Pasca Aksi Teror, Buku Islam Justru Laris Manis di Perancis

Paris, CNN Indonesia -- Serangan teroris yang mengatasnamakan Islam di Paris beberapa waktu lalu tidak justru membuat masyarakat Perancis antipati terhadap umat Muslim. Bahkan, kejadian ini membuat mereka penasaran dan mencari tahu sendiri soal Islam, menolak mentah-mentah interpretasi yang disampaikan para kelompok teror. 

Diberitakan France24 awal pekan ini, buku-buku Islam laris manis usai penembakan yang terjadi Januari lalu di kantor majalah Charlie Hebdo dan sebuah kafe kosher yang menewaskan 17 orang. Bahkan penjualannya tiga kali lipat lebih banyak di kuartal pertama 2015 ketimbang periode yang sama tahun lalu.

"Warga Perancis semakin banyak bertanya, dan mereka tidak puas mendapatkan jawaban hanya dari media," kata Fabrice Gerschel, direktur majalah Philosophie yang menerbitkan suplemen khusus tentang Al-Quran. 

Mathilde Mahieux dari toko buku agama La Procure mengatakan bahwa buku Islam laris karena masyarakat ingin memahami Islam yang sebenarnya, bukan yang diklaim oleh ISIS. Hal yang sama disampaikan oleh banyak pemilik toko buku lainnya.

"Wanita yang terlihat seperti seorang Katolik yang taat membeli Al-Quran karena dia ingin memahami sendiri apakah Islam agama yang penuh kekerasan," kata Yvon Gilabert, pemilik toko buku di Nantes, bagian barat Perancis.

Rasa penasaran yang sama juga dialami oleh para akademisi. Kampus College de France di Paris contohnya yang Kamis pekan lalu meresmikan pusat studi Al-Quran.

Jean Rony, dosen Universitas Sorbonne mulai mempelajari Al-Quran tahun ini, setelah insiden penembakan di Paris. "Melihat situasinya, saya menambahkan sesi pelajaran agama monoteis di kelas budaya umum untuk mahasiswa yang mempersiapkan ujian master," ujar Rony.

Mansour Mansour, pemilik percetakan buku agama Islam dan Timur Tengah Al Bouraq mengatakan bahwa penjualannya meningkat 30 persen. "Hal yang sama terjadi setelah serangan 11 September tahun 2001," ujar Manour.

Perlu bimbingan

Kendati laku keras, namun Mansour mengingatkan masyarakat untuk mempelajari al-Quran dengan bimbingan ulama atau pemuka agama. Pasalnya dia khawatir akan banyak orang yang mengartikan secara harfiah teks-teks Al-Quran yang mengandung banyak interpretasi di dalamnya. Untuk pemula, dia menyarankan membaca mulai dari biografi Nabi Muhammad.

Menurut penerbit Hebdo Livres, buku-buku Islam yang diterbitkan tahun lalu di Perancis dua kali lipat lebih banyak dibanding buku Kristen.

Dalam pameran buku terbesar di Perancis Maret lalu, penjualan terbanyak dari penerbit Le Cerf yang dimiliki oleh ordo Katolik Dominika adalah buku berjudul "A Christian Reads The Koran", sebuah buku yang pertama kali diterbitkan tahun 1984.

Hal yang sama juga dialami oleh penerbit Columbia University Press. Buku-buku yang paling laku dari penerbit asal AS ini berjudul "The Silent Koran, the Talking Koran" oleh Mohammad Ali Amir-Moezzi, dan juga buku bestseller karangan rapper Abdul Malik berjudul "May Allah bless France."

Keingintahuan yang besar terhadap Islam di Eropa diprediksi akan membuat agama ini berkembang pesat. Sebuah penelitian terbaru oleh Pew Research Center di AS memperkirakan pada tahun 2050 mendatang satu dari 10 orang Eropa bakal memeluk agama Islam.

Dilansir dari hasil penelitian yang dirilis pewforum.org pada Kamis lalu, laju pertumbuhan umat muslim di dunia sangat pesat. Bahkan, para peneliti dari lembaga think tank negeri Abang Sam itu mengemukakan kekristenan tidak akan lagi menjadi agama yang dominan di dunia pada tahun 2050. Itu disebabkan karena hampir semua kelompok agama besar akan bertambah jumlahnya.