1. Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua mata itu adalah penutup (ikatan) dubur, maka barangsiapa tidur maka haruslah ia berwudhu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan ad-Daruquthni). Di dalam sanad hadits ini terdapat nama Baqiyyah bin Al-Walid bin Shoid bin Ka’bab Al-Kala’iy yang banyak memalsukan hadits, karenanya ia dhoif (Taqribut Tahdzib 1/1050).

 

  1. Ada diriwayatkan, bahwasanya wudhu itu wajib atas orang yang tidur miring. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Abu Dawud berkata: “Hadits ini munkar, sebab tidak diriwayatkan hadits ini kacuali dari Yazid (Abu Khalid) Ad-Dalai. Semua ahli hadits menilainya munkar (Talhisul Habir 1/121 nomor 162).

 

  1. Dikarenakan hadits-hadits yang menunjukkan batalnya wudhu disebabkan tidur sanadnya tidak ada yang kuat maka sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa tidur (walaupun nyenyak), itu tidak membatalkan wudhu (Subulus Salam 1/115).

 

  1. Ada pendapat yang mengatakan bahwasanya menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya, bahkan istrinya sendiri, itu membatalkan wudhu. Pendapat ini berlandaskan ayat, “AULAMASTUMUN NISAA” dalam surat an-Nisa ayat 42 dan al-Maidah ayat 6, yang artinya secara harfiah “atau kamu menyentuh perempuan”. Sedangkan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam yang dibangkitkan untuk menjelaskan makna ayat-ayat al-Quran, dalam sholat malam pernah menyentuh kaki ‘Aisyah, sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah, “Sungguh kamu semua melihat aku tidur melintang di hadapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang sholat. Apabila akan sujud maka beliau memijit kakiku, dan aku mengumpulkannya, kemudian beliau sujud.” Dengan demikian, yang dimaksud “menyentuh perempuan” dalam surat an-Nisa ayat 42 dan al-Maidah ayat 6 adalah “menyetubuhi”. (Rowa’iul Bayan 1/486-487)

 

  1. Hadits yang menyatakan barangsiapa muntah atau mimisan atau bersendawa (tahag) atau keluar madzi, maka hendaklah ia keluar (dari sholat) dan wudhu, kemudian melanjutkan sholatnya, yang dalam hal ini ia tidak berbicara. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan ad-Daruquthni). Ash-Shon’ani berkata: “Hadits tersebut mursal”. (Subulus Salam 1/68).

 

(Dikutip dari buku “Tuntunan Shalat Menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” jilid 1 halaman 17, penerbit: Media Al-Fatah Press)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *