1. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memisahkan antara berkumur dan beristinsyaq (diriwayatkan oleh Abu Dawud). Dalam sanad hadits ini terdapat nama Laits bin Abu Sulaim. An-Nawawi berkata, “Ulama ahli hadits sepakat mendhoifkannya”. (Bulughul Maram).

 

  1. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tatkala berwudhu beliau memutarkan air pada siku-siku beliau (diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi). Di dalam sanad hadits tersebut terdapat Al-Qasim bin Muhammad ‘Uqaili, Abu Hatim berkata, “Al-Qasim adalah matruk.” Abu Zar’ah berkata, “Hadits-haditsnya munkar”, Ahmad dan Ibnu Mu’in mendhaifkannya. (Talhisul Habir 1/57)

 

  1. Tidak ada satu hadits pun yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mencukupkan mengusap sebagian kepala atau ubun-ubun tanpa mengusap bagian yang lain dari kepala (Subulus Salam 1/50)

 

  1. Ada yang meriwayatkan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan membaca BISMILLAH, maka seluruh badannya menjadi suci. Dan barangsiapa berwudhu tidak membaca BISMILLAH, maka anggota wudhu sajalah yang suci” (diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi). Dalam sanad Al-Baihaqi terdapat Abu Bakar Ad-Dahiri, ia adalah matruk.

 

Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu meriwayatkan, “tidak wudhu bagi orang yang tidak membaca BISMILLAH” (diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi). Dijelaskan dalam Talhisul Habir bahwa sanad-sanad hadits tersebut dari delapan perawi, dengan berbagai matannya, akhirnya disimpulkan bahwasanya matan hadits tersebut muhtamal (perlu ta’wil) di samping dari sekian sanad terdapat orang-orang yang dhaif, munkar dan majhul. An-Nawawi berkata: “Dapat saja dalam masalah ini berhujjah dengan hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa setiap urusan yang baik, yang tidak dimulai dengan membaca BISMILLAH, maka itu terputus kebaikannya, tetapi hadits ini juga dhaif” (Talhisul Habir 1/72-76).

 

  1. Hadits yang menyatakan bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mempunyai handuk untuk berhanduk sesudah wudhu (diriwayatkan oleh Al-Hakim) dan hadits Mu’adz, “Saya melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tatkala selesai wudhu beliau membersihkannya dengan ujung kainnya” (diriwayatkan oleh At-Tirmidzi) adalah dhaif, sebab dalam sanadnya terdapat Abu Mu’adz, ia adalah dhaif (Talhisul Habir 1/99-113).

 

  1. Tentang menyela-nyelai jenggot disebutkan oleh Ibnu Hatim dari ayahnya dan Abdullah bin Ahmad dari ayahnya, ia berkata, “Tidak ada hadits yang shahih dalam hal menyela-nyelai jenggot” (Talhisul Habir 1/87).

 

  1. Ada yang meriwayatkan bahwasanya sunatnya wudhu membaca do’a tatkala membasuh muka, kedua tangan, kepala, dan kaki” (diriwayatkan oleh Ibnu Asyakir)

 

An-Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah mengatakan, “Do’a ini tidak ada asalnya (bukan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam)” (Talhisul Habir 1/87)

 

  1. Adapun tambahan ALLOHUMMAJ’ALNI MINAT TAWWABINA WAJ’ALNI MINAL MUTATHOHIRIN, sanadnya mudhthorib dan tidak shahih.

 

Ada do’a lain setelah wudhu, SUBHANAKALLOHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIKA (diriwayatkan oleh An-Nasai, Ath-Thabrani, dan Ad-Darimi). Hadits tersebut mauquf (Talhisul Habir 1/101-102 nomor 121).

 

(Dikutip dari buku “Tuntunan Shalat Menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” jilid 1 halaman 23, penerbit: Media Al-Fatah Press)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *