Fatwa Imaam (alm) Wali Al Fatah

MENGUNGKAP SEJARAH SERTA MENYELAMI PENGERTIAN TENTANG JAMA’AH MUSLIMIN (HIZBULLAH)

Firman Allah Subhanahu Wata'ala:

 

Artinya :

Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[191]. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".

 

?????? ????? ????? ???? ???????

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, selawat dan dalam bagi junjungan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, serta ahli dan shahabat semuanya. Segala kebajikan dan kejayaan dikaruniakan Allah kiranya bagi Muattaqien, amien. Amma ba’du:

?????? ??????? ??????????

Enam belas tahun lamanya sudah kami memberikan pimpinan, bimbingan dan asuhan pada Jama’ah Muslimin (Hizbullah) ini.

Belum lama, akan tetapi insallah tiba waktunya kami luluskan desakan para ikhwan agar supaya menuturkan agak panjang lebar atau agak mendalam mengenai Jama’ah kita. Dengan lisan penuturan itu kiranya cukup banyak; dengan aksara atau dengan tulisan, uraian mengenai Jama’ah itu dirasanya sangat sedikit, untuk tidak mengatakan: Hampir-hampir sama sekali tidak ada. Bahwa keadaan demikian ini dianggap sebagai suatu kekurangan bagi Jama’ah. Anggapan itu adalah benar, lebih-lebih untuk dewasa ini. Setiap tahunya jumlah pelajar dan terpelajar (para sarjana) kita bertambah banyak. Mereka semuanya memerlukan service (layanan) bacaan secara layak dan baik. Untuk memperdalam pengertian mereka tentang Jama’ah, bagi mereka tidak cukup  lagi dengan “omong-omong” dalam anjang sana atau pembicaraan-pembicaraan waktu shilaturahmi atau causeries (ceramah-ceramah) satu setengah jam atau khutbah-khutbah jum’at tiga puluh menit dan lain-lain cara atau bentuk penyampaian (dakwah) secara lisan, akan tetapi disamping itu semuanya mereka belum merasa mantap, bilamana diatas meja belajar kerja mereka itu belum terletak sebuah kitab atau brosur atau risalah dari mana mereka itu perihal Jama’ah akan dapat mempelajarinya.

Itulah satu faktor mengapa perihal Jama’ah itu dewasa ini telah dirasakan perlunya untuk diuraikan secara tertulis dan tidak lagi mencukupi bilaman hanya di utarakan secara lisan saja.

Adapun yang merupakan faktor yang kedua, adalah terutama bagi keperluan para Mubaligh kita sendiri. Dengan tulisan-tulisan perihal Jama’ah itu para Mubaligh kita dapat saja berkesempatan dapat memahaminya secara lebih mendalam dan karenanya insallah akan memiliki penglihatan kedepan (perspectieven) yang lebih luas dan jauh bagi kepentingan perjuangan dalam menghambakan diri mereka terhadap Allah Subhanahu Wata'ala, akan tetapi dengan seberkas tulisan-tulisan itu sebagai pegangan ataupun pedoman, mereka akan lebih mantap dan tabah lagi didalam menghadapi sasaran dakwah yang disebabkan bukan karena berkas-berkas itu adalah “azimat-azimat sakti” melainkan setelah difahaminya baik-baik mereka mereka dapat menguasai persoalan-persoalan Jama’ah sebagaimana seharusnya. Insallah karena dakwah para mubaligh itu akan lebih berhasil bilamana mereka kerjakan dakwah itu sebagai ibadah kepada Allah semata-mata tiada kemauaan lain melainkan ampunan, rdilo-Nya dan jannah, bagi keperluan mana mereka itu mendapatkan bekal-bekal selengkap mungkinn tentang persoalan yang akan mereka dakwahkan.

Faktor ketiga, yang mendorong mengapa pengertian perihal Jama’ah ini secara tertulis dipandang perlu seluas mungkin diketengahkan, tidak lah itu terpisahkan dari bagaimana situasi dan kondisi cara berfikir umat Islam dewasa ini terutama para ulama dan Zua’amanya. Kepada beliau-beliau ini terlebih dahulu kami memohon maaf, banyak-banyak maaf, karena justru bagi kebesaran Allah semata-mata secara dingin dan berterus terang pula kami berkewajiban melahirkan pertanyaan, bahwa: Sesungguhnya dalam banyak dan pelbagai cabang ilmu (hal ihwal) pada keahlianya masing-masing terhadap beliau-beliau itu kami tidak bisa berbuat lain melainkan menghormati dan bersedia makmum pula untuk mendapatkan i’tibar yang manfaat, akan tetapi didalam menanggapi perihal “Jama’ah” mesih banyak terdapat diantara beliau-beliau itu yang cenderung menganggap “remeh” (tidak berharga) terhadapnya, sedangkan ihwal Jama’ah itu nyata-nyata menurut dalil qath’i, bukanlah hanya sekedar lughawy (menurut artian bahasa) akan tetapi juga memiliki artian dieny (menurut istilah agama). Justru karena perihal Jama’ah itu memiliki artian dien, maka layak dan elaklah bila mana para ‘alim dan za’im kita itu menanggapinya secara berhati-hati serta lebih bersungguh-sungguh. Indolensi (sikap acuh tak acuh) terhadap kebenaran sesuatu ilmu tidak baik, akan tetapi lebih tidak baik lagi bila indolensi itu bertuju pada agama. Bukankah kita berkewajiban lebih takut kepada Allah daripada takut kepada selain-Nya ? Bukankah, bahkan kita hanya boleh takut kepada Allah saja dan tidak boleh takut kepada selain-Nya. Apakah petunjuk ini bukanya petunjuk dan kebenaran ini bukanya kebenaran ? Pintu manakah yang kita lewati untuk bersikap acuk tak acuh terhadap agama, sedangkan dimana pun kita berada tak dapat hindar dari ilmu-Nya?

Ya, itulah faktor ketiga mengapa risalah ini disajikan. Kami inginkan mereka itu tersentak bangkit menelaah “problem” iini secara baik-baik karena Allah sebagaimana harusnya seseorang za’im ataupun ‘alim menganggapi sesuatu masalah. Juga janganlah menanggapinya masalah ini sebagai maaf, ini memang benar terjadi seseorang yang rendah budi, bermuka tembok, tak kenal malu, perompak penemuan pengertian orang karunia Allah dengan menundukkan diri mereka sebagai plagiater. Sebagai hasil dari karya yang tak jujur itulah maka disana-sini ditumbuhkannya jama’ah-jama’ah gadungan, dengan akibat: bukan mempertinggi kalimah Allah, akan tetapi malah menjatuhkannya. Bukan menunjuki ummat pada jalan yang hak, akan tetapi malah menyesatkanya. Bukanya membawa ummat menjadi Hizbullah di dalam arti yang sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya, akan tetapi membawa menjadi Hizbusyaithon. Golongan mereka yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, Na’udzu billahi min dzalik!!

Sebagaimana mereka itu berlaku curang terhadap agama Islam, maka mereka pun berlaku curang terhadap al Qur’an dan al Hadits, dan berlaku curang pula terhadap kata-kata dan makna al Jama’ah. Apakah mereka itu mengira, bahwa Allah Subhanahu Wata'ala itu tidak maha mengetahui, maha mendengar, sedangkan sesuatunya itu akan kembali kepada-Nya.

Sebagai faktor keempat mengapa warkat ini kami susun, dan dalam hal ini merupakan fatsal terakhir, adalah persengajaan kami bagi kepentingan seluruh umat manusia.

Kami sebagai salah seorang pengikut Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam lagi teramat fakir terhadap Allah Subhanahu Wata'ala dan mengakui telah memperbuat banyak-banyak dosa dan kesalahan-kesalahan besar maupun kecil, yang nampak ataupun yang tiada nampak, setelah menyadari bahwa hanya dengan Jama’ah itu umat manusia dapatt disatukan dengan wajar, aman dan damai, kemudian daripadanya insallah tumbuh suatu peradaban dan kebudayaan tertinggi bagi ummat manusia dimana tidak terjadi suatu penindasan ataupun penghisapan antara manusia satu terhadap manusia yang lain, antara bangsa satu terhadap bangsa yang lain, bahkan dengan Jama’ah umat manusia secara wajar karena Allah merasa saling bersaudara, berkasih-kasihan, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bertolong-tolongan disebabkan taqwa mereka terhadap Allah Subhanahu Wata'ala, maka atas karunia Allah semata-mata tumbuh mengembang suatu dorongan nurani yang teramat kuat untuk merasa wajib dan berkewajiban serta bertanggung jawab dalam penyampaian Risalah al Jama’ah ini menurut kadar kemampuan dan kesanggupan kami kepada umat manusia seluruhnya.

Insallah kami maklum bahwa didalam bingkai edaran sejarah umat manusia dewasa ini mereka itus saling sedang asyik dengan tari menari dan nyanyi-nyanyian yang tambah lama tambah kegilaan. Kami maklum bahwa demikin itu adalah kehancuran akhlaq (moral) bagi mereka. Kami maklum, bahwa kekayaan dunia yang mereka timbun itu serupa saja dengan kekayaan yang ditumpuk dan ditimbun oleh Qorun laknatullah, bukan untuk kebahagiaan dan keselamatan umat manusia didalam arti yang sebenar-benarnya dan sesungguhnya, akan tetapi bahkan untuk berbangga-bangga, bermegah-megah diatas bumi Allah ini secara berlebih-lebihan dan tamak, padahal di sisi gedung-gedung dan halaman-halaman yang megah ruah itu berserak-serak bergelimpangan sosok tubuh yang terlantar lapar, terbengkalai tiada yang mengurus. Kami maklum bahwa penemuan-penemuan baru serta kemajuan-kemajuan di bidang teknik yang tidak di ikut sertakan taqwa pada-Nya hanyalah membawa umat manusia pada pemujaan benda (materialisme), sedangkan materialisme ini pula yang menjadi bunda kandungnya atheisme (faham tiada bertuhan) yang menyeret umat manusia kejurang biadab.

 

Dan apakah arti kebiadan itu bagi manusia?

Malapetaka !! itulah jawabanya secara ringkas.

Sebagai “berkahnya” kemajuan budaya dan peradaban Barat yang padanya tidak diikut sertakan Taqwa, maka berabad-abad lamanya umat manusia dikenalkan dengan kedukaan-kedukaan yang diakibatkan oleh sistem-sistem buatan manusia yang lazimnya disebut: Kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme disudut sebelah kanan. Proletarizaring, sosialisme/komunisme, atheisme, disudut sebelah kiri. Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa kedua extremiteiten itu bukannya pembawa keamanan, kedamaian dan kebahagiaan. Dua-duanya, sekalipun dalam edaran sejarah merupakan polareteit yang bersilang, sekarang berlawanan arah sehingga karenanya pada suatu titik dan saat yang tertentu –insallah- pasti terjadi pertumbukkan-pertumbukkan dahsyat antara kedua gejala dan tata masyarakat tersebut—bukanlah itu merupakan suatu pemecahan masalah, bukankah itu suatu responsie (jawaban) nya persoalan, bukanlah itu suatu way out (jalan keluar) dari pada kehancuran moraal serta peradaban umat manusia yang sebenarnya. Dalam tempo setengah abad yang baru lalu saja dua-dua gejala dan tata masyarakat tersebut diatas telah menghasil karyakan dua kali peperangan dunia.

Bahkan hingga pada saat dituliskanya warkat ini, situasi perang panas ataupun dingin masih tetap lembab menyelubungi bumi. Kemajuan-kemajuan di bidang teknik alat-alat perang yang convensionil ataupun yang tidak convensionil (bom-bom atoom, zat air, kimia, biologis, dan lain-lainya yang belum kita ketahui apa itu namanya), dan penerbangan-penerbangan ruang angkasa yang hebat bagi keperluan ilmiyah (tetapi juga dapat dipergunakan untuk memata-matai musuh dan menjadi alat penyebar maut), kenyataanya hasil karya pikr manusia yang membawa perasaan aman dan tenteram, akan tetapi malah memberikan effect psychologis yang sebaliknya. Tubuh nurani umat manusia jadi gemetar menyaksikan dan mengalami sendiri peristiwa-peristiwa tersebut diatas itu. Sebagai selingan atau variasi dalam irama sejarah umat manusia dewasa ini, kata orang mereka itu telah hidup dalam abad modern dan beradab, masih bisa ditambah dengan suatu ironie (senyum simpul yang mengandung ejekan halus) dari pada sejarah yang sedang beredar, bahwa di Amerika Serikat sebagai arsenaal (gudang senjata)nya demokrasi, sebagai benteng utamanya peradaban Barat, tempat bersemayamnya bankier-bankier terkaya di permukaan bumi, terdapat juga hal-hal yang menggelikan bagi peri kemanusiaan, ialah apa yang disebut: Recialisme (perbedaan warna kulit: Hitam dan putih), demokrasi si miskin dan pemabrikan bacaan, gambar-gambar dan film cabul. Di Inggris, bekas kampiun dunia dalam bidang kenegeraan terutama yang mengenai soal-soal penjajahan, dan terkenal pula sebagai jagoan dalam memperangi Hukum adat Kuno dari bangsa dan negerinya, jadi dapat dianggap sebagai salah satu negeri paling sopan, paling susila, untuk Eropa Barat, terdengar keluh kesah diantara para dokter mereka sendiri, karena pada hari-hari belakangan ini jumlah procentage gadis-gadis Inggris yang bukan perawan lagi bertambah banyak (puluhan percent) sedang anak-anak bayi yang tiada berbapak tetapi musykil dapat digolongkan pada kategori yatama , berjajar-jajar telentang makin memadat dirumah-rumah sakit beranak. Apa pula gerangan yang terjadi dalam lingkungan apa yang disebut “kubu-kubu sosialis/komunis?”. Jangan dikata terhadap mereka yang termasuk kedalam golongan lain; didalam lingkunganya sendiri pun adalah lazim untuk terkamm menerkam satu sama lain. Drama berdarah yang  baru-baru ini dipentaskan oleh pelaku-pelaku apa yang disebut pengawal merah di RR. Cina dan serbuan soldadu-soldadu komunis Rusia / Pakta Warsawa ke wilayah sekutunya sendiri yang berhaluan agak liberal (Cekoslowakia) merupakan fragmenta atau kepingan dalam sejarah peradaban komunis, yang apabila kesemuanya tadi kita tetap secara sungguh-sungguh, akan tetapi juga secara tenang, cukup kiranya dapat memberikan pengaruh-pengaruh atas kejiwaan kita yang mengesankan atau, ya ..bahkan mengerikan.

Gambaran sekilas mengena nasib umat manusia dewasa ini sebagai terukir diatas insallah bersesuaian benar dengan apa yang di firmankan Allah Subhanahu Wata'ala didalam kitab suci al Qur’an Surat ar-Ruum: 41, yang artinya :

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Demikianlah firman Allah, dzat yang menjadikan semesta alam ini. “mudah-mudahan mereka akan kembali”. Firmanya, maksudnya: Hendaknya umat manusia itu setelah mengalami rupa-rupa penderitaan dan kerusakan sebagai akibat dari perbuatan-perbuatanya sendiri itu menjadi sadar, tumbuh penyesalan dari pada perbuatan mereka yang sudah-sudah, kemudian kembali bertaubat pada Allah Subhanahu Wata'ala dengan menthoati agamanya.

 

Akan tetapi nampaklah sudah tanda-tanda bahwa umat manusia sekarang ini mau kembali bertaubat kehadirat Allah Azza Wajala ? Kiranya belum, tanda-tanda makin membandel, bertambah-tambah dahsyat dengan wujud perang dunia ke tiga atau perang atoom / zat air itulah yang mereka nantinkan. Perang dunia pertama dan kedua belum cukup seram, jadi minta yang lebih seram lagi.

 

Benarkah demikian, ya akhi...Benarkah wahai umat manusia, bahwa kamu baru mau akan sadar, baru mau akan membuat instropeksi dan restrospeksi, baru mau menyesali perbuatan kamu yang sudah-sudah itu kemudian bertaubat kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala setelah, ya setelah, sekali lagi, setelah cambuk peringatan al Aziz yang berupa perang dunia ketiga itu dijatuhkan oleh Allah diatas punggung tubuhmu ??......Benarkah itu demikian...??

 

Astagfirullah ! Mudah-mudahan itu tidak benar, ya Allah ...

 

Sekiranya itu benar, maka mustahillah mereka itu sanggup dan kuat memikul mendukungnya. Engakau maha mengetahui, ya Allah bahwa mereka itu sebenarnya hanya segumpal darah yang membeku saja. Kulit-kulitnya tipis, daging-dagingnya bukan dari suatu jenis yang dapat dikunyah binatang, tulang-tulangnya pun rapuh. Sedang daya kemampuan berfikir mereka itu juga bukan tiada berbatas. Adalah suatu hal yang mentakjubkan, karena itu merupakan keajaiban luar biasa, sekiranya umat manusia sanggup dan kuat menerima adzab cambuk peringatan Allah yang berupa bom-bom atom dan zat air yang ribuan kali kadar kekuatanya dibanding dengan bom atom yang dijatuhkan orang masing-masing diatas sebutir diatas dua kota bunga sakura: Nagasaki dan Hiroshima.

 

Bukankah baru dengan dua butir bom atom yang kadarnya kecil itu saja umat manusia dari segala penjuru jagad telah menggeliat berjerit-jerit kesakitan sambil jongkok-jongkok dan tiarap mengajukan protes serta petisi (surat permohonan) agar bom-bom iblis itu jangan dibuat orang dan dipergunakan lagi? Bagaimana mumkin umat manusia dapat hidup selamat didalam rendaman api atom dan zat air, ini baru adzab peringatan Allah didunia yang fana ini, ya akhi... sedangan dengan air bah dan taufan Nuh ‘Alaihi Salam itu saja mereka telah gelagapan terkapar telentang menjadi bangkai ? Hidup dalam rendaman air dingin saja sudah tak sanggup, betapa pula hidup dalam rendaman api ?.

 

Walhasil, umat manusia yang mentalitasnya menyerupai mentalitas Yahudi sebagaimana tertera diatas itulah karena dan dengan nama Allah saja, kami menyengaja diri menyantuni dengan al Jama’ah ini.

 

Kami mengerti, bahwa sangat mungkin mereka akan mencemoohkan kami, sebagaimana kaum jahiliyah dahulu-pun mencemoohkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam serta shahabat-shahabatnya. Bahkan sebagaimana Allah Subhanahu Wata'ala telah menunjuki kita dalam kitab suci al Qur’an, sikap demikian itu telah menjadi sunnatullah bahwa para anbiya dan Mursalin mendapat lontaran cemooh dan hinaan dari kaum mereka masing-masing. Sedangkan terhadap para anbiya dan Mursalin mereka itu berbuat demikian, apalagi terhadap kami yang serba dlaif ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalah salah satu haditsnya telah membuat permisalan, laksana: “seseorang budak Habsy yang rumpung berambut keriting laksana kismis”... Perlakuan demikian itu bukanlah termasuk didalam ruang mustahil.

Akan tetapi kami adalah seorang muslim; kami adalah –atas karunia dan nikmat Allah semata-mata – seorang pengikut Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Iyyakana’budu Wa Iyyakanasta’in. Hasbiyallahu Wa Nikmal Wakiel. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah.

Cukup kiranya sekelumit huruf-huruf yang berjajar sebagai mana tersebut diatas itu kami pergunakan sebagai Muqaddimah Risalah ini.

Ya Allah !! Karuniakan bagi hamba-Mu yang hina-hina ini akan keshabaran, sebanyak-banyak keshabaran, secukup-cukup dan sebaik-baik keshabaran, karena engkau ya Allah menyertai mereka yang bershabar, dan engkau pun telah berfirman didalam kitab suci-Mu:

Dan bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. (Q.s ar Ruum: 60)

Firman-Mu itu benar ya Allah semoga dengan taufiq dan hidayah-Mu maka kami dapat memahami dan mengamalkan sebagaimana mestinya dengan contoh suri tauladan hamba dan utusan-Mu Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam, amiin ya rabbal ‘alamin.

                                                                              Allahu Akbar wa lillahil Hamdu

                                                                                              “al Jama’ah”

                                                                                                  Imaam

 

 

                                                                                             Wali Al Fatah

Jakarta, 05 Sya’ban 1388 H
         29 Oktober 1968 M