Adzan Fajar yang Pertama

Rasulullah shallallahu’alihi wa sallam bersabda :

????? ???????? ????????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ????????? ????? ????? ????????? ????? ????? ??????? ??????? ??????? ??? ???????? ?????? ??????? ???? ?????????? ?????????? (???? ??????? ???????? ?????? ???????)

“Sesungguhnya Bilal itu adzan pada waktu malam, maka makanlah dan minumlah sehingga terdengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” Kemudian dia berkata, “Dia adalah orang buta, maka ia tidak adzan sehingga dikatakan kepadanya,” Telah datang waktu shubuh, telah datang waktu shubuh”. HR Al-Bukhari (I/16), An-Nasai (II/9). Dari Salim dari Ayahnya.

-           Lafazh ini dari Al-Bukhari.

Keterangan

  • Hadits ini menunjukan tentang disyari’atkannya adzan pada malam hari (sebelum Shubuh) sebagaimana yang dilaksanakan oleh Bilal pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Mahdzurah ia berkata :

?????? ????????? ????????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ???????? ??????? ??? ??????? ????????? ?????????? ????? ????? ?????????? ?????????? ?????? ???? ????????? ?????????? ?????? ???? ????????? ????? ???????? ????? ???????? ??? ?????? ?????? ????? (???? ???????)

“Saya melaksanakan adzan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya mengucapkan dalam adzan fajar yang pertama:

 “HAYYA ‘ALAL FALAH.

“ASH SHALAATU KHAIRUM MINANNAUUM,

“ASH SHALAATU KHAIRUM MINANNAUUM.

“ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.   

“LAILAAHA ILLALLAAH.

HR. An-Nasai (II/2).

Keterangan

  • Hadits ini juga menunjukan tentang disyari’atkannya adzan awal dengan mengucap-kan “ASH SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUUM” dua kali, sesudah ucapan “HAYYA ‘ALAL FALAH”.

Kesimpulan

Disunahkan supaya melaksanakan adzan pada fajar yang pertama sebelum datang waktu Shubuh. Adzan yang pertama ini adalah saat-saat  untuk melaksanakan sahur bagi yang hendak shaum. Disyari’atkan pada adzan awal membaca tatswib (ASH SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUUM) setelah membaca "HAYYA ’ALAL FALAAH."

 

C a t a t a n

  1. Diriwayatkan, bahwa tatswib dibaca pada waktu adzan Shubuh berdasarkan hadits : Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, meriwayatkan dari Bilal, yang artinya, “Tidak ada tatswib pada shalat apapun kecuali pada shalat fajar (Shubuh).” Hadist ini dhaif dan munqathi’. (Subulus Salam I/230. Nailul Authar II/17).

      Abu Mahdzurah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan adzan kepadaku, dan apabila adzan pada waktu Shubuh, kamu mengucapkan "HAYYA 'ALAL FALAAH", kemudian mengucapkan, "ASH SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUM." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dalam sanad hadits ini terdapat Al-Harits bin 'Ubaid, dia dibicarakan tentang kedha'ifannya. (Nailul Authar II/17).

      Dari Sa’id bin Musayyab, ia meriwayatkan dari Bilal, bahwasannya, “Ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika adzan shalat fajar namun beliau masih tidur, maka Bilal mengucapkan” ASH SHALAATU KHAIRUM MINAN-NAUUM”, kemudian ditetapkan sebagai lafazh adzan pada waktu shubuh.” HR, Ahmad (IV/43), Ibnu Majah (716), Hadits ini adalah munqathi’ sanadnya karena Sa’id bin Musayyab tidak mendengar dari Bilal. (Ibnu MajahI/273), maka hadits ini tidak bisa dijadikan dalil.

b.   Ibnu Ruslan berkata, “Maka syari’at membaca tatswib adalah pada adzan awal (sebelum datang waktu shubuh), karena tatswib itu untuk membangunkan orang yang masih tidur. Adapun pada adzan yang kedua (ketika datang waktu shubuh) sesungguhnya adzan untuk memberitahukan tentang masuknya waktu shalat.” (Subulus Salam I/231). Ash-Shan’ani berkata, “Karena itu lafazh” ASH SHALAATU KHAIRUM MINANNAUUM”, bukanlah dari lafazh adzan yang di syari’atkan sebagai panggilan shalat dan pemberi-tahuan tentang masuknya waktu shalat, tetapi lafazh tersebut disyari’atkan untuk membangunkan orang yang tidur.” (Subulus Salam 1/231-232).

Adapun perkataan Bilal, yang artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadaku untuk membacanya tatswib pada waktu fajar dan melarangnya untuk membacanya pada waktu Isya,” yang diriwayatkan Ibnu Majah (715) dan perkataan Anas bin Malik yang artinya, “Merupakan sebagian dari sunnah apabila seorang muadzdzin melaksanakan adzan fajar ia mengucapkan, “HAYYA ’ALAL FALAAH” kemudian “ASH SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUUM”, yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (Subulus Salam I/231), masih belum jelas apakah yang dimaksud “waktu fajar” tersebut fajar yang pertama atau yang kedua (shubuh). Sebab disebutkan oleh  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa fajar itu ada dua, yaitu fajar yang diperbolehkan sahur dan dilarang shalat shubuh, dan fajar yang dilarang sahur dan diperbolehkan shalat Shubuh. (HR. Malik dan Al-Baihaqi). Kedua waktu tersebut disebut waktu fajar. Menurut kaidah ushul “apabila dalil itu belum jelas maksudnya (masih mengandung beberapa kemungkinan), maka tidak bisa dijadikan dalil.” Karena itu riwayat tersebut tidak menunjukan disyari’atkannya membaca tatswib pada Adzan Shubuh.