismail Haniyah penanggung jawab di Gaza serta masih banyak lagi daftar panjang nama-nama target. (K01/R04/R05)

 

dari Bel bagai Sumber> Faruq H. Mahdi