Riwayat Hidup Syeikh Wali Al Fattah (alm)

SYEIKH WALI AL FATAH (2)

Alhamdulillah,

Riwayat hidup imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) I, Syeikh Wali Al Fatah, dengan idzin Allah Subhanahu Wata'ala semata dapat di lanjutkan bulan Dzulqo’dah 1401 Hijriyah ini.

Khusus mengenai “silsilah” beliau yang seyogyanya dicantumkan di risalah ini, belum dapat diketengahkan karena data-datanya secara comprehensive (lengkap) sedang diusahakan.

Riwayat hidup ini dikisahkan berdasarkan sumber-sumber otentik.

Wali Al Fatah – Raden, namun enggan meletakkan huruf “R” didepan namanya, lahir di Ngawi, Jawa Timur, Tanggal 18 Oktober 1908 Miladiyah[1]. Nama kecilnya R. Soedjiman

Ia menamatkan sekolah rendah pada tahun 1926. Belum diketahui secara jelas pendidikan-pendidikan apa saja yang diperolehnya selain pendidikan tersebut dan tidak banyak diketahui tentang masa kanak-kanaknya.[2]

Pada waktu mudanya, ia pernah konflik dengan orang tuanya karena pandangan hidup yang berlainan. Orang tuanya menghendaki agar dia tetap tinggal di rumah (sebagaimana anak-anak bangsawan lainya), sedangkan Wali Al Fatah ingin berjuang membela bangsa dan tanah airnya Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan kolonial Belanda.

Akibat konflik tersebut, akhirnya ia diminta orang tuanya meninggalkan rumah. Pada waktu itu Wali Al Fatah sudah berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai wartawan dan kolumnis muda.[3]

PERJUANGAN DI BIDANG JURNALISTIK

Wali Al Fatah disamping ikut berjuang secara phisik di Jogjakarta menentang penjajah kolonial Belanda, ia juga berjuang melalui tangkai penanya yang melebihi tajamnya pisau dan peluru, dalam media-media pers yang ia pimpin sendiri maupun di media-media pers lainya dimana dia sebagai redaktur dari media tersebut.

Ia membangkitkan semangat perjuangan dan persatuan, sekaligus mendidik bangsanya untuk mencapai kemerdekaan melalui tulisan-tulisanya dalam media-media pers.  Pada masa pra kemerdekaan kaum wartawan selain menjadi wartawan juga menjadi pemimpin umatnya, menjadi pemimpin bangsanya, menggalakkan semangat nasional dan menggelorakan semangat juang untuk mengusir penjajah.[4]

Akibat tulisanya dalam suatu surat kabar yang isinya dianggap pemerintah kolonial Belanda membahayakan stabilitas keamananya, Wali Al Fatah ditangkap dan di masukkan kedalam penjara di Semarang selama lebh kurang empat bulan.[5]

Wali Al Fatah adalah seorang mimbarman dan wartawan muslim yang disegani dan terkemuka pada zamanya. Karena kewibawaanya itu –dengan izin Allah saja—ia ditujuk dan diangkat sebagai ketua pengurus besar Wartawan Muslim Indonesia, (Warmusi) dari tahun 1941-1942. Organisasi kewartawanan muslim, Warmusi yang semula berpusat di Medan, Sumatera Utara itu cukup berpengaruh diseluruh Indonesia, terutama di Sumatera dan Jawa.[6]

Pada usia yang masih muda belia, 20 tahun, Wali Al Fatah memimpin surat kabar mingguan “Pemberitaan Kemadjoean” , DI Surabaya Jawa Timur, dari tahun 1928 – 1929. Surat kabar yang kemudian berganti nama “Indonesia Bersatoe” itu selain menyajikan berita-berita mengenai ilmu pengetahuan populer, juga membangkitkan dan menanamkan semangat persatuan bangsa – guna mengusir penjajah-. Melalui tulisan-tulisan dalam media tersebut, ia mendidik dan membangkitkan semangat juang dan persatuan untuk mengenyahkan pemerintah kolonial Belanda[7]

Selain mengemudikan surat kabar “indonesia Bersatoe” itu Wali Al Fatah juga menjadi redaktur korrespondent “Bintang Timoer” yang dipimpin oleh Parada Harahap gelar Mangaradja Goenoeng Moeda. Berita-berita yang disuguhkanya dalam surat kabar itu antara lain mengenai kegiatan dan perjuangan Partai Serikat Islam pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto bersama pengikut setianya, Agus Salim dan Wondoamiseno yang bermukim pula di Surabaya waktu itu. Pada waktu bersamaan pula muncul “Soerabajasche Studi Club” pimpinan Dr. Soetomo yang kemudian menjelma menjadi “Persatoean Bangsa Indonesia”, dan akhirnya berfusi dengan B.O menjadi Partai Indonesia Raya.[8]

Hijrah ke Jawa Tengah

Wali Al Fatah tidak lama di Surabaya, kemudian ia hijrah ke Semarang, Jawa Tengah dan di ibukota Jawa Tengah itu ia mengelola sebuah surat kabar “Medan Doenia” pada tahun 1929. Namun harian ini karena kekurangan dana, tidak lama kemudian terhenti kegiatanya.

 

Wali Al Fatah pindah ke Jogjakarta, dan selama dua tahun dikota tersebut, ia menjadi Redaktur Harian “Bintang Mataram” dar tahun 1930-1931.[9]

Pada tahun 1931-1934 Wali Al Fatah menjadi redaktur “Harian Mustika”, sebuah surat kabar yang diterbitkan Partai Sarekat Islam di bawah pimpinan redaksinya Dr. Soekiman Wirjosandjojodan Haji Agus Salim , dua tokoh P.S.I.I pada waktu itu[10] (akhir tahun 1932 Dr. Soekiman keluar dari P.S.I.I. Pada pada tanggal 17 September 1937 Drs. Soekiman, Wali Al Fatah dan lain-lainya masuk  kembali ke dalam PSII.[11] Surat kabar itu kemudian berganti nama menjadi “oetoesan Indonesia”. [12]

Wali Al Fatah disamping menjadi redaktur pada harian itu, juga ikut mengemudikan majalah “Doenia Pegadaian”, sebuah majalah persatuan Pegawai Pegadaian Bumi Putra (PPPB), bersama-sama Dr. Soekiman dan Jahja Drijowongso. Pada waktu itu PPPB merupakan suatu organisasi yang cukup berwibawa.[13]

Ia kemudian memimpin majalah “Soeara Boeroeh” di Jogjakarta dan merangkap sebagai redaktur harian “Adil” di Solo milik Muhammadiyah.[14]

Wali Al Fatah disamping kesibukanya dalam dunia jurnalistik juga menjabat sebagai penulis (sekjen) Pengurus Besar Partai Islam Indonesia[15] dan merangkap sebagai pimpinan Boelanan “Islam Bergerak” di Jogjakarta. Majalah tersebut adalah organ PII yang sifat dan nadanya militan sekali. (pengurus Besar PII pada tahun 1940 bulan keempat Miladiyah terdiri atas: Dr. Soekman, sebagai ketua, Wiwoho, K.B Hadikusumo, Wali Al Fatah, Faried Ma’ruf, H.A Hamid, Dr. Kartono, Kahar Muzakir, Mr. Kasmat, sedang K.H.M Mansur menjadi penasehat partai itu.[16]

 

Wali Al Fatah dalam kesibukanya itu juga membantu “Minggoean Adil” milik Muhammadiyah yang diterbitkan di Solo dibawah pimpinan Soerono Wirohardjono alias Sikoet.[17]

Ia juga (dulunya) menjadi propagandis dari PII bersama dengan Abdul Gafar Ismail di Jogjakarta pada tahun 1934-an. Pada waktu itu Muhammad Natsir (bekas perdana menteri RI) menjadi ketua cabang di Bandung, kyai Isa Anshori menjadi propagandis di Bandung, Prawoto Mangkusasmito menjadi ketua cabang di Jakarta.[18]

 

Wali AL Fatah dalam kesibukanya ikut mengelola partai politik Islam pada waktu itu dan menjadi wartawan serta kolumnis muda yang disegani, juga masih menyempatkan diri memimpin organisasi kewartawanan, “Wartawan Muslimin Indonesia (Warmusi) di Jogjakarta. Ia memimpin organisasi tersebut dari tanggal 18 Januari 1941 hingga 1942.[19]



[1] Buku orang Indonesia yang Terkemoeka Di Jawa halaman 470-471. Cetakan ke I (pengganti stensil). Diterbitkan oleh Guenseikanbu tidak bertahun

[2] Sama dengan di atas

[3] Sekitar Riwayat Bapak R. Wali Al Fatah yang di Ceritakan kepada kami. Keterangan Ny. Syeikh Wali Al Fatah, Tri Susila kepada Binadjar di kediaman Ny. Wali Al Fatah, Tambak, Banyumas Jawa Tengah

[4] Jagat Wartawan Indonesia; Wali Al Fatah, Harian Berita Buana Jakarta, 15 Nopember 1977

[5] Sama dengan no 3

[6] Jagat Wartawan Indonesia: Wali Al Fatah, dan orang Indonesia yang terkemoeka di Jawa halman 470.

[7] Sama dengan diatas (no 6)

[8] Sama dengan diatas (no 6)

[9] Sama dengan diatas (no 6)

[10] Sejarah pergerakan Rakyat Indonesia oleh A.K Pringgodigdo SH, halaman 120 dan 123. Penerbit PT Dian Rakyat, Cetakan ke enam dan Jagad Wartawan Indonesia: Wali Al Fatah.

[11] Sama dengan no 6

[12] Sama dengan no 6

[13] Sama dengan no 6

[14] Sama dengan no 6

[15] Sama dengan no 11

[16] Sama dengan no 11

[17] Sama dengan no 6

[18] Rekaman Prasaran Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Wali Al Fatah pada Musyawarah Antara Alim Ulama dan Zuama Tingkat Puncak seluruh Indonesia di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Raya 25-27 Jumadil Awal 1394 / 15-17 Juni 1974

[19] Sama dengan no 6