MENGENAL HASAN AL-BANNA, PENDIRI DAN PENGGERAK DAKWAH IKHWANUL MUSLIMIN

Imam Syahid Hasan Al-Banna atau lebih dikenal dengan Hasan Al-Banna lahir di kota Mahmudiyah,yang terletak di distrik Bahirah, Mesir pada bulan Oktober 1906 M.

Ayah beliau adalah salah satu ulama besar pada masanya dan banyak mengeluarkan karyanya pada bidang ulumul hadits. Di antaranya yang terkenal “AlFath ArRabbany li Tartib Musnad Al-Imam Ahmad”.  Di samping menulis kitab-kitab hadits, orang tua Hasan Al-Banna bekerja memperbaiki jam.

Hasan Al-Banna Muda

Hasan Al-Banna sejak kecil telah ditempa oleh keluarganya yang taat beragama, dan giat meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu.

Bersama teman-temannya di sekolah, ia sejak muda sudah aktif dan membentuk perkumpulan “Akhlaq Adabiyah”, perkumpulan yang menentang hal-hal yang diharamkan.

Hasan Al-Banna memang sejak muda menginginkan dakwah Islamiyah tegak dan kokoh.

Pertama kali ia menggali ilmu di Madrasah Ar-Rasyad, kemudian melanjutkan di Madrasah I’dadiyah di kota Mahmudiyah tempat beliau dilahirkan.

Ketika usia beliau masih muda, ia sudah memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan tentang dakwah. Al-Banna mudapun telah mampu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Ia melanjutkan pendidikannya ke Darul Mu’allimin Damanhur pada tahun 1920, dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usianya yang belum genap 14 tahun. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo.

Di sinilah Al-Banna banyak mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang lebih mendalam. Beliau lulus dan menduduki rangking pertama di Darul Ulum, dan bisa menduduki rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.

Di tempat yang sama, yaitu kota Ismailiyah beliau menikah dengan putri salah seorang tokoh Ismailiyah Al-Haj Husain As-Shuly pada malam 27 Ramadhan 1351 H.

Al-Banna dikaruniai 5 orang anak, 4 anak perempuan, masing-masing  : Wala’, Sinai, Raja dan Hajar.  Adapun anak lelakinya bernama Ahmad Syaiful Islam.

Al-Banna selalu memberikan pendidikan keluarganya dengan adab dan akhlaq Islam.  Hasil perhatiannya terhadap keluarga dapat dilihat pada anak beliau yang sangat dihormati, Ahmad Syaiful Islam.

Menjadi Seorang Da’i

Hasan Al-Banna mengembara dari kota kelahirannya Mahmudiyah, menuju Damanhur, kemudian ke Kairo untuk mengetahui permasalahan situasi dan kondisi umat Islam.

Ia mulai melakukan aktivitasnya dengan menghubungi para pemimpin, tokoh masyarakat dan para ulama.

Saat ia tinggal di Mahmudiyah, belum terlintas di benaknya bahwa di ibukota Mesir, Kairo, banyak terjadi penyimpangan dan kerusakan yang menurutnya sangat parah. Belum pernah terbayangkan olehnya bahwa para penulis terkemuka, ulama dan para pakar bekerja demi kepentingan musuh Islam. Bahkan tak sedikit ulama yang sibuk dengan urusan pribadi dan masyarakat umum.

Hal ini pula yang menjadikannya menjadi seorang mujahid dakwah untuk meletakkan dasar-dasar gerakan Islam sekaligus sebagai pendiri dan pimpinan Ikhwanul Muslimin atau sering disingkat dengan IM.

Ikhwanul Muslimin sebagfai organisasi berdiri tanggal 20 Maret 1928. Bersama keenam temannya, Hassan Al-Banna mendirikan organisasi ini di kota Ismailiyah, Mesir.

Ia dikenal karena cara berdakwahnya yang sangat tidak biasa. Ia terkenal sangat tawadhu (rendah hati) dikarenakan ia sering berdakwah di warung-warung kopi tempat oarang-orang yang berpengetahuan rendah berkumpul. Ternyata cara tersebut memang lebih efektif dilakukan dalam berdakwah.

Di samping berdakwah secara lokal, Al-Banna dikenal memperhatikan perjuangan dunia Islam di neger-negeri lainnya secara internasional.

Seperti segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan Al-Banna segera menyatakan dukungannya.

Ia pun mengadakan kontak dengan tokoh ulama Indonesia. Di antaranya tercatat M.Natsir, tokoh Muslim Indonesia, pernah diundang untuk berpidato di depan rapat Ikhwanul Muslimin.

Pengaruh Al-Banna

Hassan Al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran pendidikan Islam modern. Ia sangat ketat menggerakkan larangan semua pengaruh Barat daam dunia pendidikan.

Ia memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian dari masjid.

Al-Banna juga sebenarnya tidak menginginkan adanya partai politik dan lembaga demokrasi lainnya. Ia lebih memilih Majelis Syura, Musyawarah umat Islam, dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memperdalam Islam sebagai landasan utama.

Karena ketatnya pemikiran Al-Banna dalam pergerakan Islam, perjalanan dakwahnya pun bisa dibilang tidak berjalan baik, karena selalu mendapat kendala dari berbagai pihak. Hingga tidak jarang ia memiliki berbagai musuh yang mayoritasnya dari para tokoh politik.

Pemikiran Hasan Al-Banna yang utama adalah bahwa Al-Qur’an menerangkan segalanya. Dengan Al-Quran para penganutnya dapat meraih kejayaannya.

Ia meyakini bahwa tahap yang pokok dalam kebangkitan adalah kebangunan spiritual yang tertanam di kalangan pribadi-pribadi.

“Al-Qur’an dapat memberikan prinsip-prinsip dasar bagi reformasi sosial secara sempurna. Secara bertahap Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang kemudian menyatakan risalahnya kepada kaum Mukmin dari waktu ke waktu, berdasarkan peristiwa, keadaan, dan kesempatan yang dimilikinya,” ujar Hasan Al-Banna dalam catatannya.

Karya Tulis Al-Banna

Hasan Al-Banna tercatat sebagai redaktur dan penulis beberapa di tabloid, koran, majalah, serta kitab-kitab hasil telaahannya.

Ia terkenal sebagai tokoh kreator umat dan pencetus kebangkitan umat Islam pada masanya. Masyarakat juga mengenal Hasan Al-Banna sebagai seorang penulis yang profesional, ulama yang sangat cerdas dan berwawasan luas.

Beberapa media yang menjadi luapan intelektualnya adalah: Pertama, tabloid mingguan Al-Ikhwan Al-Muslimin. Pada tabloid ini ia menulis dua macam artikel, berupa tema ilmu agama seperti tafsir, akidah, fiqh, fatwa, tasawuf, akhlak, dan ceramah.

Lainnya berupa tema-tema umum, seputar masalah sosial, politik, dan etika. Artikel-artikelnya memiliki kelebihan dari sisi kesatuan tema dan penuangan gagasan yang sistematis. Di samping itu, di tabloid tersebut ia juga menulis untuk rubrik opini.

Kedua, majalah An-Nadzir. Majalah ini diterbitkan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin setelah Tabloid Al-Ikhwan Al-Muslimin tidak terbit lagi. Tujuan majalah ini untuk menyebarkan fikrah, harakah, dan pemahaman bagi anggota Ikhwan. Majalah An-Nadzir berbeda dengan Tabloid Sebelumnya Al-Ikhwan Al-Muslimin, dari sisi perhatiannya lebih terhadap kajian sosial dan politik. Di dalam majalah ini, Hasan Al-Banna telah menulis sekitar delapan puluh artikel yang menyoroti masalah sosial dan politik yang sedang berkembang pada masanya.

Ketiga, majalah Al-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Syekh Rasyid Ridha pada tanggal 22 Syawal 1315 H/ 15 Maret 1898 M. Secara umum isi majalah ini merefleksikan permasalahan-permasalahan agama dan sosial. Kadang-kadang juga menyoroti persoalan-persoalan politik pada saat itu. Saat Syekh Rasyid Ridha wafat, Hasan Al-Banna diminta oleh keluarganya untuk meneruskan penulisan tafsir al-Qur;an yang telah diprakarsai Syekh Rasyid Ridha di majalah Al-Manar.

Rasyid Ridha terhenti pada surat Yusuf. Dari situ kemudia dilanjutkan oleh Hasan Al-Banna dengan tafsir surat ar-Ra’du sebagai kelanjutannya.

Hasan Al-Banna adalah orang yang menulis sebagian besar rubrik yang ada dalam majalah tersebut, sebelum pada akhirnya majalah ini disita pada akhir bulan November 1940 M.

Keempat, Majalah At-Ta’aruf. Setelah majalah An-Nadzir, gerakan Ikhwanul Muslimin menyewa majalah At-Ta’aruf. Konsep majalah ini adalah mengkombinasikan konsep tabloid Al-Ikhwan Al-Muslimun dan majalah At-Ta’aruf yang memadukan muatan syar’i, sosial, dan politik secara berimbang.

Meskipun akhirnya majalah ini dibubarkan, sebagai catatan penting, Hasan Al-Banna pernah menulis sebagian rubrik pembuka, di samping menulis dalam rubrik fiqh, serta artikel-artikel lain yang membahas pendapat ikhwan dalam memperbaiki karut-marut politik dan realitas sosial pada waktu itu.

Beliau juga menulis untuk Koran Harian Al-Ikhwan Al-Muslimun, majalah Asy-Syihab, Majalah Al-Fath, Majalah An-Nhidal, Majalah Al-I’thisam dan lain-lain. Ia meyakini bahwa risalah-risalahnya tidak akan sampai ke pengikut-pengikutnya jika ia tidak menulis.

Prinsipnya adalah, “Dengan menulis, maka kita ada. Maka, menulislah sebanyak-banyaknya”.

Akhir Hayat

Tulisan-tulisan kritisnya dan keyakinannya terhadap Islam sebagai dasar pergerakan, membuat Al-Banna banyak dimusuhi oleh para tokoh politik yang berkiblat ke demokrasi Barat

Al-Banna tewas tertembak oleh dua orang penembak misterius yang menembakkan tujuh tembakan pada tubuhnya pada tanggal 12 Februari 1949, di depan kantor pusat Jamiyyah al-Shubban al-Muslimin.

Saat itu ia bersama saudara iparnya Abdul Karim Mansur saat akan berdialog dengan Menteri Zaki Ali Basha yang mewakili pihak pemerintah.

Al-Banna sempat dibawa ke rumah sakit, namun pihak rumah sakit diinformasikan menerima perintah dari pejabat untuk tidak memberinya perawatan. Al-Banna pun meninggal akibat luka parahnya.

Kepergian Hassan Al-Banna menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan beberapa karya tulis karya monumentalnya, di antaranya yaituCatatan Harian Dakwah dan Da’i serta Kumpulan Surat-Surat.

Selain itu, yang paling pokok adalah Hasan Al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini.

Al-Banna memang gemar membaca dan menulis. Perpustakaan baginya penting, tapi jauh lebih penting adalah orang yang membacanya sebagai aktivis dakwah.

Mottonya adalah, Kitab yang terletak di perpustakaan sedikit yang membacanya, tetapi seorang muslim sejati adalah ‘kitab terbuka’ yang semua orang membacanya. Ke mana saja ia pergi, ia adalah ‘dakwah yang bergerak’.

Sebelum wafatnya, ia menulis “10 Wasiat” yang ditujukan kepada seluruh aktivis dakwah anggota Ikhwanul Muslimin dan seluruh kaum Muslimin para pejuang di medan dakwah.

Sepuluh wasiat itu adalah:

  1. Bersegeralah kalian melaksanakan shalat saat mendengar adzan, bagaimanapun kondisi dan kesibukan kalian.
  2. Bacalah Al-Quran, cermati, dengarkan, lalu berdzikirlah kepada Allah, jangan habiskan waktu kalian terhadap sesuatu yang tidak berguna.
  3. Bersungguh-sungguhlah berbahasa Arab yang fasih, karena yang demikian itu syi’ar Islam.
  4. Janganlah kalian banyak berdebat dalam segala hal, karena perdebatan tidak mendatangkan kebaikan.
  5. Janganlah kalian banyak tertawa, karena hati yang tersambung dengan Allah akan tenang dan teduh.
  6. Janganlah kalian banyak bercanda, karena sesungguhnya ummat pejuang itu hanya mengenal kata keseriusan.
  7. Janganlah keraskan suara kalian melebihi kepentingan pendengar, karena itu akan mengganggu yang lainnya.
  8. Jauhilah menggunjing, melukai hati pihak lain, dan janganlah berbicara kecuali dalam kebaikan.
  9. Berkenalanlah kalian dengan siapa saja yang engkau temui dari saudaramu, meski tidak diminta, karena asas dakwah kita adalah cinta dan salig mengenal.
  10. Kewajiban kalian jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia, karena itu bantulah juga orang lain agar mereka bisa memanfaatkan waktunya. Jika engkau sedang bekerja, maka ringkaskanlah dalam mengerjakannya.

Kini, karya-karya beliau semakin dikenal oleh masyarakat luas. Beberapa di antaranya dalam edisi terjemahan dapat kita baca, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Fiqih Poltik Hasan Al-Banna (Muhith Muhammad Ishaq), Hasan Al-Banna Perjuangan Belum Selesai (Abdul Latid Thalib), dan sebagainya. Serta yang terkenal adalah kumpulan doa dan wiris untuk para anggotanya, Al-Ma’tsurat. Prof. Dr. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi pun menulis dalam bukunya Tarbiyah Politik Hasan Al-BannaDari berbagai sumber. (T/mar/P4).