ADZAN

 

Adzan menurut bahasa ialah pemberitahuan.

Adzan menurut ‘urf syara’ ialah pemberitahuan dan panggilan untuk shalat dengan lafazh-lafazh yang tertentu. (Nailul Authar II/9, kamus Muhitul-muhit halaman 6).

  1. Keutamaan Adzan dan Muadzdzin

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى (رواه البخارى ومسلم والنسائى واللفظ للبخارى)

“Apabila adzan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut, sampai ia tidak mendengar adzan, jika adzan telah selesai, ia datang kembali, sehingga apabila qamat dikumandangkan, ia berpaling sampai selesai qamat. Kemudian ia datang kembali menggoda hati orang (yang shalat), ia berkata, “Ingatlah ini, ingatlah itu.” Padahal sebelumnya, seseorang tidak mengingat-ingatnya, sehingga ia tidak tahu berapa raka’at yang sudah dikerjakan.” HR. Al-Bukhari (I/114), Muslim (I/165), An-Nasai (II/19). Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

-          Lafazh ini dari Al-Bukhari.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ اْلأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا  عَلَيْهِمْ  لاَسْتَهَمُوا  عَلَيْهِ  وَلَوْ

يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ َلأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا (رواه البخارى ومسلم والنسائى واللفظ للبخارى)

“Seandainya manusia mengetahui (keutamaan dan pahala yang besar) yang terdapat pada adzan dan shaf yang pertama, kemudian tidak ada jalan lagi bagi mereka untuk mendapatkannya kecuali dengan diundi, tentulah akan mereka undi. Seandainya mereka mengetahui keutamaan shalat Dhuhur pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba, dan jika mereka mengetahui (keutamaan) shalat Isya dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatangi walaupun dengan merangkak.” HR. Al-Bukhari (I/115), Muslim (I/-186), An-Nasai (II/19-20). Dari Abu Hurairah.

-          Lafazh ini dari Al-Bukhari.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اْلإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ اللَّهُمَّ أَرْشِدِ اْلأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ (رواه ابوداود والترمذئ واللفظ لهما)

“Imam itu adalah penanggungjawab, sedangkan muadzdzin itu orang yang dipercaya, Ya Allah berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzin.” HR. Abu Dawud (517), At-Tirmidzi (207). Dari Abu Hurairah radhiallahhu ‘anhu.

-          Lafazh ini dari keduanya.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ وَالْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيُصَدِّقُهُ مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَطْبٍ وَيَابِسٍ وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ (رواه النسائى)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat memberi shalawat terhadap shaf pertama, sedang muadzin diampuni dosanya sepanjang suaranya, ucapannya dibenarkan oleh para pendengarnya, baik dari kalangan yang basah maupun yang kering (seluruh makhluk), dan ia akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang ikut shalat bersamanya.” HR. An-Nasai (II/2). Dari Barra’ bin Azib.

2.   Sejarah Disyari’atkannya Adzan

Adzan disyari’atkan pada tahun pertama Hijriyah. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya ia berkata, “Dahulu ketika kaum Muslimin datang ke Madinah, mereka ber-kumpul dan mengira-ngirakan waktu shalat, dan tidak ada orang yang menyerukannya. Pada suatu hari mereka membicarakan hal itu. Diantaranya ada yang mengatakan “pergunakanlah lonceng seperti loncengnya orang-orang Nashrani.” Ada pula yang menganjurkan, “lebih baik terompet seperti terompetnya orang Yahudi.” Maka Umar berkata, “Kenapa tidak disuruh saja untuk menyerukan shalat ?” Maka Rasululullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai Bilal, bangkitlah !” Maka dia menyerukan adzan untuk shalat.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari I/114,Muslim I/162, At-Tirmidzi 190), An-Nasai II/3.

Disebutkan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan musyawarah bersama para sahabatnya, tentang pemberitahuan masuknya waktu shalat, maka diantaranya mereka ada yang mengatakan dengan mengangkat bendera, ada pula yang mengusulkan dengan menyalakan api di tempat yang tinggi, ada pula yang menganjurkan dengan memukul lonceng seperti orang-orang Nashrani, ada pula yang mengusulkan untuk meniup terompet seperti orang-orang Yahudi, dan ada yang menganjurkan dengan panggilan. Beliau tidak menyetujui usul-usul tersebut kecuali yang terakhir. Di antara yang mengusulkan dengan panggilan adalah Abdullah bin Zaid. Pada suatu saat dia bermimpi dikelilingi oleh seorang laki-laki dengan mengajarkan lafazh-lafazh adzan kepadanya, maka ketika dia menceritakannya kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau membenarkan mimpi tersebut dan memerin-tahkan untuk mengajarkan kepada Bilal. Ketika Umar bin Khaththab mendengar adzan tersebut, ia mendatangi Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam seraya menceritakan bahwa dia bermimpi seperti yang dimimpikan oleh Abdullah bin Zaid. (Khulashah Nurul Yakin II/5).

3.   Lafadz Adzan

Dari Abdullah bin Zaid ia berkata :

لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلاَةِ طَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوْسًا فِي يَدِهِ فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ فَقُلْتُ نَدْعُوبِهِ إِلَى الصَّلاَةِ قَالَ أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ فَقُلْتُ لَهُ بَلَى قَالَ فَقَالَ تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ وَتَقُولُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلاَةَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ فَقَالَ إِنَّهَا لَرُأْيَا حَقٍّ إِنْ شَاءَ اللهُ فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ فَقُمْتُ مَعَ بِلاَلٍ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهِ عَلَيْهِ وَيُؤَذِّنُ بِهِ قَالَ فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ وَيَقُولُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ (رواه احمد وابوداود واللفظ لأبىداود)

“Ketika Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam menyuruh menyediakan lonceng yang akan dipukul untuk menghimpun orang-orang untuk shalat, saya tidur, saya bermimpi seorang laki-laki berjalan mengelilingi saya sambil membawa sebuah lonceng ditangannya, maka saya berkata kepadanya, “Hai hamba Allah, apakah Anda bersedia untuk menjual lonceng itu?” Ia menjawab, “Apa gunanya buat anda?” Saya menjawab, “Buat memanggil orang untuk shalat,”  ia berkata, “Maukah saya tunjukan dengan yang lebih baik dari itu?” Saya menjawab, “Tentu,” maka ia berkata, “Hendaklah kamu mengucapkan sebagai berikut :

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR,        

“ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH,

“ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR  RASUULULLAAH,

“ASYHADU ANNA MUHAMMADAR  RASUULULLAAH.

 “HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALASH SHALAAH.  

 “HAYYA  ‘ALAL FALAAH, HAYYA ‘ALAL FALAAH.

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Kemudian ia menjauh sedikit dari aku, lalu berkata : “Jika kamu hendak mengiqamah-kan shalat maka bacalah:

“ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

 “HAYYA ‘ALASH SHALAH.

 “HAYYA ‘ALAL FALAAH.

"QAD QAAMATISH SHALAAH, QAD QAAMATISH SHALAAH.

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Dan tatkala hari telah pagi, saya mendatangi Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, lalu menceritakan apa yang saya alami dalam mimpi tersebut, lalu beliau bersabda, “Insya Allah, sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar. Datangilah Bilal dan ajarkan-lah kepadanya apa yang kau dengar itu, supaya diserukannya, karena suaranya lebih baik dan lebih lantang dari pada suaramu. Maka saya mendatangi Bilal dan mengajar-kannya. Kemudian seruan itu terdengar oleh Umar bin Khaththab yang ada dirumahnya, maka ia keluar dengan mengulurkan kainnya, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah demi Zat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh saya telah bermimpi seperti apa yang ia mimpikan, “ kemudian   Rasulullah   shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segala puji hanya bagi Allah.” HR.Ahmad (IV/43), Abu Dawud (499).

-          Lafazh ini dari Abu Dawud

Dari Abu Mahdzurah ia berkata :

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلأَذَانَ تِسْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً وَاْلإِقَامَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً اْلأَذَانُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاْلإِقَامَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (رواه ابوداود والترمذى والنسائى وابن ماجه واللفظ لإبن ماجه)

 “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan adzan kepadaku sebanyak sembilan belas kalimat, dan qamat tujuh belas kalimat. Adapun lafadz adzan itu adalah:

“ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR,         

“ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH,

“ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH,

“ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH,

“ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH,

“ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

 “HAYYA ‘ALASH SHALAAH, HAYYA ‘ALASH SHALAAH,      

“HAYYA ‘ALAL FALAAH, HAYYA ‘ALAL FALAAH,

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR

 “LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Adapun lafazh qamat itu tujuh belas kalimat, yaitu :

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR,         

“ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH,

“ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH,

“ ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

 “HAYYA ‘ALASH SHALAAH, HAYYA ‘ALASH SHALAAH.      

“HAYYA ‘ALAL FALAAH, HAYYA ‘ALAL FALAAH.

“QAD QAAMATISH SHALAAH, QAD QAAMATISH SHALAAH,

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

 “LAA ILAAHA ILLALLAAH.

HR.Abu Dawud (502), At-Tirmidzi (192), An-Nasai (II/5), Ibnu Majah (709).

-          Lafazh ini dari Ibnu Majah.

Dari Abu Mahdzurah ia berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ هَذَا اْلأَذَانَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  أَشْهَدُ  أَنْ لاَ

إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ثُمَّ يَعُودُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ  إِلاَّ

اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ مَرَّتَيْنِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ مَرَّتَيْنِ زَادَ إِسْحَقُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Nabiyallah shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan adzan kepadanya sebagai berikut :

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.         

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH,

“ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH,

“ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

kemudian beliau mengulangi lagi :

 “ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH,

“ASYHADU ALLAA ILAAHA  ILLALLAAH.

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAAH,

 “ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAAH.

 “HAYYA ‘ALASH SHALAAH,   dua kali.

 “ HAYYA ‘ALAL FALAAH,   dua kali.

Ishaq menambahkan dengan kalimat :

 “ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR.

    “LAA ILAAHA ILLALLAAH.

HR. Muslim (I/162).

Keterangan

Lafazh adzan ada tiga macam : 

  • Pertama

Takbir pertama empat kali, sedang kalimat lainnya masing-masing dua kali, kalimat tauhid dibaca satu kali, maka jumlah kalimat tersebut seluruhnya lima belas.

  • Kedua

Takbir pertama empat kali, kalimat syahadat masing-masing dua kali, kemudian diulangi kembali, sedang kalimat yang lainnya masing-masing dua kali tanpa diulang, kalimat tauhid hanya dibaca satu kali, maka bilangan kalimat seluruhnya sembilan belas.

  • Ketiga

Takbir pertama dua kali, kalimat syahadat masing-masing dua kali kemudian diulang kembali, kalimat-kalimat yang lain dua kali, kalimat tauhid dibaca satu kali.

Kesimpulan

Dari ketiga lafazh adzan tersebut, Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar mengata-kan, “Yang benar, riwayat takbir empat kali itu lebih kuat, karena mengandung tamba-han dan riwayat itu bisa diterima, sebab tidak ada yang menafikannya, disamping itu riwayatnya shahih."  (Nailul Authar 16). 

_