Charlie Hebdo, Kantor Tabloid Penghina Nabi Muhammad Diserang 11 Orang Tewas

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Beberapa masjid yang berada di Prancis menjadi sasaran penyerangan sejumlah kelompok, pascainsiden di kantor majalah mingguan Charlie Hebdo.

Dikutip dari Daily Star, sebuah ledakan terjadi di toko kebab dekat masjid di kota timur Prancis, Villefranche-sur-Saone, Kamis (8/1). Pihak berwenang mengabarkan tidak ada korban jiwa dalam insiden.

“Ini adalah tindakan kriminal,” kata seorang pejabat lokal yang tak mau disebut namanya.

Ia mengatakan polisi segera melakukan menyelidikan pasca kejadian. Serangan tersebut disinyalir tidak ada hubungannya dengan serangan berdarah di majalah Paris Chalie Hebdo.

Meski demikian, AFP melaporkan serangan pada masjid-masjid Prancis tak hanya satu. Kelompok Muslim Prancis mendesak para imam mengecam terorisme dalam tempat ibadah, termasuk dalam ibadah shalat Jumat.

Mantan jurnalis Charlie Hebdo, Caroline Fourest, menyatakan penyerangan terhadap kantor media tersebut tidak akan menghilangkan kebebasan pers Prancis. Penerima penghargaan jurnalis ini bahkan menjanjikan Charlie Hebdotetap akan terbit pekan depan.

“Walaupun seandainya mereka membunuh 10 jurnalis kami, Charlie Hebdo akan tetap terbit minggu depan,” ujar Fourest.

Serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo menewaskan 12 orang. Delapan di antara korban tersebut merupakan mantan teman sejawat Fourest. Meski terjadi serangan, Fourest meyakinkan bahwa edisi majalah Charlie Hebdo selanjutnya akan tetap terbit pada pekan depan. Fourest menegaskan penyerangan fatal yang terjadi pada Charlie Hebdo tidak akan membuat kebebasan berpendapat di Prancis menjadi bisu.

Ia menyatakan bahwa para jurnalis Charlie Hebdo yang selamat serta para mantan rekan sejawat seperti Fourest telah memutuskan untuk bekerja sama. Mereka akan melakukan pertemuan besok (9/1) terkait penerbitan edisi Charlie Hebdo selanjutnya. Ia menegaskan tindakan pelaku penyerangan tidak akan menghentikan langkah mereka.

Fourest juga menilai para militan yang melakukan penyerangan adalah orang gila yang bodoh karena militan tersebut melakukan hal yang kejam karena takut pada gambar kartun sederhana. Ia pun menyebut bahwa para militan merupakan sekumpulan orang-orang tanpa kemampuan. Pasalnya, membunuh dengan senjata otomatis bisa dilakukan oleh siapa saja. Sedangkan para korban yang merupakan jurnalis dan kartunis merupakan orang-orang yang memiliki talenta.

“Orang-orang tanpa talenta itu membunuh banyak orang bertalenta hari ini hanya untuk menciptakan emosi, menyebabkan orang terkejut, dan membuat situasi penuh kepanikan serta kebencian,” lanjut Fourest.

Fourest menyatakan selama ini para mantan teman sejawatnya hidup di bawah perlindungan polisi selama bertahun-tahun. Ia menggambarkan para korban sebagai orang-orang yang manis sekaligus pemberani. Pasalnya, para jurnalis yang menjadi korban tersebut dapat membuat orang lain tersenyum dengan sambil tetap memperjuangkan kebebasan pers.

Stephane Charbonnier, Pemred Majalah Penghina Islam Charlie Hebdo Masuk Daftar Buronan Mujahidin

PARIS, PERANCIS (Panjimas.com) – Pemimpin redaksi majalah penghina Islam Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, yang dikenal sebagai Charb ternyata buronan mujahidin.

Pemred yang tewas dalam penembakan di kantor majalah penghina Islam, Charlie Hebdo di Paris pernah dimuat namanya dalam daftar buronan di majalah al-Qaeda, Inspire Magazine.

Stephane Charbonnier adalah salah satu dari 12 orang, termasuk sejumlah kartunis dan polisi, tewas dalam serangan mematikan yang dilakukan beberapa pria bertopeng dengan senapan Kalashnikov. (Baca: Alhamdulillah Serangan di Markas Charlie Hebdo Tepat Sasaran, Bunuh Pemred dan Kartunis Penghina Nabi Muhammad)

Pemred sekaligus kartunis yang dikenal sebagai “Charb” adalah target lama yang pernah dirilis sebuah majalah yang dirintis Asy Syahid -insya Allah- Samir Khan dan diterbitkan al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).

Inspire magazine dalam edisi Maret 2013, memajang foto Charbonnier yang dapat dilihat dalam tema utama majalah online tersebut pada halaman 10 dengan judul “Diburu hidup atau Mati karena Kejahatan terhadap Islam.” Dalam rilis tersebut juga yang memuat buronan penghina Islam lainnya seperti Molly Norris, Ayaan Hirsi Ali, Flemming Rose, Morris Swadiq, Salman Rushdie, Girt Wilders, Lars Vilks, Carsten Luste, Terry Jones, dan Kurt Westergaard.

Untuk diketahui, Stephane Charbonnier, Pemred majalah penghina Islam tepat pada awal Januari 2013 lalu pernah menerbitkan komik menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ia bahkan menyatakan komik itu sebagai komik yang menggambarkan biografi Nabi Muhammad versi Charlie Hebdo itu sebagai komik halal karena diedit oleh editor Muslim (baca: liberal).

‘’Kami sudah memiliki gambaran tentang kehidupan Muhammad seperti yang diceritakan oleh sejarawan Muslim. Tidak ada tambahan humor,’’ bunyi pernyataan Charlie Hebdo seperti dikutip Dailybhaskar dari Aljazeera. ‘’Jika bentuknya memunculkan sejumlah hujatan, latar belakangnya sepenuhnya halal,’’ Editor Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, mengatakan kepada AFP, Rabu (2/1/2013).

Ilustrotor majalah penghina Islam itu mengaku dirinya mendapat ide meluncurkan komik biografi tentang Nabi Muhammad sejak enam tahun silam. Charb terinspirasi oleh surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, yang mempublikasi 12 kartun menghina Nabi Muhammad pada September 2005.

Ulah majalah Charlie Hebdo yang berulang kali menghina Nabi Muhammad membuat umat Islam marah. Sebab dalam Islam, hukum penghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam, halal darahnya. Pada 2011, kantor Charlie Hebdo pernah dilempar bom api dan situsnya dibajak setelah menerbitkan edisi ‘Charia Hebdo’ yang memuat beberapa gambar kartun Muhammad.

Stephane Charbonnier mendapat sejumlah ancaman pembunuhan. Penanggung jawab penerbitan Charlie Hebdo yang dikenal dengan nama Charb itu selama ini hidup dalam kawalan pihak kepolisian.

Selain Stephane Charbonnier, tiga kartunis penghina Nabi Muhammad. Cabut, 76 tahun juga disebut Cabu, adalah kartunis dalam majalah Charlie Hebdo yang menghina Islam. Wolinski pria 80-tahun yang telah menggambar kartun sejak 1960-an dan Tignous kontributor majalah yang berusia 57 tahun.

Serangan itu juga menembak mati seorang ekonom dan kontributor majalah tersebut, Bernard Maris, 68.

Tiga orang yang tewas lainnya dilaporkan adalah tamu di kantor majalah itu yakni Editor Michel Renaud, kartunis 73 tahun Philippe Honore – yang dikenal sebagai Honore – dan korektor majalah Mustapha Ourad.

Dua petugas polisi, Ahmed Merabet dan Franck Brinsolaro, juga termasuk di antara 12 orang yang tewas, menurut media Prancis.

Charbonnier, 47, yang dikenal dengan nama pena-nya Charb berkata “Aku lebih suka mati daripada hidup seperti tikus.” Dia juga menyatakan, dalam menghadapi, “Aku hidup di bawah hukum Perancis, bukan hukum Al-Qur’an.” [AW/dbs]

Charlie Hebdo, Kantor Tabloid Penghina Nabi Muhammad Diserang 11 Orang Tewas

Sebuah aksi bersenjata terjadi di kantor pusat majalah satir “Charlie Hebdo” di Paris, Perancis, Rabu, menyebabkan 11 orang tewas dan empat orang cedera serius.

Korban yang tewas itu meliputi sembilan orang jurnalis dan dua polisi, kata Rocco Contento, juru bicara polisi setempat. (Baca: Alhamdulillah Serangan di Markas Charlie Hebdo Tepat Sasaran, Bunuh Editor dan Kartunis Penghina Nabi Muhammad)

Rocco juga menjelaskan bahwa penyerang berjumlah empat orang. Mereka memasuki kantor “Charlie Hebdo” pada pukul 11.30 siang waktu Paris, membawa pistol dan Kalashnikov.

“Mereka menembaki semua orang, itu adalah aksi pembantaian,” kata dia seperti dikutip harian Liberation.

Aksi ini merupakan reaksi terhadap publikasi “Charlie Hebdo” yang beberapa kali menampilkan gambar karikatur Nabi Muhammad dengan nada menghina.

Rekam jejak majalah mingguan “Charlie Hebdo”, sebagaimana dikutip dari The Guardian, halaman utama dengan gambar karikatur Nabi Muhammad tertulis sebagai editor majalah “Charia Hebdo” dan berkata “hukum cambuk 100 kali bila Anda tidak mati tertawa”.

Edisi spesial yang dirilis pada November 2011 ini memantik aksi bom api di kantor majalah “Charlie Hebdo”.

Bom dengan bensin itu merusak perkantoran di Paris, laman resmi majalah itu juga diretas, dan pekerja majalah diancam akan dibunuh.

Namun enam hari kemudian, seolah jauh dari kata kapok, majalah ini merilis gambar karikatur seorang kartunis “Charlie Hebdo” yang sangat bernafsu mencium seorang pria berjenggot di depan gedung yang rusak akibat aksi bom.

Judul yang dipilih kali itu adalah “L’Amour plus fort que la haine”  (Cinta lebih kuat daripada kebencian).

Kurang dari setahun setelah insiden itu, “Charlie Hebdo” mempublikasi beberapa karikatur menghina Nabi Muhammad.

Akibat edisi “Charlie Hebdo” itu, Pemerintah Prancis sempat meminta agar redaksi tidak meneruskan publikasi tersebut. Tapi permintaan itu ditolak, dan Prancis terpaksa menutup kantor kedutaan serta sekolah-sekolah di 20 negara akibat khawatir dengan keselamatan warganya di luar negeri. [AW/Ant]

Dari berbagai sumber:

http://panjimas.com/news/2015/01/07/charlie-hebdo-kantor-tabloid-penghina-nabi-muhammad-diserang-11-orang-tewas/

http://hizbut-tahrir.or.id/2015/01/08/kantor-charlie-hebdo-majalah-penghina-nabi-diserang-11-orang-tewas/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *