Berbicara tentang sholat, bisa dikatakan bahwa semua umat Islam tahu, bahwa itu adalah kewajiban setiap pribadi muslim. Sholat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Sholat adalah salah satu bentuk ibadah kaum muslimin kepada Alloh SWT. Umat Islam yang sudah melewati masa baligh sudah tahu semua itu. Namun, sejauh mana pemahaman mereka, tentu sangat beragam, tergantung pengetahuan yang mereka miliki tentang sholat itu sendiri. Ironisnya, dari sekian milyar umat Islam yang ada di dunia ini, apabila dipertanyakan, manakah yang lebih banyak, antara mereka yang melaksanakan kewajiban sholat dan mereka yang tidak melaksanakannya? Jawabannya: mereka yang tidak melaksanakan kewajiban sholat lebih banyak daripada yang melaksanakannya. Kenapa? Karena:

 

  1. Tidak Mau Sholat

Mereka tahu ibadah sholat adalah kewajiban, tapi kenapa mereka tidak melaksanakannya? Jika hal ini dipertanyakan, tentu jawaban mereka masing-masing tidak akan sama. Berbagai macam jawaban dan alasan pembenaran akan diungkapkan untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan itu tidaklah salah. Bahkan bisa disusun rangkaian kata dan kalimat yang membentuk sebuah argumentasi yang terdengar logis dan masuk akal. Tapi intinya, mereka tidak mau melaksanakan ibadah sholat, walau mereka tahu itu adalah kewajiban dirinya sebagai seorang muslim. Mereka yang tidak melaksanakan kewajiban ibadah sholat ini, bila dilihat berdasarkan argumentasi yang mereka miliki, bisa dibedakan menjadi beberapa macam sikap. Ada yang memang bersikap antisholat, ada yang malassholat, dan ada pula yang sering melupakan sholat.

Ungkapan istilah “Islam KTP” sudah sangat akrab terdengar di telinga kita. Yaitu untuk menunjukkan jati diri kebanyakan umat Islam yang mengaku sebagai muslim, tapi tidak pernah mau tahu ajaran dan tuntunan yang ada di dalam agamanya. Jangankan untuk mengamalkannya, untuk mengetahui ilmunya saja mereka tidak mau. Mereka yang antisholat, malassholat, dan atau sering melupakan sholat, bisa menjadi salah satu contoh keberadaan gelar “Islam KTP” tersebut. Artinya, bila kita lihat KTP-nya akan jelas terlihat bahwa agamanya adalah Islam, namun berbagai kewajiban ibadah yang terhimpun di dalam Rukun Islam, tidak mereka laksanakan, termasuk sholat. Yang mengherankan adalah, apabila dikatakan bahwa mereka “bukan umat Islam”, mereka akan menolak dan marah. Mereka tetap ingin diakui sebagai seorang muslim, dan menunjukkan KTP sebagai buktinya.

Sikap anti-sholat, seringkali berawal dari sebuah pengalaman hidup yang tidak sesuai harapan, mengecewakan, merasa gagal total, atau bahkan sesuatu yang menurutnya “menghancurkan” dirinya. Ditinggalkan oleh orang yang dicintai, jatuh miskin karena habisnya harta benda, atau penyakit yang tak kunjung sembuh, bisa menjadi salah satu sebab yang merubah pribadi seseorang menjadi kebalikan dari sebelumnya. Yang tadinya taat, bisa berubah menjadi pembangkang nomor satu. Dia kan menyalahkan keadaan, pihak-pihak terkait akan dijadikannya sebagai “kambing hitam” yang ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang dialaminya. Bahkan lebih dari itu, dia pun akan menjadi orang yang berani “menggugat” keadilan Tuhan. Pengalaman hidup yang buruk bisa menjadi alat pembenaran atas ketidakpatuhannya pada ajaran Islam. Tidak mau lagi melaksanakan kewajiban sholat, merupakan salah satu contoh dari sikap “protes”-nya.

 

  1. Malas Sholat

Bagi orang yang malas-sholat dan atau yang sering melupakan sholat, alasan pembenaran atas sikap yang dipilihnya, mungkin tidak jauh berbeda. Walau ada kemiripan dalam berargumentasi, namun dalam kehidupan bertetangga, atau dalam pergaulan masyarakat yang lebih luas, merekatidak menampakkan diri sebagai orang yang “anti sholat”. Paling tidak, mereka akan memaksakan diri untuk berangkat sholat jum’at dan sholat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Adapun dalam hal sholat fardhu yang lima waktu, lebih sering untuk mengemas “kemalasan”-nya dengan seribu satu alasan. Kesibukan pekerjaan, perjalanan, pakaian atau celana kotor, seringkali terdengar sebagai alasan untuk menunda-nunda sholat. Apabila merasa ada orang yang terus menerus “mengawasi”, barulah dengan terpaksa mereka akan terlihat melaksanakan sholat.

Malas sholat bisa jadi hanya semata-mata dikarenakan “rasa malas” saja. Namun bisa juga “malas”-nya itu sebagai sikap skeptis dengan mempertanyakan kondisi sulit yang dialami. Misalnya kadang ada ungkapan:

“Malas aku sholat, kenyataannya dengan rajin sholat juga tidak menjadikan nasibku lebih baik…”

Yang lainnya ada pula yang mengatakan,

“Yang rajin sholat aja, masih banyak yang korupsi dan berbuat dzolim pada orang lain…”

 

  1. Melupakan Sholat

Karena aktivitas yang padat, mungkin seseorang akan lupa untuk melaksanakan sholat. “Lupa” memang sifat manusiawi yang melekat dalam diri setiap orang, dan itu wajar dan dapat dimaklumi. Agar masuk dalam kategori “wajar” dan supaya dianggap “manusiawi”,kemudian banyak orang yang “pura-pura lupa” hanya untuk menghindari kewajiban.Dan lebih dari itu, banyak pula yang berlindung dalam kemasan “sibuk” untuk dengan sengaja “melupakan” kewajiban sholat.

Kesibukan pekerjaan, hobby yang menyenangkan atau kegiatan yang menyita perhatian, seringkali menjadi alasan utama untuk menunda pelaksanaan sholat dari waktu yang seharusnya. Awalnya mungkin ada sedikit merasa bersalah karena mengabaikan kewajiban, namun karena sudah terlalu sering ditunda atau bahkan terlewat, maka selanjutnya bila itu terjadi lagi, tidak lagi menjadi “masalah” bagi mereka. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi rasa berdosa, akhirnya sudah menjadi terbiasa.

 

  1. Menikmati Masa Muda

Menginjak usia remaja, setiap anak cenderung untuk bergaul dan bergerombol dengan teman-teman sebayanya. Dampak dari pergaulan itu, hasrat mereka lebih banyak didominasi oleh keinginan untuk bermain, bersenang-senang, dan bahkan hura-hura. Sedikit sekali dari mereka yang memiliki kegiatan positif dalam aktivitas kesehariannya. Kebanyakan dari mereka justru lebih tertarik untuk “bebas” melakukan apa saja dalam rangka menikmati hidup. Kecenderungan tersebut seringkali menjerat kaum remaja ke dalam perangkap “salah pergaulan” dan atau penyalahgunaan obat-obat terlarang. Di dalam masa-masa itu, sholat tidak dianggap penting, bahkan mereka tidak peduli sama sekali. Muncul ungkapan di kalangan mereka, “Nikmati hidup selagi muda, ibadah nanti aja kalau sudah tua…”. Ungkapan itu sudah menjadi hal yang lumrah diutarakan, seolah mereka yakin tidak akan mati muda.

 

Demikianlah, berbagai contoh latar belakang dan cara berpikir yang faktanya memang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Seorang muslim, tetapi tidak sholat. Ada yang tidak mau sholat sama sekali, ada pula yang terkadang sholat dan lebih sering tidak. Ada juga yang sholat seminggu sekali (sholat jum’at), atau setahun dua kali (Idul Fitri dan Idul Adha) saja. Masalahnya adalah karena belum adanya keyakinan di dalam hatinya. Belum menjadikan keimanan sebagai landasan di dalam pelaksanaan amal ibadahnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *